Perjalanan Singapura II

25 Feb

Wah, niatnya mau nerusin cerita sepulang dari Singapura, ternyata baru seminggu setelahnya gue bisa ngetik! Pulang dari sana lelahnya minta ampun. Mana sehari setelah pulang besoknya langsung kembali beraktivitas distudio, kurang tidur belum terbayar, pulang malam pula. Walhasil hari keempat setelah pulang gue terserang masuk angin plus mual-mual mendadak kaya orang hamil! dua kali jackpot alias muntah, badan meriang dan anget, pusing kaya naik tornado, badan berat dan napsu makan ilang. Untung itu semua cuma berlangsung sehari! besoknya sih udah normal lagi berkat Promag dan Cimetedin.

Oke kita lanjutin cerita dari blog terakhir!
Sampai di Bandara Hang Nadim di Batam, kita nggak mengalami kesulitan mencari counter penjualan tiket ferry. Setelah turun dari pesawat dan masuk ke bagian Arrival disana kita sudah dapat langsung melihat beberapa counter jasa perjalanan seperti ferry, travel biro, pemesanan hotel, dan taksi. Sepi nya bandara di pagi hari waktu itu membuat kita leluasa dan tidak perlu mengantri. Selain Penguin, ada lagi ferry lain dengan nama armada Batam Fast. Terserah mau pilih yang mana. Ada juga tiket jurusan Johor Bahru, bikin ngiler juga kepingin nyoba tapi kayanya waktu gue gak cukup! Hehehe…next journey deh ya, Penguin?

Tiket Ferry untuk jurusan Singapura, PP seharga SGD 18 atau kira-kira Rp.240.000 pada hari gue berangkat (16 Februari 2008) dengan kurs antara Rp 6.480-Rp6.500 per dollar Singapura (sekarang berapa ya?). Setelah beli tiket PP yang berlaku kurang lebih 2 minggu itu, kita segera tancap di Batam Center dengan Taksi. Tarif taksi ke Batam Center yang hanya 15 menit itu sudah ditetapkan standar, yaitu Rp.70.000, jadi kalo dipikir pikir, berangkat beramai ramai bisa lebih hemat lagi.

Batam Center tidak besar, hanya bangunan ala Cilandak Mall bagian lobby utama dengan beberapa toko penjual souvenir, foodcourt, handphone, jam, dll. Turun dari taksi di lobby utama, kita masuk dan disebelah kiri kita di bawah tangga dekat sebuah coffeshop ada counter pembayaran fiskal perjalanan laut. Siapkan passport dan tiket ferry, dan kita harus membayar fiskal sebesar Rp.500.000.
Setelah membayar fiskal, mendingan segera check-in tiket ferry di counter Penguin yang berada di arah jam 1 setelah kita masuk pintu utama Batam Center. Disana kita akan diberi boarding pass, juga harus membayar Sea Port Tax sebesar SGD 7 atau kira-kira Rp 45.000 an lah.

Ruang keberangkatan ada di lantai atas, pintu masuknya dekat Oh La La Cafe. Pintu dibuka kurang lebih setengah jam sebelum ferry berangkat. Jadi, masih bisa ngupi-ngupi dulu!

Berangkat pukul 10.15 waktu Batam, kita menyeberangi laut cina selatan dengan ferry Penguin yang ternyata berukuran kecil. Gue pikir ferrynya bakal segede ferry jurusan Merak-Bakauheni yang nampung mobil dan truk segala.Tapi wajar sih, secara perjalanan Batam ke Singapura cuma satu jam lebih 15-20 menit.

Selama perjalanan gue ngerasa kaya Theodore Poussin, tokoh komik yang gue suka. Gara-gara ketinggalan kapal, dia terdampar di Singapura dan mengalami berbagai perjalanan laut dari pulau ke pulau di wilayah Nusantara. Setting nya tahun 1930-an, dengan gambar-gambar arsitektur kota kolonial di Singapura dan Makassar. Hm….pemandangan seperti itulah yang bakal gue cari di Chinatown, Tanjung Katong, atau tempat-tempat lain di Singapura nanti.

Selat Malaka yang kita seberangi saat itu cukup tenang. Nggak ada gelombang yang terlalu galak menghempas ferry kita. Gue duduk di bagian depan sebelah kiri, dekat jendela, sambil ngabisin chocolate pastry yang gue beli di Oh Lala Cafe. Seneng banget rasanya berada di laut, walaupun bukan laut besar seperti Selat Karimata atau Samudera apa gitu. Gue ngerasa kaya anak buah kapal Russel Crow di Man and Commander yang lagi nangkring di bagian depan kapal. Matahari bersinar hangat, kulit gue kecoklatan, burung camar terbang disekitar, “Kapteeen!!! Darataaaaaaaaaaaaaaaaaan!!!”

Setelah satu jam lebih perjalanan, gue bertemu dengan sebuah pulau indah yang rindang dengan pepohonan. Pulau kecil ini begitu hijau,entah karena pemerintahnya menjaga kehidupan flora di pulau itu sedemikian serius, tapi hanya dengan perbedaan waktu satu jam dari Batam, perbedaannya begitu terasa. Batam yang beberapa jam lalu gue singgahi rasanya terlihat gersang dengan pohon-pohon liar yang tak terurus. Stress dengan pembangunan propertinya yang masih berupa tiang-tiang pancang.

Ferry melambat, gue menikmati pemandangan hijau pulau kecil yang sebentar lagi kita singgahi ini. Beberapa kapal tanker asing nangkring menunggu izin untuk lewat. Ada juga kapal pesiar ukuran sedang yang juga tampaknya sedang transit. Ok, Theodore….perjalananmu dimulai dari sini…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: