1st Day in Singapore

26 Feb

Yeah!
Melanjutkan cerita sebelumnya, akhirnya ferry kita berlabuh di Harbourfront, pelabuhan laut Singapura yang berada di sebelah selatan pulau. Rasanya excited banget, karena setelah sekian lama nggak bisa kemana-mana karena urusan pekerjaan, rasa nggak enak hati sama partner2 kerja yang ga bisa ditinggalin, akhirnya GUE BISA KELUAR DARI PERAIRAN INDONESIA!!!

Setelah melewati antrian imigrasi checking yang bikin kaki rada pegel (didepan kita mengantri dengan panjaaang sekali rombongan turis dari Korea yang super berisik), gue dan kakak buru-buru mencari arah ke stasiun MRT-sistem transportasi cepat massa bawah tanah di Singapura. Stasiun yang dimaksud masih berada di gedung yang sama. Berbekal petunjuk arah dari sign system yang ada, melewati toko-toko dan cafe-cafe di dalam Harbourfront, rasanya nyaman sekali karena nggak perlu keluar dari gedung dan berpanas-panas ria. Seperti Changi, pangkalan transportasi umum di Singapura ini dirancang untuk mempermudah orang untuk mobile. Pelabuhan, pertokoan, dan stasiun MRT berada di gedung yang sama. Mengingatkan gue pada stasiun Barcelona Sans di Spanyol, waktu gue tiba dengan kereta trans Eropa dari Roma ke Barcelona tahun 1999.

Kita tiba di Singapura pukul 12.15 waktu Singapura, karena waktu di Singapura entah kenapa lebih cepat 1 jam dari WIB (apa alasannya, coba!). Sedikit panik, karena waktu kita booking penginapan via email sebelumnya, kita bilang bahwa kita bakal nyampe di penginapan sekitar jam 12. Menurut info dari Artson, booking via email kalo telat 1 jam bisa di cancel sepihak oleh pihak penginapan! Hiiiy!

Sampai di stasiun, kita bengong sebentar menatap mesin otomaat tiket MRT yang dikenal dengan GMT. Gimana belinya ya? Setelah basa-basi sebentar dengan cewek2 India yang tampaknya juga baru pertamakali sampe disana, mereka berbaik hati membantu kita.

Tiket MRT bisa dibeli dengan 3 cara. Cara pertama adalah cara standar, istilahnya “Standar Ticket”. Beli langsung on the spot bagi yang malas mikir atau cuma berada di Singapura untuk paling lama satu minggu. Di sana ada layar sentuh yang menunjukan pilihan tiket. Gue menyentuh pilihan “Standar Ticket” lalu memilih “One Way”. Kalau anda bermaksud ingin pulang balik ke jurusan yang sama, pilih “Two Ways”. Lalu si mesin akan meminta kita memilih tujuan stasiun MRT yang kita inginkan. Di layar sentuh sebelah kanan terlihat peta rute stasiun-stasiun MRT. Gue memilih tujuan gue, yaitu stasiun Boon Keng yang berada 100-150 meter dari penginapan gue.

Pada layar sentuh sebelah kiri akan muncul harga yang harus dibayar. Rata-rata perjalanan one way dengan MRT adalah SGD 1 sampai dengan SGD 1.60, tergantung jaraknya. Harga itu biasanya tertera di sign system yang ada diatas mesin GMT, jadi kita bisa tahu harga tiket untuk masing-masing stasiun tujuan. Tapi, harga tiket standar ini selalu lebih SGD 1, dengan kompensasi kelebihan 1 dollar ini bisa diambil kembali di mesin GMT mana saja (dalam hari yang sama) atau bisa dipakai untuk meneruskan perjalanan ke stasiun lain yang terdekat. Jadi, hari itu gue membayar SGD 2.20 untuk jurusan Boon Keng.

Bagi yang n’deso, sistem pembayaran tiket di mesin GMT bisa jadi bahan rumpian satu kampung. Soalnya, mesin itu bisa ‘ngisep’ duit kertas, ‘nelen’ duit recehan, ngasih kembalian, bahkan ‘ngelepehin’ duit kertas jelek! Jadi, siap-siap sabar untuk mencoba 2-3 kali memasukan uang kertas karena beberapa mesin GMT di Singapura rada manja. Tapi mesin ini juga bisa nyerah kalo kita palak. Masukin aja tiket kita yang masih berlebih SGD 1, dia pasti mau ngembaliin duit kita!

Dinner at Marina Bay
MRT sampai di stasiun Boon Keng. Setelah keluar dari stasiun bawah tanah itu dan naik kepermukaan bumi (taela), kita menemukan sebuah lapangan hijau gedeeee banget di sisi kompleks perumahan berupa gedung-gedung flat. Lokasi tersebut adalah perempatan Lavender Street yang panjang dan Serangoon Street yang nggak kalah panjaaang. Hotel kita berada tepat di perempatan tersebut, pas di hook.

The Hive Backpackers menyewa bagian hook dari bangunan jaman kolonial yang mirip gedung jaman belanda di perempatan kawasan Harmoni. Bedanya, gedung tua di Harmoni nggak terawat dan dekil, disini terawat dan terlihat ‘hidup’.
Untuk menuju Hotel, kita kudu jalan kaki dulu sepanjang lapangan rumput yang di klaim “State’s Land” alias “Tanah Negara” itu, lalu menyebrang di perempatan. Nyebrang jalan di Singapore nggak sengsara kaya di Jakarta. Pengemudi mobil di sini mendahulukan pedestrian.

Sampai di The Hive, ternyata kamar kita nggak di alihkan ke orang lain. Brian, cowok yang berada di resepsionis memberikan kita kunci kamar “Lily” yang berada di lantai dua.

Sedikit informasi tentang The Hive Backpackers nih. Gue dan kakak gue udah survey browsing penginapan2 low budget dan review-nya di internet dan membaca saran2 dari para bloggers. Beberapa tempat seperti Cozy Corner, The Crowds, Betel Box, NSS, atau Sleepy Sams, udah kita hubungi via email dan beberapa dari mereka udah bersedia mengkonfirmasi pesanan kamar untuk kita.

Tapi pilihan akhirnya jatuh pada tempat ini, dengan pertimbangan sebagai berikut:
1. Memiliki Private Room dengan area khusus backpackers cewek
2. Memiliki Dormitory room (kamar campur dengan 6-8 tempat tidur tingkat) khusus cewek kalo nggak kebagian Private Room
3. Memiliki Pantry (Microwave, piring dkk, kulkas) umum yang bisa dipake untuk masak
4. Memiliki Ruang Laundry yang bisa di pake sendiri
5. Kelihatan terpelihara dari taste interiornya (ngaruh buat gue!) dan kalo baca blog nya ternyata pengelolanya adalah anak2 muda backpackers juga. They know what backpackers need.
6. Kasurnya spring bed (walaupun bukan yang mahal, tapi enak buat tidur)
7. Dekat dengan MRT dan halte bis.
8. Masih dalam jalur rute MRT yang sama ke Harbourfront (kodenya NE warna ijo!) jadi kalo pulang bisa langsung tancap.
9. Ada AC nya
10. Bisa nitip barang di resepsionis dan gratis
11. Internet gratis di lobby (sekitar 6-8 komputer) dan kecepatan cukup oke.

Untuk 3 hari dua malam di Private Room tipe Twin Room dengan desain interior sederhana tapi unik berukuran kurang lebih 4×4 meter (lumayan toh?) dan tinggi ruangan kira-kira 3,5 meter (bangunan lama) gue bayar SGD 50. Sebenarnya tadi pengen ngambil dormitory room yang jauh lebih murah, tapi dipikir-pikir kayanya belom siap tidur nyampur dengan orang lain, walopun sesama cewek. Maklum, namanya juga cewek! kalo malem kudu ngerumpi dulu, ini itu dulu, dll. Yang paling penting, kalo di dormitory bareng cewek2 bule, gue kaga bisa bebas KEROKAN!

Kamar-kamar di area Private Room berada di lantai 2 tetapi terpisah dengan Lobby. Kita harus keluar lagi dari lobby, dan sekitar 5 meter ke kanan ada pintu masuk lagi yang dilengkapi dengan sistem pengaman otomatis card reader. Pintu hanya bisa dibuka oleh tamu yang sudah memegang kunci kamarnya yang dilengkapi dengan kartu. Setelah melewati pintu ini kita langsung bertemu dengan void tinggi dan tangga kayu berbentuk L, khas tangga di apartemen-apartemen Eropa abad 19 di film Amelie. Mungkin dulunya gedung ini juga apartemen. Gue yakin begitu karena desainnya. Menaiki tangga kayu yang unik itu, khayalan gue langsung melayang ke film-film festival ber setting abad 19 atau awal abad 20 di Hongkong atau Shanghai. Dan gue adalah wanita Cina urban yang baru pulang kerja sebagai tukang ketik di Cheng Ho Company-sebuah perusahaan kargo-
mengenakan sackdress berleher cheongsam dengan motif bunga peony dan tata rambut ala Audrey Hepburn, sepatu stiletto dan lipstik merah…halah!

Sampai diatas, kita bertemu lorong yang tidak gelap (karena ada jendela menghadap ke void belakang yang terbuka cukup luas) dan terbagi ke dua arah. Arah ke kiri menuju area Private Rooms para cowok, dan arah ke kanan menuju private rooms para Cewek. Pada masing-masing area kurang lebih ada 5 kamar. Gue yakin dulunya tempat ini terdiri dari 2 unit apartemen atau kantor saja. Tapi karena sekarang jadi penginapan, masing-masing lahan di manfaatkan untuk mendapatkan 5 kamar. Well, mungkin kalo anda ke sana, bisa menebak-nebak sendiri.

Area Cowok di cat dengan warna biru, sedangkan area cewek dengan warna kuning mediterannian. Nama-nama kamarnya pun diambil dari nama bunga. Kamar gue bernama Lily, berdinding warna merah cerah dan berjendela menghadap ke void belakang yang cukup lega.
Tampaknya semua kamar di sini memiliki jendela dan mendapat cukup cahaya. Ini penting untuk kenyamanan psikologis, apalagi backpackers butuh istirahat setelah keluyuran. Kamar mandi di area cewek ini ada 2, dan keduanya menghadap ke jalan dengan jendela khas Eropa jaman dulu yang tinggi. Tapi jangan kuatir, jendela ini dilapisi stiker doff yang melindungi kita dari kemungkinan terekspos dari luar ! :

Setelah mandi dan ganti baju, kita keluar lagi menuju Raffles Place untuk bertemu dan makan malam dengan seorang kawan yang kebetulan bekerja di Singapura.

Raffles Place adalah daerah di selatan Singapura yang paling cantik, paling rapi, paling elegan. Dilewati oleh Singapore River, tempat ini adalah downtown area dimana gedung-gedung pemerintahan di jaman Sir Stamford Raffles berdiri, dan sampai kini menjadi area perkantoran dengan gedung-gedung tinggi berarsitektur modern. Berdekatan dengan Boat Quay, Clarke Quay, Marina Bay, City Hall dan Padang serta museum-museum nasional, serta pemandangan tepi sungai nya yang cantik dengan pohon-pohonnya yang besar dan rindang, siapa pun yang berhenti di stasiun Raffles Place, Clarke Quay atau stasiun City Hall pasti akan menuju kesini pada saat menjelang matahari terbenam.

Prima, temen lama kakak gue itu menyambut kita di Republic Plaza dan langsung membawa kita berjalan menuju tepi sungai. Menyusuri Battery Road (Jalan Batere??!) sedikit, gue mulai berbinar-binar karena dideket situ ada gedung bekas kantor pos peninggalan inggris yang cuakep banget dan sekarang jadi Raffles Hotel. Itu gedung cakepnya manatahan bo….kaya gedung-gedung ala victorian yang gue liat di London dulu taon 1995. Makin berbinar lagi waktu jalan Batere tadi berakhir di tepi sungai, yang…..CAKEEEEEEEEEEEEEEEEEEEP BANGET!!!!

I couldn’t believe my eyes there! I was in Asia, South East Asia, a place that is not different geographically and climately like Jakarta, but the atmosphere was totally like in Europe!!!

Sungai Singapura lebar sekali, hanya sedikit lebih lebar dari sungai ciliwung yang melintasi Harmoni sampai Pasar Baru. Tapi sungai itu kebiruan, dalam, bertanggul tinggi dan rapi, di lindungi dengan pagar pembatas yang kokoh, dan di sisi sungai terdapat pedestrian yang lebaaaaar banget!!! Di pedestrian itu ada pohon-pohon besar yang rindang dan di hinggapi burung-burung….gagak! Sumpah, terakhir gue lihat gagak besar di sebuah kota yang ada manusianya cuma di London, sekitar Tower of London.

Tempat itu benar-benar mengingatkan gue pada Harmoni dan Pasar Baru di Jakarta. They used to be a similar urban design. Yang satu dibawah kolonial Belanda, yang satu dibawah Inggris. Kenapa yang dibawa Inggris bisa mempertahankan desain tata kotanya sedang yang lain tidak ya?

Memandang ke seantero tempat itu, disebelah barat kita dapat melihat deretan arcade ruko jaman dulu yang kini fungsinya semakin di maksimalkan menjadi deretan kafe dan restoran yang sangat pedestrian friendly, namanya Boat Quay. Disana mobil dilarang masuk, dan kita dapat duduk-duduk di luar restoran tepi sungai. Disebrang sungai, sebelah utara kita, berdiri megah Asian Civilization Museum di jalan Empress. Kearah timur, kita bisa menuju Padang, atau padang rumput luas menghadap ke sungai yang saat itu sedang berlangsung bazaar Tahun Baru Cina. Jika berjalan lebih jauh lagi ke timur, lewat pedestrian tepi sungai yang tentu aja nyaman, kita akan tiba di Esplanade, Art Center terkenal Singapura yang terletak di tepi teluk Marina Bay (muara nya Singapore River!).

Sambil menjilati eskrim potong ‘uncle-uncle’ (sebutan Singaporean untuk ‘abang-abang’) yang gue beli di pinggir sungai seharga SGD 1, hati gue berdebar ketika kita mendekati gedung ber atap duren itu. Esplanade!!! Exhibition!!! Music!!! Visual Art!!! Theatre!!!

Dan benar saja. Gedung ini memang benar-benar Art Center! Ada atau tidak ada pertunjukan, tempat ini tetap hidup. Di lobby utama selalu ada sesuatu untuk dipamerkan dan berfungsi sebagai elemen estetis interior. Saat gue masuk, ada karya instalasi yang sedang di pamerkan disitu. Damn. someday karya gue ada disituh!!!

Lantai dasar Esplanade hidup dengan adanya toko-toko yang berhubungan dengan seni. Toko alat musik (wow ada biola dengan desain unik!), cafe, semacam distro, dll. Tiap lantai tampaknya menawarkan berbagai acara yang menarik. Ada ruang musik, lounge, teater, visual art….awrhkk! Serunya, basement Esplanade ini tembus sampai stasiun MRT City Hall, dan di sepanjang lorong bawah tanah yang hidup bak kota ini, selain bertemu pertokoan atau cafe, kita selalu menemukan exhibition2 kecil berkesan undergound (emang bener2 undergound sihh!!!) yang berfungsi menjadi elemen estetis di sepanjang lorong yang panjaaang itu! Ada etalase-etalase kaca di sepanjang dinding yang diisi dengan karya-karya bergaya urban visual culture disitu, yang katanya tiap beberapa minggu di ganti.

Sore itu gue diajak berjalan tembus ke teras belakang Esplanade, menuju pedestrian yang masih di tepi Marina Bay juga, tapi ditutup untuk jadi tempat makan outdoor. Gang kecil yang adem itu tembus ke Raffles Avenue. Sepanjang gang itu makanan berjejer seperti foodcourt outdoor. Ada macem-macem deh pokoknya! Prima mentraktir kita Makansutra, ‘warung’ makan yang pernah di review sama Bondan Winarno di Wisata Kuliner. Menu nya: Kerang goreng tepung, Sate ayam melayu, Ikan Pari Bakar, dan tumis kangkung! Minumnya of course: Teh Tarik. Teh susu dingin seperti Thai Tea.

Ada cerita yang pengen gue selipin disini. Waktu berjalan keluar pintu belakang Esplanade, gue melihat pojok gedung seperti sebuah plaza atau teras kecil dengan bangku-bangku untuk duduk2 minum kopi. Pojok itu begitu mirip dengan visual yang gue saksikan waktu bermimpi 3 tahun yang lalu!!! Memang dalam mimpi itu gue sangat berharap bisa berada di tempat itu, karena waktu itu gue lagi kelewat sibuk, bokek dan kepingin travelling lagi. Gue emang bisa gila kalo dalam 2 tahun nggak ngalamin travelling. Travelling means inspiration kalo buat gue! Tanpa inspiration gue ga semangat idup bo.

Oke back to Makansutra. Berhubung gue lagi laper akibat perjalanan yang lumayan jauh, makan di ruang terbuka yang cozy kaya gitu bikin selera makan gue bangkit. Mata gue masih berbinar-binar gak percaya akibat menyaksikan pemandangan ala London sekitar Westminster Abbey di Raffles Place tadi! Akhirnya gue keluar dari Jakarta!!! whew, langkah kaki gue rasanya begitu enteng, kaya mau terbang! Dan suasana makan outdoor yang bebas asap knalpot plus lingkungan bersih di Marina Bay ini really convinces me that I am totally OUT FROM JAKARTA!!!

Surprise surprise, ketika kita sampai, di Raffles Avenue sedang ada acara parade Tahun Baru. Sejumlah kursi panggung ala nonton rally mobil Monaco di pasang di sepanjang jalan, menghadap ke kita yang lagi makan. Orang-orang ada yang berdiri disepanjang jalan, menonton persiapan parade atau sekedar menertawakan MC yang sibuk ngebanyol menghangatkan suasana sore itu.

Lalu lewatlah satu barisan mobil balap antik, orang-orang berusaha melihat dari dekat, dan gue salah satu orang norak yang naik-naik ke kursi untuk mendapatkan fotonya! hihi!
Tak lama kemudian lewatlah kendaraan hias dengan kepala singa warna silver yang megah, disana berdiri…Presiden Singapura beserta petinggi-petinggi lainnya! Wah, beruntung gue bisa berfoto dengan latar belakang mereka

Man, gue berasa lagi makan di Amsterdam, Munchen, London, or Paris! Udah lama gue nggak ngerasain gembiranya menikmati udara terbuka kota sambil nonton keramaian tanpa bau knalpot dan bisingnya musik house-dangdut ala pe-er-je…hehehehe!

(to be continued)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: