2nd Day in Singapore : Mengamati Urban Planning

2 Mar

Hah! Baru sekarang gue bisa ngetik..sorry ya, kemaren2 gue gak mood banget. Dilanda kebosenan akut!

Okay lets continue the trip. Sehabis makan di Marina Bay dan menikmati ikan pari bakar, kita kembali pulang ke hotel. Perjalanan pulang ke Lavender Street itu juga masih membuat mata gue bling-bling. Dari dalam Esplanade, ada jalur bawah tanah yang menghubungkan kita dengan stasiun City Hall yang jaraknya sebenernya lumayan jauh, tapi nggak terasa.
Nah, disini gue dibikin takjub lagi. Kita turun ke bawah dengan eskalator, 3 lantai ke bawah tanah, dan menemukan interior seperti layaknya public transportation space di permukaan tanah, luas sekali dan penuh dengan manusia yang lalu lalang dengan kesibukan tujuannya sendiri sendiri. Lorong nya luas, dengan beberapa cabang ke beberapa direction yang berbeda, penuh dengan pertokoan dan cafe seperti yang kita temukan di permukaan bumi. Space bawah tanah itu udah seperti ‘kota’. Ada toko-toko, butik, cafe, toilet, pokoknya public space yang serba ada. Gue kagum dengan pembangunan urban nya yang maksimal.
Memanfaatkan lahan sempit (secara negara ini kecil sekalee) dengan cara yang smart dan perencanaan matang. Nggak kerasa kalo 10-15 meter di atas kita ada lapangan Padang, jalan raya Empress Street atau mungkin Museum of Asian Civilization!

Hal seperti ini pernah gue baca di Majalah Bobo, kira-kira 25 tahun yang lalu. Saat itu gue cuma melongo, membaca artikel itu sambil membayangkan “gimana caranya bisa ada kota dibawah tanah? apa nggak serem tinggal di bawah tanah? Udaranya dari mana?” Dan ternyata tahun ini gue benar-benar melihatnya. Hanya saja, perencanaan “tempat tinggal bawah tanah” yang ada di artikel itu tampaknya belum terlaksana hingga kini. Bisa jadi fenomina sosial baru, bo!

(Lanjutan)
Perjalanan di sepanjang “underground city” tadi menuju Stasiun Bawah Tanah MRT City Hall, rasanya seperti berjalan di mall, stasiun, dan yang paling seru: gallery, sekaligus!
Disini gue mau cerita khusus, soal “public gallery” ini.

Denger-denger, Singapura kini mengubah citra negaranya dari tujuan wisata “Shop ‘Till You Drop” ke “Art and Culture” destination. Secara latar belakang gue adalah senirupa, dan pengaruh “urban art” yang kini kian ngetrend di Jakarta banyak sekali berasal dari sana (selain Jepang, of course), maka salah satu tujuan gue ke Singapore adalah mengamati aktivitas senirupa kontemporer disana.

Sejak dari Esplanade yang tiap lantai nya selalu punya kegiatan (dari mulai teater, Konser musik, pameran visual art sampe instalasi di lobby depan), sampai turun ke bawah-bawah tanah, gue selalu menemukan “pameran” kecil, karya entah poster, kolase, intaglio (cetak tinggi – wood cut – etsa) sampe instalasi kontemporer, di sepanjang dinding! Yang paling berkesan adalah instalasi stiker-stiker kecil2 yang udah di print dengan teknik stensil dan cetak entah teknik apa, banyak sekali di tempel dari belakang sebuah kaca yang besaaar memanjang. Bahkan sampe gue tiba di ujung pintu keluar stasiun pun, box tegangan listrik atau kotak pos umum penuh digambarin. Walau gayanya urban, tapi maksimal dan nggak ngasal kaya grafitti frustasi kaya “boedot coeroet” dll.

Gue sampe mikir. Wah, kalo Singapore niat mengembangkan creative industry nya dengan cara membawa local culture nya keluar (walopun culture yang dia punya adalah hasil multikultural!), bisa-bisa beberapa tahun lagi gue liat pengamen India dengan tabla-nya lagi menghibur orang lewat di stasiun MRT. Seperti yang pernah gue liat di Eropa atau Australia. Tapi entahlah, apa niat seperti itu sejalan dengan policy yang berlaku di sana.

Sampai di City Hall, stasiun pertemuan atau intersection, kita naik MRT sebentar ke Orchard. Disana kita berpisah dengan Prima yang harus mengejar bis-nya pulang ke daerah utara. Gue dan kakak gue menikmati pedestrian Orchard Road yang lebar, sambil sedikit ‘napak tilas’ kunjungan pertama kita ke Singapore di tahun 1997. Saat itu kita mengunjungi Singapore dengan nyokap dan seorang teman nyokap, yang sudah almarhumah, Tante Myrna. Kunjungan saat itu tidak terlalu berkesan, karena sama ortu jadi rada nggak bebas keluyuran. Selain itu waktu itu Singapore masih lekat dengan citranya “Shop ‘Till You Drop”, jadi ketika sampai di Singapura (perjalanan dengan pesawat, jadi turun di Changi) kita dijemput kenalan nyokap dan diantar ke Orchard – standar tujuan waktu itu. Orchard yang sangat modern dan penuh Mall tidak terlalu berkesan buat gue, karena mall adalah hal yang sering gue temui di Jakarta. Tapi napak tilas selanjutnya cukup membuat kita senyum-senyum, karena jadi teringat waktu itu kita berjalan kaki sepanjang Orchard Road dari Hotel menyusuri Lucky Plaza, Takashimaya (yang sampe sekarang ga berubah tuh!), Isetan, sampe Bank of China Trust dan bangunan yang mirip klenteng.

Hotel kita dulu, Crown Prince, sekarang udah berubah nama jadi Royal Prince atau apaa gitu. Letaknya di hook perempatan, deket Takashimaya. Masih sama, dengan lift nya yang transparan dan bisa ngeliat keluar.

Waktu itu kita nggak keluyuran ke Bugis, ChinaTown, Arab Street, Brass Basah, Geylang maupun Raffles Place. Kunjungan yang juga 3 hari 2 malam itu lebih banyak kita habiskan keluyuran Orchard (maklum emak-emak) walopun nggak belanja, istirahat di hotel, dan paling-paling ikutan tur ke Sentosa Island dan Haw Par Villa. Sama sekali nggak mengesankan, karena dua tempat itu rasanya “artificial” alias bukan asli. Gue ucapkan selamat buat Singapura yang akhirnya “sadar juga”, bahwa seminim apapun potensi kultur dan historis mereka, itu adalah ide paling baik untuk menambah aset ekonomi mereka. Sumpah bodo banget deh Jakarta yang bangun sana-sini secara sporadis, ngerubuhin bangunan2 historikal yang tata kotanya diatur oleh belanda. Padahal wilayah historikal kaya Jatinegara yang padat, Pasar Baru, Harmoni, Senen, Manggarai, Matraman, Semper dan Tugu, Cilincing, atau wilayah-wilayah lain yang sehari hari di cap “brengsek”, memiliki nilai heritage yang tinggi dan kalo di kelola dengan cerdas bisa memberikan economy value untuk masyarakat sekitarnya.

Malam pertama di Singapore itu gue liat-liat Orchard sebentar, mampir di Singapore Visitor Center yang tulisannya gede banget untuk ngambil brosur2 dan city map yang kita perlukan untuk “rock n roll” besok paginya.

Nah, cerita soal perjalanan di hari ke-2 dan potensi lokal menjadi potensi ekonomi itu gue lanjutin ntar yah. Gue ngantuk…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: