Workshop Penulisan Seni Rupa di Ruang Rupa

19 Jun

Kaya ketiban duren. Lagi berharap-harap cemas menunggu panggilan wawancara beasiswa S2 (yang ga tau keterima apa nggak), tiba-tiba dapet kesempatan belajar gratis.

Hari Rabu minggu lalu, gue lagi menghadiri pembukaan pameran Ruang-ruang Dalam Kepala yang diselenggarain Akademi Samali, di Japan Foundation. Iseng-iseng mandangin majalah dinding nya, gue ngeliat ada workshop Manajemen Seni oleh Kelolaarts. Uh, sedihnya, udah lewat. Tapi disebelah poster itu ada poster kecil “Workshop Penulisan Senirupa” gratis, oleh Ruang Rupa, atau biasa disingkat RuRu.

Nggak pernah kepikiran sekalipun oleh gua untuk melirik bidang penulisan, apalagi Kritik Seni Rupa. Se hot-hot nya gue nulis, itupun sekedar curhat atau babbling nggak jelas di blog ini (hehe). Buat gua, bidang yang menarik tetep Ekonomi Budaya, that’s why gue pengen belajar Manajemen Seni dan Budaya.

Tapi temen gua yang ada disamping gue saat itu, tiba-tiba nyuruh gue ikut. Waks! syaratnya, sebelum penutupan pendaftaran (which was 2 hari lagi setelah itu), gue harus ngirim contoh tulisan minimal 3. Busyet! “Nggak mau ah! David aja!” kata gua, merekomendasikan nama temen kita yang juga sama2 pengelola komunitas. Mana peduli sih gue ama dunia tulis2 gitu, karena kesannya pedagogik banget ..hihi! apalagi….latar belakang gue tentang sejarah seni, kajian senirupa dll kan NOL besar. Latar belakang filsafat…makk….boro boro! Gua tau sih, Derrida, Faucault, Plato dll….gue tau mereka BEKEN, tapi gua kan ga tau apa aja yang pernah mereka tulis. Semiotika, ikon-ikon, kode-kode……uuuuh manatahaaaannn!!!

Temen gue ini maksa gue ikut, nyuruh gue segera nulis. Nulis apaan? Gua nggak pernah peduli ama lukisan2 yang gue tonton kalo maen ke pembukaan2 pameran, walopun gue sering keluyuran ikut dia ke Edwin, 678, Soemardja, sampe Philo Artspace, CG artspace,Elcanna, Rumah Jawa, sampe galeri Millenium di D’Best Fatmawati sana. Nama-nama kritikus seni atau kurator pun gue tau cuma dari cerita-cerita yang gue denger dari temen2 pelukis kaya Jim Supangkat, Enin S, Agung Hujatnikajenong, Adi Wicaksono (oh kalo yang ini sering ketemu di pembukaan2 – dia termasuk yang pernah nulis untuk pameran temen gue) atau Farah Wardani.

Tapi ga tau kenapa gue turutin aja desakan temen gue itu. Jadilah gue menulis kilat. Tulisan pertama, untung, gue udah punya proposal beasiswa S2 yang tinggal gue terjemahin ke bahasa Indonesia :p. Terus, ada hasil bacaan tentang gambar dan peradaban. Yang ketiga gue kepikiran tentang ‘clash’ yang suka hadir antara karya seni dan masyarakat awam yang nggak ngerti seni. jebret-jebret, terus gue email deh.

Besoknya, gua lagi makan ikan gurame di pinggir jalan puncak, abis survey tempat untuk Klinik Drawing. Terus Ditelpon ama Ruang Rupa. Horee! Gue lolos seleksi!
:p

Sedikit ge-er dan nggak percaya, sepulang dari puncak itu sorenya gue dateng ke Pembukaan Pameran Irwan Ahmett di Ruang Rupa. Hehehe. Senangnya. Ketemu pengurus2 Ruang-Rupa yang seru-seru.

(to be continued)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: