Sepotong hasrat dalam tubuh

3 Okt

Hasrat yang menggebu gebu itu bernama roh. Dia diciptakan untuk mencapai target-target di atas dunia. Dia adalah potensi untuk membuat berbagai infrastruktur di dunia ini saling berinterelasi. Dia adalah infrastruktur itu sendiri.

Tiap manusia membawa tugas sebagai infrastruktur itu. Lewat keinginan2nya, cita-cita nya, tugas itu diperjuangkannya dengan menumpang kendaraan bernama tubuh. Kita kadang tidak tahu berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mencapai target2 itu. Karena itulah, di titik ini roh bergantung pada tubuh. Tubuh yang sehat mendukung perjalanan perjuangan sang roh. Tubuh yang tidak cepat rusak, tahan lebih lama, adalah kendaraan terbaik bagi roh-roh dengan tujuan-tujuan terbaik yang barangkali memerlukan waktu lebih lama, atau performa kendaraan yang lebih tahan banting selama menempuh perjalanan.

Karena itulah saya bingung dengan teman-teman yang berpotensi dan memiliki cita-cita besar, tapi tak perduli dengan kesehatan tubuhnya. Seorang teman menghabiskan nyaris setengah bungkus rokok Marlboro dalam waktu 4-5 jam kami nongkrong di sebuah mall saat reuni. Ia adalah orang dengan ide-ide besar, tujuan-tujuan mulia, dan merupakan spesies yang seharusnya mengkloning dirinya menjadi lebih banyak diatas bumi. Tapi waktu saya tanya kenapa dia tidak berhenti saja merokok, dia menjawab “sulit. saya udah kecanduan”. Waktu saya ingatkan bahaya nikotin untuk kesehatan jantungnya di kemudian hari, dia cuma tertawa, ” itu kan NANTI…berarti masih lama kan?”

Saya cuma geleng-geleng kepala mendengar jawabannya. Tapi itu bukan satu satunya jawaban yang pernah saya dengar. Pecandu rokok rata-rata menjawab, mereka menyerah pada imperialisme nikotin atas tubuhnya. Paradoks, karena mereka sebenarnya adalah orang2 yang tidak menyerah pada situasi eksternal yang bertentangan dengan ideologi mereka.

Mendekati dekade ketiga usia saya, ingatan akan fakta bahwa metabolisme manusia dan performa sel tubuh semakin menurun, membuat saya makin berhati-hati dengan apa yang saya makan. Saya masih butuh kapiler-kapiler darah ini. Saya masih butuh fungsi hati ini, butuh fungsi pankreas, fungsi ginjal, paru paru dan jantung ini. Perjalanan saya masih panjang, dan saya tidak percaya pada kendaraan cangkokan. Saya tidak ingin kendaraan ini mogok ketika perjalanan saya belum selesai, belum sempat memberikan manfaat untuk orang banyak, hanya gara2 saya tidak merawatnya dengan baik.

Makanya ‘Mba….berenti deh ngerokok!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: