Nonton Laskar Pelangi: Blog 2008 yang telat di publish

8 Okt

Susah ngajak teman nonton Laskar Pelangi. Alasannya, “ah..gue ga tertarik!” “Ah…ga ada apa-apanya!” “Ah…sok-sok ber-tetralogi!” dan lain lain. Padahal kayanya mereka belum pernah baca sama sekali tu buku.

Jujur aja, walopun gue juga suka Umberto Eco, Paulo Coehlo, Dewi Lestari, Ayu Utami, pernah juga Djenar (tapi nggak lagi sih), dan pengagum berat “filsuf-gak-nyadar” Putu Wijaya, gue ngacungin jempol dan takzim dengan keempat buku ini.

Ini bukan karya yang bisa di ukur dengan konteks yang sama dengan pengarang2 diatas. Ini bukan buku filosofis dengan metafora-metafora tinggi yang penuh semiotika serta istilah-istilah yang hanya Tuhan dan Bambang Sugiharto dan Foucault saja yang tahu. Ini karya realis! itu saja.

Dan dalam seni rupa pun, walaupun generasi psychadelic menganggap style realis itu kuno, karya realis tetap mendapat tempat dan penghormatan yang sama. Masing-masing mempunyai struktur pembentuk yang berbeda. It’s about being objective.

Mungkin, beberapa kekurangan seperti strategi marketing yang masih konvensional (ngikutin gaya marketing yang sebelumnya) seperti terlalu cepat bikin ini bikin itu, membedakan dia dengan pengarang lain yang “lebih eksklusif” dalam memasarkan karya idealismenya.

BUT I DON’T GIVE A F*CK. Just….READ THE MESSAGE IN THE BOOKS! Selebihnya, I don’t care.

Buku ini tidak membosankan untuk dibaca. Berat persoalan didalamnya (masalah marjinalitas, identitas budaya, peran intangible heritage, pilihan hidup, psikologi, posisi Tuhan dalam realita, dll) tapi disajikan dengan ringan seperti novel petualangan Lima Sekawan. Tidak menyulitkan diri dalam pertanyaan-pertanyaan orang bimbang seperti “apakah kebenaran itu” dan provokasi-provokasi dunia abu-abu lainnya yang tak kunjung berwujud.

Membaca buku ini, logika dan rasionalitas gue segar kembali. Tapi, bukan rasionalitas yang di tawarkan Paulo Coehlo dalam The Devil and Miss Prym. Disini, anehnya, rasionalitas gue mengajak serta Tuhan untuk berkongsi, sosok yang sering di “pertanyakan” dalam filsafat🙂

Pluralisme yang ditawarkan Andrea Hirata dalam cerita2 nya juga lebih menarik daripada Aayat-Ayat Cintronk…

Apakah saya jadi subjektif? Hehehe mungkin aja sih. Tapi yang pasti, gue udah bosen dengan buku-buku yang hanya berada di awang-awang. Maybe it’s just my time to grab some Realism.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: