Pameran Pendidikan Tinggi Eropa is Coming to Town!!!

30 Okt

I mean, it’s coming to the city. Jadi, tunggu apa lagi? Saya nggak sabar ingin segera mencari info sebanyak-banyaknya tentang bidang studi yang saya tuju. Jujur aja ya, ternyata yang namanya ilmu itu makin hari makin banyak, dan makin besar tantangan kita untuk jeli memprediksi apa yg mau kita lakukan di masa depan. Kalau saya buka website universitas-universitas di Eropa, bidang studi kajian yang menyangkut masalah-masalah etika dan moralitas makin banyak pilihan. Artinya, sektor pendidikan di Eropa aja udah sadar akan pentingnya etika, sampe dibuka jurusannya segala. What happend to Indonesia? Gue yakin dalam 2-3 tahun mendatang kesadaran berpikiran terbuka dan cross-discipline yang lebih intelek akan segera terjadi di generasi muda. Mudah-mudahan sih begitu!

Sejak tengah tahun yang lalu, saya mencoba merumuskan minat dan tujuan saya kedalam satu istilah bidang studi. Susahnyaaa minta ampun. Pertama, saya kira bidang studi yang saya cari itu adalah Art and Cultural Management. Secara harfiah, tujuan saya memang mendekati: manajemen budaya. Tapi ternyata, bidang studi ini diartikan terlalu pragmatis oleh Universitas2 yang (saya pikir) bagus. New York University memfokuskan ACMP kearah industri kreatif. Pratt memfokuskan nya kearah pengelolaan organisasi budaya. Lasalle College di Singapur malah lebih dagang lagi: lulus-lulus jadi head hunter! Padahal saya lebih tertarik pada pengelolaan sumber daya kultural tradisional (baik yang tangible sampai yang intangible) yang nantinya akan dikaitkan kepada national income. Ada potensi visual culture, local wisdom, literatur, dll yang menyimpan bermacam konstruksi hebat yang tidak diketahui manusia jaman sekarang. Saya tertarik untuk meneliti dampak transformasi budaya yang melupakan proses transisi (seperti contohnya RUU APP yang heboh itu….bener ga sih udah direvisi? Mana tuh sosialisasinya?) dan sebagainya.

Di Pendidikan Tinggi Eropa, saya menemukan berbagai “harta karun” yang menarik. Disana ada Global Studies (masih ada temenan sama Cultural Studies dan Hubungan Internasional) di Swedia (Lund University dan Stockholm University), Cultural Education and Interpretation di Inggris (Newcastle University), berbagai studi detail tentang macam-macam kebudayaan di Belanda (Leiden University), dan World Heritage Studies di Irlandia dan Jerman.

Yang terakhir itu, World Heritage Studies di Jerman, menarik perhatian saya. Pertama, ternyata pendidikan di Jerman itu murah. Untuk orang lokal malah gratis. Biaya studi S2 satu semester antara 500-700 euro. Living cost di kota kecil Jerman antara 450-700 euro, itupun sudah dibuktikan oleh temen saya yang 2 tahun sekolah disana. Dia cuma ngeluarin 400 an euro sebulan. Plus, pemerintah Jerman mengizinkan international student untuk bekerja.
Kedua, bidang studi ini didukung oleh Unesco. Nice channel for career or internship. Ketiga, ternyata bidang studi ini (setelah saya tanyakan langsung ke universitasnya), hanya sekitar 211 Euro per semester!

Well, manusia bisa berencana tapi Tuhan yang berkehendak. Jadi, yang bisa saya lakukan adalah “keep on swimming!” apa yang sedang saya lakukan. Tekuni penulisan akademik dalam bahasa Inggris, perlancar bahasa Perancis dan Jerman, buka mata dan telinga untuk lokakarya apa aja yang berhubungan dengan ilmu tersebut, keep volunteering di bidang kebudayaan, keep reading books, and most of all…………KEEP FREELANCING! he he.

Yang terakhir: jangan lupa dateng ke acara diatas, European Higher Education Fair (EHEF)di Balai Kartini, 1&2 November 2008. All rite folks! See you there! Yeah!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: