Its about Motivation Letter

14 Des

Winning a scholarship! Hah ini dia nih isu idup gue akhir akhir ini. Ternyata persiapannya cukup panjang yah. Banyak hal yang bikin gue jadi merenungi diri sendiri, terutama apa aja pencapaian idup yang udah gue lewati.

Secara teknis, syarat-syarat untuk melamar beasiswa memang bisa dijelaskan, dan bisa di persiapkan sejak dini (buat adik2 yang masih SMU dan kuliah…ayo siap siap! manfaatkan ortu yang masih produktif dan masih bisa biayai kita pendidikan. Yang ortunya udah pensiun jangan menyerah, cari penghasilan tambahan untuk kursus tambahan). Seperti:

– TOEFL/IELTS internasional(!) + Academic Writing
– Kursus bahasa-bahasa lain seperti Perancis, Belanda, Jerman dll tergantung tujuan
– Kursus/workshop/pelatihan apa pun yang mendukung studi anda
Setelah itu, do your best while studying seperti:
– Raih GPA (Index Prestasi) sebaik baiknya, minimal 3.
– Ikuti pelatihan, seminar, diskusi, dan perluas wawasan di bidang studi anda
– Miliki hubungan baik dengan para dosen
– Pernah ikut dalam kegiatan volunteer / community development adalah lebih baik!

Tapi ketika menulis motivation letter, banyak yang menemui kesulitan “mau nulis apa”. Nggak bisa bohong, kejujuran dan prestasi kita selama inilah yang akan menentukan berbobot atau tidaknya motivation letter kita. Dari motivation letter itu akan ketahuan sejauh mana kita memahami persoalan realita yang berhubungan dengan bidang studi tujuan kita. Karena gue sering liat contoh2 motivation letter temen2 yang berusaha keliatan keren, ikut2an orang sebelumnya, tapi gagal karena nggak mencerminkan tujuan studinya. Hiiiy aku tak mau tak tak tak tak tak sudii seperti ituuu (rhoma irama banget yak).

Setelah gagal nyoba Fulbright untuk pertamakalinya, gue mikir apa sih dibalik persoalan motivation letter ini. Dari yang gue perhatikan, umumnya beasiswa2 yang ditawarkan pemerintah asing memiliki tujuan politis. Tidak berarti negatif, karena toh politik luar negeri bermanfaat besar untuk kepentingan kedua negara. Masing-masing lembaga pemberi beasiswa memiliki visi misi dan policy nya sendiri2. Ada yang memang lagi gencar2nya ngurusin issue Anti Terosisme, sehingga membuka beasiswa di bidang tersebut dengan harapan muncul scholar2 muda yang bisa jadi kader kedua negara dalam memberantas terorisme. Ada yang lagi ngurusin masalah climate change, sehingga pelamar dengan tujuan bidang studi tersebut disambut dengan baik.
Saran gue, coba telusuri profil pemberi beasiswa. Policy2 apa yang mereka emban, dan apa issue utama mereka saat ini. Kan ada Mr Google dan Miss Yahoo!, jadi manfaatkan mereka untuk mencari tau lebih lanjut.

Nggak bisa dipungkiri, kepekaan kita terhadap persoalan sosial, kultural dan politik juga mempengaruhi. Sepeduli apa kita dengan lingkungan kita, baik lokal maupun internasional. Mungkin inilah yang di maksud dengan “memiliki leadership yang tinggi” dalam salah satu syarat2 pelamar yang tertera di announcement.

Tadi gue menyinggung soal kegiatan voluntary job. Menurut pengalaman, kegiatan ini bermanfaat sekali untuk memperkuat wawasan kita pada realita. Kita belajar mengobservasi langsung, kalau belum bisa meneliti, apa yang terjadi di tengah masyarakat kita. Pengamatan langsung ini bisa jadi bukti nyata yang dapat kita utarakan di motivation letter kita.

Gue pernah merasa idup gue berantakan sejak quit dari pekerjaan “aman” di advertising selama dua tahun,dan berbelok di bidang community development alias NGO dan bikin community development sendiri. Secara finansial sih jauh banget kalo dibandingin waktu masih jadi anak advertising dulu. Ga ada lagi tuh tiap weekend hore hore dugem atau tiap bulan beli sepatu baru. Tapi, Gosh, I’ve learnt a lot! Gue bisa membaca apa yang terjadi sebenarnya di tengah masyarakat dan menemukan posisi advertising tadi dalam problematika itu. Hehe kalo ini sih bukan curhat, tapi I’m trying to thank God for what I’ve got. Kata Joko Hartanto, “jadikan kesulitan kita sebagai opportunity!”.

Jadi, apa yang harus kita tulis di motivation letter? Nah ini nih. Gue pun masih perlu banyak advice dari alumni2 scholarship. Kalau Motivation letter untuk pihak pemberi beasiswa, sebaiknya singkat padat berbobot yang berisi:

– apa yang membuat kita merasa harus belajar bidang itu (refers ke persoalan masyarakt aja!)
– modal prestasi dan pencapaian kita yang bisa mendukung niat kita itu
– pernyataan niat kita untuk segera kembali ke indonesia setelah selesai belajar dan mengamalkan ilmunya.

Gue masih punya pertanyaan sih sebenernya. Mungkin ada yang bisa bantu. Apa beda isi motivation letter kepada pihak pemberi beasiswa dengan study objective yang ditujukan untuk universitas yang kita lamar?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: