New Chapter in Life

7 Okt

Gue dan sahabat gue, Teo, ketemu pertamakali di kelas 2 waktu SMU. Tadinya gue cuek aja ama ni anak, waktu dia suka nyamperin Wenny, temen sebangku gue yang kecil mungil tapi galak dan pinter. Lama-lama gue pikir cowok ini baik juga. Dan dia memang baik, ramah, murah senyum. Matanya sipit, dan pipinya masih jerawatan.

Sebenernya gue ga inget apa yang membuat kita jadi akrab. Sebentar.. jangan-jangan sepak bola? Hmm… mungkin juga. Kakak gue lagi tergila-gila Liga Itali waktu itu, dan gue sempat ketularan. Akhirnya, waktu obrolan cowok-cowok tiap pagi adalah membahas pertandingan bola tadi malam, terlibatlah gue. Akrab dengan Teo melalui sepak bola, akhirnya kita sering ngobrol di balkon depan. Membahas sepak bola sampe sedetail-detailnya. Dari sepakbola, obrolan seru itu bergerak ke hobby kita, yaitu musik. Kebetulan dia ngeband, dan gue komandan marching band di sekolah yang mainin snare drum. Kita juga suka latihan band bareng kalo pulang sekolah. Gue jadi drummer nya🙂
Kita juga suka keluyuran Jakarta bareng, naek motor Tiger dia yang merah. Ke Fatahillah, ke museum2, ke mana lagi gue lupa. Sampe waktu dia jadian sama si ketua Rohani Kristen yang anak pendeta itupun pun, gue tetap jadi ‘selingkuhan legal’ nya alias satu2 nya cewek lain yang diizinkan untuk hang out sama dia🙂
Persahabatan kita berlangsung terus sampe kita kuliah. Gara-gara gue racunin, akhirnya dia dan gue adalah 2 orang satu2nya di SMU yang nggak ikut UMPTN :))
Gue masuk FSRD Trisakti, dia masuk Desain Industri di Surabaya. Satu tahun kemudian, Teo balik lagi ke Jakarta dan jadi angkatan 99 di FSRD Trisakti. Kita bersama lagiii ….🙂
Waktu pekerjaan pertama gue pas kuliah adalah jadi Sales coordinator di EF Menteng, kerjaan pertama si Teo adalah jadi Web Designer di graphic house milik temennya. Waktu gue gandrung sama ilustrasi dan buku-buku, dia keranjingan fotografi. Hobi kita menyambangi toko buku-toko buku impor macam Times, Periplus atau Kinokuniya untuk baca buku gratis.
Kita sering sama2 bokek. Gue karena punya bokap super pelit dan raja tega, dia karena anak yatim yang mama nya wiraswasta jual ayam goreng. Pokoknya kita kamerad banget dah!
Teo cowok yang gampang masuk ke lingkungan mana aja, walopun aslinya dia pemalu dan suka ga pedean. Kesulitan hidup membuatnya banyak berpikir, dan ingin maju. Tapi sama seperti gue, kita sama-sama kepengen jadi bos! Ha ha ha… we both have that sense of leadership.
Dari dulu, kita sering berbagi soal impian masa depan, saling memotivasi dan menginspirasi. Dia orangnya cukup gaul, tapi religius. Walaupun kita berbeda agama, gue Islam dan dia Kristen, tapi kita selalu bisa saling menginspirasi. Prinsip kita: Tuhan itu satu kok. Akidah kita aja yang beda. Tapi kalo ada hal positif yang bisa ditiru, sepanjang ga melanggar akidah, kenapa nggak?
Kita sempat putus kontak sejak gue kerja di advertising, resign, dan jadi volunteer serta freelancer. Kita ketemu lagi waktu tahun 2006. Gue bukan siapa-siapa banget saat itu. Bokek, ditengah himpitan kesulitan, dan tidak pede akut. Saat itu dia masih seperti yang dulu, nggak kerja di perusahaan manapun, menjalankan graphic house nya sendiri dengan susah payah, Labardo. Nggak besar, cuma 1 graphic designer cabutan, dan dia cari sendiri klien nya. Saat itu dia memandang prihatin pada gue. Berharap gue segera menemukan jalan gue.
(To be Continued)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: