New Chapter in Life II

8 Okt

Kamis kemarin, dengan perasaan nothing to loose dan iseng-iseng berhadiah, gue berangkat ke Habibie Center untuk panggilan interview. Ternyata lokasinya di Kemang Selatan, pas di pertigaan dengan ujung jalan Benda. Di sana, sudah ada 3 cewek yang juga menunggu untuk di interview. Mereka sedang mengisi formulir.

Di ruang tunggu lantai 2 terpajang pencil drawing wajah B.J Habibie. Suasana di kantor itu terasa berkelas, bukan dalam arti mewah, melainkan ‘intelek’ namun bersahaja. Gue mengisi formulir, seperti pada umumnya yang ada di setiap proses rekruitmen. Kita juga diberi tes menulis dua paragraf.
Ketika tiba giliran gue, gue masuk ke ruang meeting. Seorang bapak HRD dan calon manajer posisi yang gue apply itu udah menunggu di dalam. Kesan pertama yang gue dapat, mereka tampak cerdas dan bersahaja. Bapak HRD nya terlihat seperti seorang kepala sekolah yang baik hatiπŸ™‚ Sedang si mbak manajer, yang sudah pernah gue google tentang profilnya, terlihat sama seperti yang gue temukan melalui internet. Look smart, berpendidikan deh pokoknya, ramah, dewasa, dan sepertinya dari keluarga yang hangat.
Interview berlangsung dua bahasa. Kadang bahasa inggris, kadang indonesia. Gue jalani tanpa beban aja. Berbicara dengan orang-orang cerdas seperti mereka, gue merasa nyaman dan diliputi rasa kagum. Salah satu motivasi gue datang ke panggilan interview itu adalah gue pengen tau sejauh mana kapabilitas gue, sejauh mana kapasitas gue diterima dan dibutuhkan. Gue jujur aja bahwa walaupun gue suka menulis, gue ga pernah melewati pendidikan formil jurnalistik atau humas. Tapi gue sedang pada tahap ingin memperkaya diri di bidang itu. Keterlibatan gue di bidang humas lebih banyak pada desain grafis dan pengelolaan blog atau “electronic PR”, kalau minjem istilahnya Head of Culture Program nya Goethe-Institut.
Di panggil untuk interview aja, gue udah cukup puas. Berarti, gue masih punya kesempatan di situ. Berarti, tulisan-tulisan gue yang gue kirim bersama CV cukup menarik perhatian. Lumayan…πŸ™‚
Interview yang santai tidak membuat gue gugup, walaupun dalam hati berteriak “ayo ah cepet daftar kursus public speaking dan self development!”. At least I’ve impressed them that day, walaupun mungkin ga cocok di posisi itu, but at least mereka pernah bertemu dan kenal gueπŸ™‚
Diantara pembicaraan during intervew, gue sempet mendengar si bapak HRD menggumam sambil senyum2, bahwa gue bisa di divisi Riset. Well, mungkin gue bisa juga jadi peneliti, tapi sekolah dulu boooooooooo :(((((((( siapa yang mo bayarin gue?πŸ˜€
Okay, itulah cerita kemarin. New Chapter in Life, tahun ini gue bertemu banyak orang-orang baru dari komunitas-komunitas baru. Perubahan lingkungan ini gue anggap sebagai jalan menuju kehidupan berikutnya. Dan gue bersyukur, betapa dinamis nya hidup gue! Lima tahun sejak 2004, gue takjub, gue nggak berhenti mengejar apa yang jadi cita-cita gue. Kalau di buat grafik, sampai dengan akhir tahun 2008, grafik gue landai. Tapi mulai tahun 2009 sepertinya pergerakan naiknya cukup signifikan. Mudah-mudahan gue tetap bisa fokus sampai tujuan itu tercapai…
Setelah gue nerima telpon panggilan interview di Habibie Center, gue hubungi Teo. Dua hari sebelumnya, kita curhat soal hidup kita di warung bubur ayam pinggir jalan, somewhere di Bekasi Barat. Malem-malem pula.
Hidup Teo juga sama seperti gue. Berat dan sulit sekali untuk mendaki menuju cita-cita. Pacaran 11 tahun dengan pacarnya di SMU dulu ternyata tidak menjanjikan masa depan yang di cita-citakan nya. Perbedaan pola pikir dan perbedaan tujuan hidup akhirnya membuat mereka berpisah di pertengahan tahun 2009 ini. Si gadis sibuk dengan karirnya sebagai konselor di SMU dan kegiatan gereja, saking sibuknya sampai tidak punya waktu untuk Teo, yang butuh support moril. Sedangkan Teo, susah payah menjalankan profesi freelance nya sebagai graphic designer dan fotografer, dan mati-matian mewujudkan kantor graphic house nya. Persoalan keluarga dan keuangan juga jadi kendala bagi hubungan mereka.
“Kita nongkrong miskin aja yuk Wi. Gue lagi bokek berat nih! Ini aja gue minta uang bensin sama emak gue.. he he” katanya ketika nyamperin gue sebelum pergi ke dokter gigi. Gue juga lagi bokek saat itu, “Ayok lah!
Persamaan kita adalah kita selalu percaya pada kekuatan pikiran dan keajaiban. Kita selalu sharing interpretasi kreatif kita tentang kekuatan Tuhan. Di tengah kesulitan hidupnya, Teo beberapa kali mengalami keberuntungan. Seperti di buku The Secret, dia cuma membayangkan Macbook yang dia inginkan, lalu berucap “Tuhan, gue pengen punya itu..” , dan hanya jangka waktu sebulan, seorang teman yang super kaya menawarkan kartu kredit nya untuk dipinjam membeli macbook itu! Setelah kebeli, Teo dapat proyek lagi dan bisa membayar tagihan kartu kredit temannya itu secara mencicil sampai lunas. Waktu lagi nonton pameran mobil, Teo menatap nanar ke sebuah Mitsubishi Gallant warna silver yang lagi di pajang. Dia masuk ke dalam mobil itu, mencobanya, dan merasa bahwa dia sudah memilikinya. Sekali lagi dia berucap dalam hati, “Tuhan, gue pengen mobil ini”. Waktu kita lagi ngobrol di Bakoel Koffie, dia sempat cerita tentang mobil itu ke gue. “Keren banget deh Way! Waktu duduk di dalamnya, gue ngerasa gue akan dapetin tuh mobil!”. Dalam waktu sebulan juga, tiba-tiba dia dateng ke rumah gue sambil mengendarai Mitsubishi Gallant!!!
“Lah? Lu beli juga nih mobil???” ujar gue
“Haha.. iya! Tiba-tiba nyokap ngejual mobil kijangnya dan motor gue, dan ngeganti dengan mobil ini! Second sih, tapi persis sama yang gue pengenin!!!”
Tuhan itu baik hati. Itu interpretasi tentang Tuhan yang gue dapat dari dia. Sebelumnya gue menyangka kita harus jadi orang super alim dulu untuk di sayang Tuhan. Ternyata, Tuhan Maha Pengertian. Dia tahu kita dalam kesulitan, dan kita kadang berbuat yang tidak-tidak sehingga keluar dari jalur. Tapi cara Teo menempatkan Tuhan dalam hidupnya sangat inspiring untuk gue. Dan ketika gue mempelajari kembali apa yang tersembunyi dalam Al Quran, gue temukan hal yang sama. Mintalah, maka akan Ku beri. Ayat itu terbaca ketika gue membuka Al Quran secara acak.
Teo bukan orang yang rajin membahas alkitab, atau ke pertemuan-pertemuan gereja. Tapi dia mengenal Tuhan jauh lebih baik daripada mantan pacarnya yang anak pendeta, hafal ayat-ayat alkitab dan sangat sibuk di pelayanan-pelayanan gereja dan konseling. Pacarnya itu, walaupun penghasilan keluarganya lebih stabil, tapi selalu hidup dalam kesulitan. Tidak ada yang dapat menginterpretasikan ajaran agama secara realistis dan rasional untuk kepentingan hidup sehari-hari. Mereka terlalu sibuk dengan ayat-ayat, dengan filosofi, dan sebagainya. Tapi hidup selalu dalam hutang, dan uang sering kali habis sebelum gajian baru datang. Mungkin itu salah satu penyebab kenapa Teo sulit untuk membawa hubungan mereka ke jenjang pernikahan.
Sejak putus dengan mantan pacar, Teo sempat goyang sebentar. Rasa percaya dirinya menurun, bercampur masih belum rela melepaskan gadis pujaan nya yang di bilangnya smart itu. Tapi terus kita sama-sama bangkit, kita nggak mau end-up konyol tanpa mencapai cita-cita kita. Di bawah tenda tukang bubur, kita sama-sama berjanji.
“Pokoknya mulai tahun depan hidup kita udah berubah Te. Langkah pertama kita untuk memulai perbaikan itu adalah dengan membuat gebrakan. Gue mo ambil kursus jurnalistik dan public speaking, lu gabung dengan perkumpulan asosiasi businessman. Kalo mau ngembangin bisnis, lu harus berani membuat networking dengan pengusaha-pengusaha gede!”
Teo memang tergabung sebagai volunteer di yayasan Hope Indonesia sekaligus fotografer dan graphic designer yang sering di-hire untuk mengerjakan material publikasi. Direktur yayasan itu memiliki network yang bag
us, dan menyarakan dia untuk bergabung dalam klub seperti Lion. Teo yang tadinya sering minder kalo dikenalkan sama orang baru, sekarang belajar untuk mengalahkan rasa mindernya.
Dua hari kemudian, sejam setelah gue nerima telpon panggilan interview di Habibie Center, gue sms dia. Dan dia menjawab,
“Gue ke Padang Wi! Tadi pagi gue diajak meeting ama Hope dan diajak berangkat ke Padang sore ini juga! Ini lagi di kapal, baru aja berlabuh! Bareng mobil-mobil bantuan!”
Waaah….πŸ™‚ Good luck Te. Sapa tau disana banyak ketemu NGO-NGO asing yang butuh bantuan fotografer. Perluas network di wilayah bencana!πŸ™‚

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: