Navigasi secepat kilat II : Sebuah petualangan baru!

20 Okt

Akhirnya gue dan Vivi mendaftar juga di LPJ Antara. Gedungnya terletak di belakang gedung Galeri Foto Antara. Kesan pertama gue waktu masuk ke Galeri didepan nya adalah “wow… jadi ini tempat orang-orang hebat itu dulu berperan jadi perantara Republik ini dengan dunia?”. Walaupun sebenarnya kantor berita yang di dipelopori oleh Adam Malik itu berada di gedung tua yang tak jauh dari situ (yang ada tulisan “Gestetner” berwarna birunya itu loh!), tapi suasana masa lalu itu masih terasa.

Sabtu pagi, gue meluncur ke Pasar Baru yang masih sepi. Sambil nungguin Vivi yang masih kejebak macet di Warung Buncit, gue duduk-duduk di deket warung depan sambil minum teh botol. Hm…Pasar Baru di Sabtu pagi. Pandangan gue mengembara ke arah Gedung Kesenian Jakarta, Kantor Pos belakang, kali ciliwung, dan kendaraan yang masih jarang berlalu-lalang. Tempat ini beneran menarik. Lain rasanya duduk disini hari Sabtu pagi, dengan keluyuran di Pasar Baru sore-sore ketika masih rame dengan pedagang. Lagi asik-asik bengong, tiba-tiba gue ngeliat poster TanzConnexion nya Goethe-Institut dari cermin kecil si tukang warung. Wuaa… ternyata hasil karya begadang gue selama internship di Goethe-Institut kemaren di tempel sampe sini juga yah.. huhhihihihih:)
Jam 8.30, kelima peserta pelatihan berkumpul di ruang kelas. Instruktur kita adalah direktur LPJA, seorang jurnalis senior, Maria D. Andriana. What a cool, smart, and elegant woman she is. I like the way she performs. Hari pertama kita belajar dasar-dasar jurnalistik. Belajar dalam lingkup kecil sangat menyenangkan buat gue. Bisa lebih fokus dan kita bebas berinteraksi dengan instruktur. Teman-teman gue rata-rata memiliki background yang bervariasi, tapi minat nya sama-sama ke jurnalistik. Vivi seorang copywriter, Jessica mahasiswi Desain Interior yang membelot ke jurnalistik dan broadcasting (!), dan Herman seorang kontributor foto National Geographic. Satu orang lagi baru akan datang minggu depan.
Tugas praktek kita hari itu adalah membuat berita dengan prinsip 5W+1H, lead maksimal 22 kata, dan judul maksimal 7-10 kata. Kita diberi waktu 20 menit untuk survey lapangan dan wawancara, serta 5 menit untuk menulis berita. Seru!
Setelah praktek, kita membedah berita dari sebuah media cetak. Ternyata, berita-berita yang ada di media cetak tidak semuanya mengikuti prinsip-prinsip dasar jurnalistik. Berita yang kita bedah tersebut ternyata mengandung beberapa kekurangan. Judul tidak mewakili nilai berita, lead tidak mewakili isi, dan isi tidak menjelaskan judul. Diantara semua prinsip-prinsip yang ada, hal yang paling sulit dari membuat sebuah berita jurnalistik adalah menemukan nilai berita!
Alhamdulilah, gue menikmati pelajaran hari itu. Pulangnya, makan Mie Alip dulu di Pecenongan sama Vivi… sambil mikirin berita apa yang akan gue tulis untuk tugas minggu depan ….🙂
Hari Seninnya, tanggal 19 Oktober, gue memulai hari pertama gue di kelas Public Relations… hihihi… yang ini ceritanya nggak kalah seru! :p

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: