Living in Miracles

11 Jan

Setelah tidak berhasil meninggalkan Indonesia karena tidak dapat beasiwa bulan September lalu, ternyata nggak terhitung berkah dan rejeki mendadak yang gue terima.

Walaupun belum memperoleh pekerjaan tetap yang baru dan masih harus berkutat dengan persiapan-persiapan mental yang menuntut konsentrasi plus disiplin tinggi yang menguras energi, alam (baca: Tuhan) memberikan kejutan-kejutan kecil (yang sebenarnya tidak kecil, tidak juga sederhana) bagi jiwa gue yang nyaris down.
Dari sejak saat itu sampai sekarang, entah udah berapa kali saya mengalami:
1. Ditraktir makan siang, pagi, atau malam
2. Dapat makanan/kue gratis/ ditraktir ngopi di kafe
3. Di bayarin bensin sampe full tank!
4. Dapat kado (kado baju mahal udah dua kali bok!)
5. Di traktir paket body treatment di SPA di hari ulang tahun
6. Di kenalkan dengan tman2 baru
7. Di bayarin liburan full (tiket kereta PP, akomodasi penginapan dan makan)
8. Makan steak gratis di kereta 2 piring tapi sampe gue turun kagak di tagih (Suwer~!)
9. Di kasih pulsa gratis untuk nelpon huny-buny di sana
10. Dibantuin memecahkan masalah
………………….
Sampai kemarin, gue mengalami kejadian yang menurut gue sangat indah. Sore-sore pulang dari Interstudi, teman gue di Goethe-Institut menelpon. “Temenin gue dong di Bakoel Koffi. Gue stress nih lagi ngetik laporan.” Padahal, saat itu gue lagi bokek se-bokek2 nya dan merenung… gimana gue bisa dapet duit ya? Situasi kuliah kaya gini, sepertinya susah untuk dapet duit melalui kerja tetap. Gue lirik di dompet, duit tinggal 25 ribu. Tapi, berangkatlah gue ke Bakoel Koffi, dengan bensin di mobil udah mau tiris.
Di lampu merah perempatan Kwini-Kwitang, gue melihat seorang bapak tua veteran tentara yang duduk di kursi roda sedang jualan koran. Dari dulu sebernya gue sering ketemu bapak ini tiap kali lewat jalan itu. Biasanya, dia cuma duduk santai diatas kursi rodanya sambil ngerokok di trotoar, dan koran2 nya di sampirkan gitu aja di lengan kursi roda itu. Namun hari itu, ketika sisa-sisa hujan masih menetes, si bapak berjanggut putih itu turun ke jalan dan menjajakan korannya yang udah kena tetesan air hujan kepada mobil2 yang berhenti di perempatan. Agak sentimentil memang, but that’s how it was. Gue tau duit gue tinggal 25 rb, tapi hati gue bilang “gak lucu kalo lu cuma diem aja Dew”. Maka sebelum lampu berubah jadi ijo, gue ambil 5 ribu dari dompet gue, gue buka jendela, dan “Pak, itu Kompas hari ini?”
Bapak itu dengan semangat menjawab “Iya, ini koran baru lho!”. Maka ketika dia menyodorkan koran dengan halaman depan yang sudah sedikit basah itu, gue ga minta kembalian untuk harga koran yang cuma 3500 rupiah dan meninggalkan si Bapak yang cengar-cengir senang.
Ketika mobil melaju melewati Gunung Agung, air mata gue menetes. Bukan cuma karena terharu, tapi juga sedih banget!!! “Maaak.. duit gue tinggal 20 rebu… mo beli apaan di Bakoel Koffi? Besok ga punya duit lagi dong!”. Selintas isi Ayat Kursi membisik di hati gue, “Tuhan tidak tidur, dia memelihara langit dan bumi, siang dan malam, dan Dia nggak kesulitan kok dengan hal itu”. Berbisik lah gue dalam hati, “Tuhan, gue termasuk yang ada di dalam langit dan bumi itu kan? Pelihara gue juga yah…! Gue ga bisa minta siapa-siapa lagi nih selain kepada Mu. Udah bokek akut nih!”
Sampai di Bakoel Koffi, ternyata teman saya itu sedang ribet dengan berkas-berkas. Dia mau berangkat ke Berlin untuk sebuah pertemuan Teater, dan dia harus menyortir serta mengedit CV nya. Sebenarnya itu bukan pekerjaan sulit. Tapi hari itu dia ribet sendiri dengan urusan lain, dan menyerah untuk menyelesaikan persoalan itu sendirian.
Maka sore itu, yang niatnya hanya untuk menemani dia ngobrol, gue ditraktir makan dan kopi Java Frosted sambil jadi sekretasi dan editor dadakan. Ketika malam turun dan waktu untuk last order tiba, dia menyodorkan sehelai Rp.50.000 pada gue, “Dew… gue lagi belum punya duit nih. .. hehehe.. DP dulu ga papa ya???”
Alhamdulilaah….! Hari ini, 5000 perak berakumulasi jadi 50.000 hanya dalam waktu sekitar 5 jam! HOW AMAZING!!!
Ini belum termasuk dengan kejadian seru 2 bulan yang lalu: Seorang teman – yang sebelumnya tidak terlalu dekat – mau lamaran, menelpon gue dan meminta untuk membantu dia menata ruangan kecil tempat prosesi lamaran berlangsung. Gue membantunya dengan senang hati dan tanpa beban. Niatnya hanya untuk main-main ke apartemen nya dan menikmati AC gratis. Ternyata gue di traktir makan siang di restoran di lobby dan krimbat di salon. Wow, krimbat di salon itu kan hobi gue banget!

Pada hari – H, gue di sewain satu unit dengan 3 kamar di apartemen tersebut bersama panitia prosesi lamaran yang lain, lengkap dengan makan pagi siang malem, make up artist dan stylist gratis, pinjaman gaun (aduuh gue kan suka banget dandaaaan) dan makanan yang ga abis-abis. Besok paginya ketika mau pulang, dengan ajaibnya mobil gue yang diparkir di tempat yang salah, TIDAK DITAGIH RETRIBUSI PARKIR🙂

Di hari yang lain, tiba-tiba seorang teman menelpon untuk persoalan yang bagi gue nggak kalah amazing. Dia mengeluhkan persoalan dengan pacarnya. Intinya, dia butuh bantuan seseorang untuk meng-upload dan memberi caption beberapa foto nya ke dalam album facebooknya karena DIA TIDAK PUNYA WAKTU alias sibuk. Dan untuk pekerjaan sepele seperti itu… saya dibayar sekitar dua ratus ribu rupiah!
Sekitar bulan Oktober yang lalu, ketika Festival Film Europe on Screen di buka, gue dapet undangan VIP gala dinner nya dari seorang teman di panitia Festival tsb. Siang nya gue masih nangkring di kos-kosan temen sambil mikir, gue pake baju apa ya? Mana ga punya duit untuk ke salon…ga punya sepatu yang pantes, dsb. Tiba-tiba teman (baru!) gue itu bilang “udah lu ga usah pulang dulu ke rumah. Lu mandi disini aja, pake gaun gue. Pilih aja tuh yang lu suka di lemari. Pake sepatu gue, ntar gue dandanin, gue jago ngedandanin loh! Rambut lo di catok aja biar gampang.. tuh gue ada catokan!” Sekali lagi, amazing….! Gaunnya not bad, make up nya fresh, sepatunya pump-shoes model Daisy Duck yang GUE SUKA BANGEETTTTTT… dan sampai di pesta, maaan…..I… feel…. Wonderful!!!
Air mata gue menetes lagi. Senang, karena Tuhan meyakinkan gue untuk terus maju dalam skenario ini. Karena dalam skenario yang agak berat ini, gue dijamin bahwa gue tetap dilindungi dan di pelihara dari kecelakaan2 “syuting”. Sip lah kalo gitu. Gue akan jalani peran gue dalam rute scene ini dengan baik, karena gue yakin pasti akan berakhir dengan Happy Ending🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: