Ilmu “Alat”

19 Feb

Kemarin, salah satu researcher kita, Mbak Pia, berpisah dengan THC setelah 2 tahun mengabdi. Doi akan melanjutkan karirnya di Komisi bagian HAM di DPR-RI. Sore-sore kita berkumpul di ruang rapat (tempat gue di interview pertamakali) sambil menikmati kue-kue, kopi dan teh. As always, pasti ada speech dari beberapa orang.

Speech terakhir yang membuat gue diam-diam ingin menitikkan air mata disampaikan oleh direktur eksekutif kita. Pak direktur memberikan wejangan untuk Pia dengan bercerita singkat tentang perjalanan karirnya sendiri. Beliau berlatar belakang medis, dengan waktu kuliah yang cukup molor karena sibuk berorganisasi. Lulus pun biasa-biasa aja, nggak cum laude seperti teman-teman yang lain. Namun dari pengalaman berorganisasi itu ia mendapatkan banyak pelajaran hidup yang nggak diperoleh dari buku atau bangku kuliah. Pengalaman itu yang dia sebut sebagai “TOOLS”.
Tool itu yang kemudian membuat dia mampu menyelesaikan S2 dan S3 nya dengan cepat dan gemilang, melebihi yang lain. Tools itu pula yang membawa perjalanan karir dia kearah yang lebih hebat lagi, sampai beliau menjadi asisten wakil presiden dan seterusnya.
Pak Watik bilang, “jalan hidup itu Allah yang tahu. Tapi kita, dalam mengerjakan apapun, lakukanlah dengan kesadaran. Dan pelajarilah ‘ilmu alat’. Dalam tiap pengalaman atau tugas yang kita kerjakan, temukan rahasia-rahasia yang dapat kita gunakan untuk tugas berikutnya.”
Gue merenung, ternyata banyak sekali “tools” yang udah gue tabung sejak menjalani kekecewaan2 di masa-masa yang lalu. Ternyata ketidak ideal-an itu diam-diam menitipkan banyak “senjata rahasia” yang bisa gue gunakan ketika “sudah sampai saatnya”.
Gue bisa merasakannya saat ini. Ketika orang lain complain menghadapi pihak-pihak yang dikenal berkepribadian sulit, gue menghadapi mereka dengan mudah, bahkan membuat mereka nyaman dan bersahabat dengan gue. Mungkin ini buah dari kesabaran gue (yah bukan sabar sih, tapi karena ga ada pilihan! hahaha) menghadapi orang-orang yang 20 kali lebih sulit selama bertahun-tahun.
Banyak lagi “tools” lain yang sekarang jadi koleksi amunisi gue. Semuanya ada di mental. Have you got your ammunition already?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: