The First Lady’s Funeral: Mengantar Hasri Ainun Habibie ke Peristirahatan Terakhir

28 Mei

Siang itu, Training of Trainers yang kami adakan di hotel Grand Flora, Kemang, berakhir dengan sukses. Gue lega, karena setelah persiapan dua bulan, satu acara bisa terlaksana dengan mengesankan. Para trainer, penulis modul, dan instruktur lainnya puas dan terkesan.

Setelah dua minggu lebih memforsir pikiran dan selama seminggu kurang tidur, tiba-tiba teringat BB messenger tadi malam dari manager gue “Innalilahi wa Innalillahi rojiun, ibu Ainun telah meninggal dunia”. Maka sebagai staf humas, berangkatlah gue ke kediaman BJH di Patra Kuningan dan sampai malam.

Badan ini sebenarnya udah teriak-teriak minta diistirahatkan, dan gue sebenernya masih punya tanggung jawab melanjutkan persiapan keberangkatan manajer proyek ke Palu dan Ambon, tapi peristiwa force majeur kaya gitu memaksa gue untuk stay di Patra.

Selasa subuh, gue udah nongkrong di kediaman beliau menunggu kedatangan jenazah sambil terus mengupdate berita. kira-kira pukul setengah enam pagi manajer gue – setelah 7 jam perjalanan ke Jerman, 1 setengah jam menerima jenazah untuk dinaikkan ke pesawat, dan 7 jam lagi perjalanan pulang ke Indonesia – langsung ngedeprok di sofa ruang makan belakang yang udah di sulap jadi sekretariat humas dadakan.

Suara tabuhan snare drum paspampres diluar menandakan jenazah sedang diantar ke dalam rumah. Gue beranjak menuju ruang tengah, yang cuma dipisahkan oleh dinding dengan ruangan makan tadi, dimana keluarga dan kerabat dekat udah berjejer di sepanjang tepi karpet merah, dan wartawan tv siap dengan kamera nya. Entah kenapa ketika peti berselimut kain merah putih itu masuk kedalam rumah, air mata gue meleleh dan gue tersedu.

Suasana kah, atau sosok almarhumah yang berkepribadian baik yang mengguncang dada gue untuk menangis? Gue nggak pernah kenal secara personal Ibu Ainun, karena ketika gue bergabung dengan THC beliau udah sakit dan tak lama kemudian di berangkatkan mendadak ke Jerman dengan pesawat yang paling cepat tanpa transit untuk dioperasi. Nggak seperti teman-teman gue yang lain, gue ga pernah mengenal beliau dan bersentuhan dengan beliau. Tapi pagi buta itu, ketika matahari belum muncul, kedatangan peti jenazah wanita terhormat itu membuat gue merasa amat kehilangan. Mungkin, rasa kehilangan dan penyesalan itu yang membuat gue nangis.

Pak Arief Rahman yang memimpin doa pagi itu juga gak bisa menahan tangisnya. Gue lihat BJH disisi peti jenazah dengan wajah amat sedih, Pak Ilham, Pak Tareq, menantu dan cucu-cucu. Pak Adrie Subono yang malamnya masih bisa becanda dengan kita sambil makan nasi kotak di ruang makan, matanya terlihat basah.

Setelah prosesi kain kafan (yang tidak bisa dilihat itu karena ditutupi kain putih), keluarga dan kerabat bergantian menyalami BJH dan anak2 beliau untuk mengucapkan bela sungkawa sekaligus menengok wajah alharhumah di peti jenazah untuk terakhir kalinya.

Ketika kaki gue melangkah ke hadapan BJH dan menyalami beliau, hati gue bergetar lagi melihat wajah sendunya yang seolah berkata “help me please..I m so lonely!”. Kata2 yang udah gue rancang untuk gue sampaikan padanya tadi nggak keluar. Tadinya mo bilang “Pak..jangan berhenti berkarya ya!”, karena gue kuatir produktivitas beliau dalam memberikan kuliah umum akan menurun sepeninggal Ibu. Dan pas ketika gue berdiri didepan peti jenazah menatap wajah alharhumah, tangis gue meledak lagi. Jadilah kerudung putih si Tassa yang gue pinjem lecek karena dipakai menghapus airmata melulu. Sorry ya Tass.

Nggak kuasa menghentikan tangis yang nggak tau kenapa meledak terus, akhirnya gue memutuskan untuk kembali ke ruang makan belakang yang cuma dipisahkan sebuah dinding dengan tempat peti jenazah diletakkan.

Setelah kedatangan Presiden SBY kira-kira pukul setengah 7 pagi, panitia mulai bersiap-siap untuk mengatur mobil keberangkatan. Gue jadi ikutan nempelin double tape di kertas2 bertuliskan “KERABAT” untuk di tempel di bis-bis yang udah berjejer di luar.

Pukul 7 sampai dengan setengah 9, tamu-tamu lain mulai berdatangan. Duta besar, konselor, mentri, artis, mantan pejabat, semua ngantri untuk bersalaman dengan BJH. Tamu terakhir kalau nggak salah Wakil Presiden Budiono, dan setelah beliau selesai maka semua bersiap untuk masuk kendaraan menuju Taman Makam Pahlawan Kalibata. Dalam bis nomor 10, gue dan teman-teman kantor yang dari hari minggu udah kurang tidur langsung rebah di kursi reclining masing-masing.

Patra Kuningan yang biasanya sepi itu kini penuh dengan masyarakat yang berdiri di pinggir-pinggir jalan, ingin menyaksikan keberangkatan jenazah menuju pemakaman. Ibu-ibu, anak-anak kecil yang digendong maupun yang tidak, abang-abang tukang jualan maupun warga biasa, semua berderet disisi jalan dan melambaikan tangan kepada rombongan konvoi jenazah. Sepanjang jalan kuningan sampai Gatot Subroto, semua kendaraan berhenti dan pengemudinya turun dari mobil/motornya. Karyawan kantor keluar, berdiri atau duduk termangu menyaksikan kita. Tak sedikit dari mereka yang merasa peristiwa ini begitu penting, mereka keluarkan ponsel berkamera untuk mengabadikan pemandangan ini.

Ketika konvoi masuk ke jalan Raya Pasar Minggu sampai mendekati Kalibata, tanpa sadar gue, Ibet dan Kanti menangis kompak.. padahal lagi nggak duduk bareng. Ketahuan dari suara “srat srot” tarik ingus, kita sama-sama tergetar hebat ketika melihat banyak sekali anak-anak sekolah maupun anak-anak jalanan yang melambaikan tangan di pinggir jalan. Pemandangan itulah, anak-anak itu, yang makin membuat hati ini makin terharu mengingat Ibu Ainun!

Beliau memperjuangkan nasib anak2 yang tidak bisa sekolah. Ibet, yang sudah 10 tahun di Yayasan Orbit, tahu betul kondisi anak2 asuh beliau dari Sabang sampai Merauke. Ibet yang bersentuhan langsung dengan anak-anak itu, memonitor perkembangan mereka dari sebelum sekolah sampai ketika mereka berhasil kuliah, merasa kehilangan sosok Ibu yang selama ini juga aktif memonitor Yayasan yang didirikannya. Gue pun jadi teringat si Asep dan Saipul, dua orang penerima beasiswa Orbit yang belum lama gue undang FGD untuk membentuk konsep film pendek Literasi Media. Anak-anak penghuni daerah “lokalisasi” di jakarta utara itu bisa sekolah dan salah satunya menang kompetisi rancang robot. Ibunya cuma tukang cuci dan bapaknya buruh serabutan, tapi berkat semangat yang disuntikkan teman2 di Orbit, kelusuhan penampilan mereka dikalahkan oleh rasa percaya diri mereka yang tinggi saat dipertemukan degan siswa SMA swasta lainnya di FGD.

Mungkin itu yang membuat gue menangis. Walau kenal pun tidak, tapi sosok Bu Ainun yang bersahaja itu membuat mata gue bengkak sepulang pemakaman. Membayangkan Ibu yang tidak mau segera berobat karena sibuk memantapkan kepengurusan Yayasan2 nya, dan kemudian akhirnya meninggal dunia karena kanker yang sudah menyebar kemana-mana, rasanya pedih dan kepingin mengganti badan ini untuk menanggung sebagian rasa sakitnya. Pasti BJH, yang udah 48 tahun bersama, lebih pedih lagi hatinya.

Gue udah beberapa kali menghadiri pemakaman keluarga. Nenek, Tante, dan 2 Om. Saat itu gue masih remaja, dan hanya membayangkan bahwa suatu hari gue juga akan mati. Gue juga akan berakhir di bawah tanah. Tapi waktu itu yang gue pikirkan hanya “siapa yang akan menemani gue disana? Seperti apa tempat ITU?”
Dan jadi takut untuk tidak selalu mendekatkan diri pada Tuhan.

Tapi kematian Ibu Ainun yang didahului oleh kanker parah, yang membuat dirinya harus dioperasi 12 kali dalam waktu sebulan setengah saja, membuat gue yang udah berumur ini, lebih memikirkan lagi tentang kematian, yaitu tentang usia yang semakin pendek, juga tentang tubuh yang tidak abadi.

Ketika pagi ini gue bercermin, gue melihat rambut gue masih panjang, hitam, dan ikal. Suatu hari nanti dia akan putih dan tipis, seperti nyokap gue sekarang. Lalu kulit gue masih kencang dan sehat (lulur tiap minggu bo!). Mata gue, walopun udah berkacamata minus 4, masih bisa dipake melihat. Belum katarak seperti nyokap gue. Tapi siapa yang tau organ tubuh kita bagian dalam?

Walaupun mungkin tidak ada kanker, tapi Allah berhak menghentikan regenerasi sel tubuh kita hingga tidak berfungsi lagi. Dan ketika saat itu datang, kita cuma bisa menerima. Teknologi medis di Jerman pun tidak bisa mengembalikan nyawa Ibu Ainun.

Melihat pemakaman almarhumah yang dihadiri banyak orang, dan tahlilan-nya yang tak putus-putus, gue semakin paham bahwa selagi kita hidup, raihlah cinta yang tulus sebanyak-banyaknya dari sesama manusia…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: