Wikileaks: Beware with the power of New Media!

16 Jan

Berita tentang bocoran Wikileaks sudah kita dengar sejak lama, dan puncaknya terjadi di akhir tahun 2010 yang lalu. Tiap hari ANTARA dan koran-koran terkemuka pasti memuat berita tentang Wikileaks. Ini juga yang mendorong gue untuk nulis artikel di majalah analisis politik & ekonomi “PostScript” tentang kekuatan new media.

Berubahnya kebijakan politik dalam dan luar negeri, dilayangkannya nota protes dari suatu negara ke negara lain gara-gara tersinggung, saaaaampe ngibritnya diktator Tunisia, Ben Ali, ke Arab Saudi adalah gara-gara bocoran kawat diplomatik yang disebar oleh Wikileaks.

What do we learn from this? Jangan remehkan kekuatan teknologi informasi. Orang boleh aja meraup untung dari penemuan world wide web, jualan domain, dsb. Tapi ‘pemaksaan modernisasi’ besar-besaran seperti itu juga meminta konsekuensi. Pagar bisa makan tanaman. Jeruk bisa makan jeruk.

Anyway, kalo inget-inget apa yang dikatakan Amartya Sen tentang ‘hak mendapatkan informasi’ adalah bagian dari demokrasi dan penangkal kemiskinan, mungkin apa yang terjadi di Tunisia adalah bukti paling anyar. Penguasa korup, dan kkn-friendly itu kabur tunggang langgang setelah people power di negara itu berhasil menekan pemerintah dengan kerusuhan dan aksi demo, persis seperti yang dilakukan pemuda kita di tahun 1998. Rakyat Tunisia yang tadinya emang udah empet sama Ben Ali makin yakin untuk bertindak ketika Wikileaks membocorkan kawat diplomatik USA tentang kelakuan pejabat pemerintahnya.

Menurut ANTARAnews, tumbangnya kekuasaan diktator di Tunisia membawa gelombang semangat demokrasi yang sama ke negara-negara Arab lainnya. Penguasa di Mesir, Lebanon, Aljazair, Yordania, lumayan pada deg-degan. Buat gue ini menarik, karena negara-negara timur tengah umumnya memiliki tradisi otoriterisme yang nggak terlalu memberi ruang bagi rakyatnya untuk berbicara. Di beberapa negara tertentu, hukum agama bahkan di ‘eksploitasi’ atau mungkin ‘di modifikasi’ untuk melegalkan peraturan yang ditetapkan oleh penguasa. Pergantian kekuasaan dilakukan melalui kudeta, baik berdarah atau tidak berdarah. Kali ini, untuk pertamakalinya, penguasa negara Arab dijatuhkan oleh rakyatnya sendiri.

Dengan kebebasan berbicara yang disupport oleh teknologi informasi, opini publik bisa terbentuk dalam skala besar, dalam jangkauan yang luas, sampe akhirnya bisa memperoleh dukungan luar. Melalui jejaring sosial aja kekuatan bisa dibentuk.

Walopun begitu, penguasa bisa aja sih menutup akses informasi. Kekerasan di Myanmar sekitar 2-3 tahun lalu, misalnya, waktu para bhiksu di penjara dan disiksa gara2 menentang ketidakadilan junta militer, agak sulit di intervensi oleh pihak luar karena junta militer menutup akses informasi rakyatnya menuju internet. Blog seorang Myanmar yang dianggap sebagai satu-satunya akses dunia luar kepada berita2 terbaru di sana pun, diganggu.

Tapi itu kan di negara non-demokrasi. Gimana dengan Indonesia, yang ngakunya sebagai negara demokrasi? Apa masih mau menekan hak atas informasi dengan bikin undang-undang rahasia negara? Hehehe.. disini harusnya kita stay tune alias mantengin pemerintah, jangan sampe mereka maen tutup keran sendiri. Selama ini peraturan yang dibikin suka lucu-lucu sih, dengan bahasa yang ga jelas dan menyesatkan. Salah satunya Peraturan Pemerintah tahun 2004 dan 2010 tentang tarif perpanjangan SIM! Nggak jelas tuh perpanjangan SIM sekarang kudu bayar asuransi dan tes kesehatan in a separate fee ato nggak! (Curcol!)

Eh, back to Tunisia. Hehe gue demen kalo nulis di blog nggak perlu pake editorial2 an. Suka suka gue aja gitu ngebahasnya.. haha! Gue tertarik dengan gerakan orang2 terpelajar di Tunisia yang berani menumbangkan penguasanya, dan melalui dunia maya bisa menginspirasi pemuda2 lain di negara Arab lainnya tentang ‘kedaulatan rakyat’. Tapi seperti apa ya demokrasi yang bisa tumbuh disana, secara kultur orang2 nya berbeda dengan kita? Hmm..I wanna know!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: