The (New) Road to Turkish Scholarship!

4 Okt

Sodara-sodara, dua tahun lalu saya mencoba beasiswa S2 dari Pemerintah Turki dan belum berhasil. Galau, risau, pokoknya sebel deh. Down abis. Tapi tetep ngotot alias nggak nyerah.

Semakin gagal, semakin penasaran jadinya. Akhirnya setelah itu, apapun yang berhubungan dengan Turki selalu menarik perhatian gue.
Kenapa gue tertarik untuk S2 di Turki? Ini pertanyaan khas interviewer beasiswa. Hehehehe.. tapi gue nggak akan menjawab diplomatis di sini. Simple, waktu itu sih karena pengen ketemu pacar! Hehehe. Memang, waktu itu gue emang pengen banget S2 tapi nggak di Indonesia. Segala beasiswa udah gue coba. Dari mulai Fulbright, Chevening, BGF, Erasmus Mundus, semua ga berhasil. Sampe akhirnya si kucluk itu muncul dan gue iseng-iseng googling beasiswa Turki.. Eh! Ada! Lagi dibuka, pula!
Beasiswa itu juga nggak memerlukan syarat akademis macem2. Tapi cukup bikin repot. Misalnya, kudu keluar duit buat Medical Check Up, dan nantinya harus bayar transport sendiri ke Turki. Tahun 2009 sih, waktu gue pertama kali apply, gue ga pake medical check up. Waktu itu cukup surat keterangan sehat dari puskesmas.
Sebenernya gue keterima beasiswa untuk belajar bahasa selama 2 bulan. Tapi malang, gue ga ambil karena gue lagi ngerjain proyek Tanzconnexion di Goethe Institut. Sedih memang, karena seperti buah simalakama. Kalo proyek di Goethe nggak gue kerjain, gue waktu itu butuh banget portfolio buat CV gue. Kalo ga ambil beasiswa Turki, rugi. Tapi akhirnya gue putuskan melepaskan beasiswa bahasa itu. Karena selain belon punya duit buat beli tiket (nekat man), masa gue disuruh berangkat seminggu setelah pengumuman! Gokil juga. Plus, waktu itu nyokap keliatan belum rela gue pergi jauh2 (plis deh, mom).
Ketika gue coba beasiswa S2, gubrak tralala… gagal juga. Sedihnya ga ketulungan, udah kaya orang nyasar ga tau arah idup. Udahlah bokek, pekerjaan tetap ga punya, S2 juga belon, ga ada dukungan dari siapa-siapa termasuk dari ortu sendiri, wis pokoknya nelangsa lah.
Singkat cerita, akhirnya terdamparlah gue di kantor gue sekarang, The Habibie Center. Ini titik balik idup gue sih, gue rasa. Tetep penasaran dengan beasiswa Turki, pelan-pelan gue bangun kembali semua rencana gue dan Allah membantu gue mencicil modal untuk apply lagi. Sengaja gue ga apply di tahun 2010 karena gue belum 1 tahun di kantor ini. Selama kerja, gue cicil porfolio dengan menjadi staf humas, staf proyek Media Literacy dan mencoba nulis untuk majalah analisis politik dan ekonomi dwi bulanan. Di sini gue juga ketemu dan kenalan dengan orang2 baru yang bisa bantuin gue nambah ilmu dan wawasan. Dan titik puncaknya adalah….. waktu gue ketemu dengan presiden Turki, Abdullah Gul! Wah, pokoknya pengalaman waktu itu tuh.. SESUATU BANGET deh!
Ketika beasiswa pemerintah Turki 2011 dibuka, mulai lah gue mencicil segala sesuatu. Bikin paspor baru, perbaiki CV (walopun ga diminta.. aneh nih beasiswa), dan berburu surat rekomendasi. Pertama gue coba dari mantan direktur komunikasi gue, Pak Makka, yang mantan redaktur Republika. Nggak puas dengan surat beliau (kira-kira kedubes Turki kenal doi nggak ya?), gue coba ke Rudi Sukandar, ahli di bidang komunikasi yang waktu itu lagi bantuin proyek kita dengan Bappenas. Tapi doi bilang pikir2 dulu (ya iyalah, secara kita ga kenal sebelumnya!). Terus gue coba ke bang Ade Armando. Nah, yang ini gue ngerasa lebih sreg. Karena selain orangnya asik, kenal gue, kita pernah satu proyek waktu di Media Literacy, doi juga udah doktor dan dosen komunikasi di UI dan Paramadina. Pleus, doi mantan anggota KPI dan pernah di Republika. Untung bang Ade nggak pelit.
Menjelang detik-detik ngajuin aplikasi, malem2, tiba2 gue teringat seseorang. Orang yang nggak pernah terlintas sedikitpun di otak gue bakal gue minta bantuan: Profesor Dewi Fortuna Anwar. Gue pernah terima undangan dari kedubes Turki untuk bu Dewi di tahun 2010, untuk menghadiri malam kebudayaan Turki gitu di hotel Shangrila. Kebetulan bu Dewi nya nggak bisa hadir. Jadilah malam itu, gue hubungi bu Dewi lewat email. Gue jelaskan maksud dan niat gue ingin belajar apa, apa rencana gue dimasa depan, dsb. Gayung bersambut. Doi bersedia ngasih gue rekomendasi asal gue lapor dulu sama direktur gue. Hahay…
Nggak disangka direktur gue dengan mata berkaca-kaca bilang, “Gue ga bisa menghalangi orang untuk mencapai cita-citanya. I know you really want this. Go ahead”. Yaay! Siang-siang dari kantor gue ngebut ke Sekretariat Wapres dengan sedikit sakit perut karena senewen takut telat dan dimarahi. Sampe sana, sekretaris bu Dewi udah pulang dan gue takuuuut banget karena dibilang terlambat sama doi. Tapi walopun begitu doi tetep melanjutkan janjinya. Gue disuruh memperbaiki grammar dan kata2 di surat rekomendasi itu di komputer beliau, nge print diatas kop surat kantor, dan voila… mulailah gue di interogasi..eh.. di tes interview.
“Kenapa harus Turki? Kenapa nggak belajar ilmu itu di negara lain saja yang jelas-jelas semua orang tau hebatnya.. misalnya Amerika, Singapura….” tanya beliau tegas dalam bahasa inggris, dengan wajah serius dan mata menatap tajam. Mak… matilah gua diinterogasi wanita super satu ini!
Dan gue pun menjawab dengan ngaco. Habislah gue di kritik beliau. Setelah di kritik abis-abisan, dikoreksi, dan ditawari susu coklat Ultra, gue bisa bernafas lega karena tanda tangan beliau udah ditorehkan diatas secarik surat rekomendasi yang bisa gue bawa pulang. ‘Prof. Dewi Fortuna Anwar, Chairman of Institute for Democracy and Human Rights, Director of ASEAN Studies Program.’ Dan pulanglah gue dengan sisa-sisa sakit perut karena senewen yang masih terasa🙂
Setelah itu, gue cari waktu untuk medical checkup. Sumpah gue baru tau kalo medical check up itu MAHAL! Dengan bismillah, gue cari-cari MCU yang nggak terlalu mahal. Nyokap menyarankan di RSPAD Gatot Subroto. Selain karena fasilitasnya bagus, itu tempat MCU nya calon presiden dan wakil presiden beserta staf2 nya. Sebenernya ada paket yang murah, cuma 400-500ribuan gitu, buat calon karyawan. Tapi ketika dibilang ini untuk apply beasiswa ke Turki, pihak rumah sakit bilang gue harus MCU yang standar luar negeri. Ya sutralah gue percaya aja, toh ga ada ruginya juga gue jadi tau kesehatan gue. Dengan 800 ribu rupiah (50-50 sama nyokap), gue izin setengah hari untuk MCU.
Pagi-pagi gue udah diambil darah, terus dikasih sarapan gratis. Ruang MCU luas sekali dengan kamar-kamar periksa. Ada lab darah, bagian THT, mata, penyakit dalam, dsb. Bersama ibu-ibu dan bapak-bapak yang sama2 pake kimono seperti gue, gue keluar masuk dari satu kamar ke kamar lain. Kalo nyokap gue bukan dokter, mungkin gue udah sport jantung kali ya. Masuk sini, diambil darah. Masuk situ, kudu nampung urin. Masuk sana, idung gue diintip-intip. Belum lagi pas periksa EKG alias detak jantung. Gue udah berasa six million dollar woman yang lagi di charge, karena tubuh gue ditempelin kabel-kabel gitu.
Sekitar dua hari kemudian, hasil MCU gue keluar. Lengkaplah sudah berkas aplikasi beasiswa gue. Sambil menunggu-nunggu saat yang tepat, semua berkas gue bawa-bawa terus di jok belakang mobil.
Suatu hari, gue berangkat ke kantor seperti biasa. Tiba-tiba, mobil gue mendadak aneh. Di injek pedal gas tapi ga berasa getaran. Dutdutdutdududududduuutttt……mobil gue pengsan. PAS beberapa meter setelah melewati kedutaan Turki!
Setelah menghabiskan 6 botol Aqua (tukang Aqua langsung panen), dibantu oleh pak Polisi di bawah fly over Kuningan, mobil gue yang pipa radiatornya bocor itu didorong kepinggir jalan Gatot Subroto mengarah ke Pancoran dengan persneling dua. Mobil nyala lagi, tapi gue putuskan untuk parkir aja di kantor BULOG, pas di hook dan disamping kedubes Turki. Maybe it’s time to submit all the documents!
Untung hari itu gue lagi rapih. Gue jalan menyusuri trotoar menuju pos sa
tpam. Disana gue menyerahkan berkas2 gue. Pak Satpam nanya, “dari universitas/lembaga apa mbak?” gue jawab gue lulusan Trisakti, dan sekarang di The Habibie Center. Terus si satpam ngomong ke dalem pake mikrofon. Lalu ngomong ke gue, “Mbak, karena kita waktunya udah mepet, bisa nggak interview hari ini? Tapi jam 10. Setengah jam lagi.” Hm… karena mobil gue lagi setengah mogok, dan bisa dijadiin alasan untuk telat ngantor, jadi gue iyain aja. Gue pun masuk.
(bersambung)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: