Bertemu Presiden Turki

5 Okt

Sori ya, sebenernya pengen bikin judul “The (New) Road to Turkish Scholarship 4”, tapi kayanya kurang nyambung deh. Ya udah gini aja ya.

Diantara keajaiban-keajaiban yang gue terima, salah satunya adalah kesempatan langka seumur hidup gue bertemu dengan presiden negara pemberi beasiswa yang gue tuju. Awal April 2011, gue bertemu in person dengan Abdullah Gul, presiden Republik Turki.
Berawal dari suatu sore, direktur gue dengan santainya bilang, “Wi, awal April nanti Presiden Turki mau ketemu Bapak (BJ Habibie). Gue sebenernya disuruh hadir, tapi gue males… Lu aja yah yang nemenin Pak Watik untuk dampingin Bapak!”
APOAAA????? Gue ga bereaksi spektakuler sih, tapi langsuoong joget-joget!
Ternyata benar. Awal April, Presiden Turki diberitakan media massa akan berkunjung ke Indonesia dalam kunjungan kenegaraan untuk bertemu Presiden SBY. Sepertinya sih kunjungan balasan. Secara SBY kan udah nyamperin doi di September 2010. Nelorin beberapa kesepakatan bilateral, lagi.
Namun sehari sebelum ketemu SBY, kira-kira beberapa jam setelah doi mendarat (kali ye?), Gul mau ketemu personal dulu sama Presiden ke-3 kita. Sowan lah, istilahnya. Mungkin karena si Bapak adalah tokoh ICMI dan mereka sama-sama pernah berada di forum cendekiawan muslim internasional.
Kira-kira jam setengah 3 siang, gue meluncur dari kantor di Kemang ke kediaman BJH. Udah siap dengan kamera untuk jeprat jepret. Di sana ketua dewan pengurus kita, Pak Watik, lagi nyiapin referensi tentang maksud kunjungan presiden Turki untuk pak Habibie. Maklum, si Bapak udah sepuh, dan meetingnya dengan berbagai orang tuh banyak banget. Jadi kudu dibantu juga ngatur jadwal pertemuan supaya ga cape.
Jam setengah lima-an kita berangkat. Gue semobil dengan putra sulung BJH – Pak Ilham, dan pak Watik. Sedangkan BJH dan Profesor Zuhal Abdul Kadir di mobil lain. Biasanya gue ngutuk voorrijder yang suka mengusir mobil kepinggir demi pejabat atau orang kaya yang mampu bayar voorrijder. Tapi kali itu rasanya nikmat sekali disupirin semobil bersama putra mantan presiden, dengan voorrijder mengawal di depan kita🙂 Ya sutra lah ya, namanya juga mantan presiden, dia memang berhak kok untuk di dampingi Paspampres. Dalam hati gue membatin, “Ya Tuhan, siapalah gue dua tahun lalu! Sekarang gue berada di mobil ini, bersama orang-orang ini, mau bertemu presiden Turki!”
Dalam hati sempet deg-degan, karena Pak Watik bilang ‘Wi, sebenernya, namamu terlambat diinfokan ke Paspampres.. mereka bilang nanti lihat di lapangan.. tapi kamu nanti jalan dekat-dekat bapak aja, ya! Pokoknya stil yakin!’
Sampe depan lobi Shangrila, pintu mobil dibuka dan kita disambut beberapa paspampres dan orang-orang Turki berjas biru tua. Mungkin mereka paspampresnya Presiden Turki, kali ya. BJH, Pak Zuhal, Pak Watik dan Pak Ilham serta pengawal pribadi BJH berjalan cepat-cepat menuju ke dalam. Gue pun ikutan jalan cepat-cepat dirangkul Pak Watik. Alhamdulilah, semua berlangsung smooth, gue dan semua rombongan sudah masuk ke dalam lift, disambut oleh duta besar Turki untuk Indonesia, Murat Adali, dan beberapa orang stafnya.

Sampai di Presidential Suit, disana udah banyak (lagi-lagi) orang-orang turki berjas biru. Seperti waktu pertamakali ke kedubes Turki (dasar norak), I felt like in heaven.. ehhehe. Banyak malaikat ganteng!
Kita masuk ke ruang tamu, dan BJH bersama dubes Turki ngobrol-ngobrol sebentar. Pak dubes memperkenalkan Secretary nya yang baru, pengganti pak Topuz. Gue stand by bersama wartawan2 Turki yang udah pada bawa kamera segede-gede gaban. Cowok semua. Sumpah, gue cewek sendiri disitu selain seorang staf wanita Turki.
Tak lama kemudian si orang Turki tinggi kurus berjambul Lucky Luke memberi kode, artinya Presiden Gul siap memasuki ruangan. Ketika pintu ruangan terbuka… gue siap dengan kamera digital kantor yang udah gue setting untuk indoor tanpa blitz…..JEPRET!JEPRET!JEPRET!… “Selamun Aleykum!” Pak Presiden yang berwajah ramah itu memasuki ruangan sambil menyapa dengan hangat dan sopan, menjabat dan memeluk BJH yang langsung gue abadikan dengan panning dalam multiple shot!
Mereka saling bertegur sapa, berkenalan, dan bertukar kartu nama. Kita dikasih waktu beberapa menit untuk mengabadikan mereka. Thank God kamera kantor gue cakeeep banget performanya waktu itu. Jadi, nggak nyesel deh gue.
Pak Gul tampak sedikit malu-malu menghadapi BJH dan terus memanggilnya ‘Professor’. BJH menanggapinya dengan bercanda, ‘What do you want? Skip that Professor! Hahaha..” dan Gul menjawab dengan tertawa, “Well, I feel honored to meet a great professor like you, and this is how I should do while meeting a senior like you🙂 You must have a longer experience than me, you’re even older than my father!”. Gue tersenyum saat itu. Wah, sebuah pengakuan sopan dari seorang Presiden negara lain untuk mantan Presiden kita.
Lalu, semua wartawan dan ajudan diminta untuk meninggalkan ruangan. Lumayan juga, dapet banyak foto. Di luar ruangan, sebenernya gue rada canggung untuk ngobrol dengan orang lain. Akhirnya gue deket2 ajudannya bapak aja, dan ngobrol sama ibu-ibu paspampres yang ramah banget. Lagi enak-enak minum jus, tiba-tiba salah seorang Turki berjas biru berwajah umur 25-an menghampiri gue. Gayanya intel banget, deh. Dengan wajah intimidatif serius, nyamperin gue deket banget udah kaya mo nyopet, taunya ngomong gini,
“..uhm.. kita sebenernya punya bingkisan untuk mantan presiden anda. Tapi keliatannya rombongan anda tidak bawa apa-apa, kan untuk kami. Nah.. kami bermaksud untuk menitipkan saja bingkisan ini, tapi kita kudu make sure bingkisan ini dipegang oleh siapa… anda tau kita bisa titip ke siapa? ke anda saja bisa?”
Gue bilang “titip aja ke bapak ini,” sambil nunjuk ke ajudan bapak, ”
dia ajudan pak mantan Presiden.” Tapi si Turki jas biru ini menoleh tanpa interest ke pak ajudan, dan akhirnya setelah bisik2 ke temennya yang botak, dia insist untuk memberikannya ke gue. “What is your name?” katanya. Gue kasih aja kartu nama gue. Beres dah. Doi lega.
Secara tuh kado lumayan berat dan gue pake high heels, akhirnya gue titip aja ke pak ajudan yang langsung manggil supir bapak naik keatas untuk ngambil.
Pertemuan BJH-Presiden Turki berlangsung sekitar 20-30 menit aja. Gue ga tau mereka ngobrolin apa. Tapi pas sebelum azan magrib, pertemuan berakhir. It’s time to go home.
Presiden Gul kembali ke kamar pribadinya, sedangkan rombongan Pak BJH diantar oleh dubes Turki beserta stafnya turun ke lobi melalui lift. Di dalam lift, BJH masih ketawa-ketawa dengan dubes Turki dan perwakilan dagang Turki untuk Indonesia. Sepertinya dia lagi ngebahas kebiasaannya yang suka gampang lupa sama orang kalo ga sering-sering ketemu, saking sibuk dan banyaknya hal yang dipikirkannya. Sementara, lift saat itu lebih banyak dipenuhi orang Turki (staf kedubes dan maybe paspampresnya Presiden Turki) daripada orang Indonesia.
Dasar ya si bapak, udah sepuh masiiiih aja gokil! Gue yang berdiri di sudut lift tiba-tiba di tunjuk sama doi sambil nyengir lebar, “…Eh? Mbak, orang Indonesia, ya?” seolah-olah kita sesama imigran Indonesia yang lagi nyasar di negeri orang. Gue senyum2, dan Pak Watik menepuk bahu gue, “Dia staf di THC, Pak!”. Dan lo tau tanggapan BJH? Dia cekikikan!
Sambil cekikikan dia semi berbisik ke dubes Turki, “Hi hi hi.. see? Even she is from The Habibie Center, and I didn’t knoww!!!”
Hi hi hi…

Hari yang menyenangkan, dan penuh keajaiban. Kita kembali ke Patra Kuningan dan sesampainya disana gue pun kembali ke rumah dengan mobil gue sendiri. Life is amazing.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: