Menyambut Palestina ke Pangkuan Dunia

1 Nov

Setelah membaca berbagai berita tentang diakuinya Palestina sebagai anggota UNESCO dan kebakaran jenggotnya Amrik, gue jadi ketawa. Hooooiiii! Siapa seeeh yang dulu bekoar-koar bicara tentang humanity, tentang demokrasi, tentang kebebasan berpendapat, tentang konsensus, tentang one man-one vote? Haaaahhh????

Tiba-tiba sekarang mangkir, ngambek pundung dan mengancam tidak akan memberikan dana lagi untuk UNESCO. Wakakak!
Ya sudahlah, kalo ga mau ngasih ya ra po-po. Mending simpen aja tuh duit buat ngurusin problem keuangan dalem negeri lo, pulangin tentara-tentara muda yang pada pengen nikah daripada perang di timur tengah, dan urusin dulu deh tuh pengangguran di negara lo.
Negosiasi langsung adalah skenario yang selama ini ingin dipertahankan negara adidaya itu untuk menutup kemungkinan terjadinya intervensi negara lain terhadap persoalan Palestina-Israel. Dalam skenario itu pula mereka bebas memainkan framing selama bertahun-tahun, bahwa Palestina tetap ngotot, Palestina tidak bisa diajak kompromi, Palestina tidak konsisten dan lain sebagainya.
Terus terang gue ketinggalan berita tentang bagaimana awalnya Palestina bisa mulai memasukan dirinya kedalam badan UNESCO. Tapi ini manuver yang keren. Waktu nonton video voting nya di guardian.uk, gue merinding dan pengen berada di sana. Negara-negara yang tidak mendukung adalah Israel, Amerika, Jerman, Swiss, dan beberapa negara sekutu AS. Tapi ketika Perancis berkata “Oui!” alias “Ya!” semua hadirin bertepuk tangan! Satu-satunya negara EU yang mengakui Palestina adalah Perancis!!! Ternyata semangat Liberte, Fraternite dan Egalite nya masih ada! Selain itu, sekretariat UNESCO ada di Paris. Kalau Perancis sampe berkata “Non”, huh, mending pindahin aja tuh gedung ke sebelah patung Pancoran.
Melibatkan opini publik dan keterlibatan dunia luar selain yang ditetapkan dalam skenario Amrik akan mendorong dukungan internasional terhadap pengakuan kedaulatan Palestina. Ditolak mentah-mentah masuk PBB, mereka masuk lewat UNESCO. Cantik banget. Pelan tapi pasti, dan tentunya, cerdas.
Posisi Amrik dalam konstelasi dunia juga udah mulai lembek. Kondisi dalam negeri bermasalah, image luar negeri memburuk, seringai gigi udah mulai ompong, dan muncul saingan2 baru. Yang bisa mereka lakukan saat ini sebenernya hanya ngotot.
Pamor Amrik yang udah mulai luntur, dan mulai berubahnya peta kekuatan dunia inilah mungkin yang membuat Perancis untuk tidak mengambil keputusan yang sama dengan mereka, dan memaksa Inggris, Jepang dan Selandia Baru untuk abstain alias tidak buru-buru menyatakan sesuatu. Mereka cukup hati-hati, sedangkan Amrik jadi ceroboh.
Feeling gue nih, pada akhirnya skenario rekayasa akan runtuh ketika pendukungnya juga runtuh. Pendukungnya adalah kepercayaan publik. Dan kebetulan, itu juga udah mulai luntur. Instrumen yang paling berpengaruh terhadap kepercayaan publik adalah media massa. Dan setelah kebebasan akses informasi semakin mudah, pikirin lagi deh rekayasa framing melalui media konvensional. Hosni Mubarak digulingkan gara-gara social media, gosip diplomat bocor lewat wikileaks. Masyarakat makin melek media. Hayoh, siap-siap strategi baruu.. hehehe. Tapi udah agak telat kayanya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: