Is it gonna be an opportunity or a tough decision?

17 Nov

Belakangan ini kok gue enggan untuk menulis cerita pribadi di dunia maya. Banyak yang ingin di share, tapi gara-gara pernah terlibat dalam proyek literasi media, tiap kali udah sign in di blog, gue selalu ragu. Dan akhirnya sign out. Mungkin, memang harus dipiliah-pilah kali ya. Mana yang penting untuk di post dan berguna untuk orang lain, mana yang nggak. Karena ga semua urusan pribadi perlu dibagi ke orang lain. Semoga sih yang gue post di blog ini banyakan yang bergunanya daripada yang nggak.

Tapi gimana dong. Dorongan hari ini rada-rada pengen curhat! hehe.
Menjelang tahun 2012 ini gue mulai memikirkan langkah hidup yang lebih serius. Heran deh, ga pernah gue seserius ini. Mungkin karena hari senin depan gue udah 32, kali yaa. hahaha!
Setelah empat tahun mengejar beasiswa ke luar negeri dan sampe tahun ini masih gagal juga, membuat gue ended up untuk menapaki hidup dengan realistis, tapi tetap optimis. Kalo gue pikir, empat tahun lalu itu sebenarnya tujuan utama gue adalah:
1. Menemukan bidang yang tepat
2. Keluar dari rumah dan tinggal di kota di negara lain yang populasinya nggak sepadat di Jakarta
3. Berada di komunitas baru yang lebih kondusif
4. Mendapat pengakuan atas prestasi di dalam dan luar negeri
5. Dapat pacar.. hahaw!
Ternyata toh selama empat tahun itu, beberapa check list sudah tercentang. Menemukan bidang gue, berada di komunitas baru yang lebih kondusif (plus network2 penting), mendapat pengakuan atas prestasi di dalam dan luar negeri, dan dapat pacar! Jadi..? Tinggal check list kedua yang belum tercapai.
Tapi, keluar dari rumah dan tinggal di negara lain toh tidak harus dengan S2 yang memakan waktu dua tahun serius dibawah beasiswa yang mewajibkan kita untuk pulang kampung setelah kuliah berakhir. I can go there for any reason. Liburan, kerja, kursus bahasa, or raising a family.
Jadi, kenapa gue harus iri melihat foto-foto penerima beasiswa luar negeri yang lagi mejeng di KBRI dengan jas-jas keren nya itu? Kenapa gue harus iri melihat foto-foto mereka di event luar negeri, yang paling-paling mereka cuma jadi peserta or cuma undangan? Oh my God… here, I even ORGANIZED those kind of events! I INVITED and HOSTED those foreign professors, scholars, diplomats, politicians and even the foreign president! I can talk to them easily!
HA🙂
Cuma ada dua kemungkinan sih. Satu, gue kurang bersyukur. Dua, guenya yang nggak sadar akan prestasi sendiri. Tapi jujur sih, gue lebih ngerasa yang kedua. Ini penyakit dari dulu. Karena memang nggak biasa di apresiasi oleh ortu sendiri, sebagai bagian dari cara mereka mendidik gue untuk tidak manja dan sombong, gue selalu merasa ‘belum cukup hebat’.
Jadi ternyata, keempat checklist itu bisa gue raih dengan usaha gue sendiri.Tapi untuk checklist nomer dua, ternyata khusus untuk gue skenarionya beda. Tuhan tidak menyalurkan rezeki Nya lewat saluran beasiswa. Tapi lewat ortu sendiri, yang Dia pending selama bertahun-tahun untuk menguji kesabaran gue.
Selama bertahun-tahun bokap selalu merasa anak-anaknya tidak cukup hebat untuk bisa mandiri. Padahal, dia sendiri yang menggembleng kita untuk mandiri dan tidak bergantung pada orang lain. Dia juga yang membatasi kita dari hedonisme supaya bisa lebih fokus pada pengetahuan, yang membuat kita selalu jadi langganan ranking 1 di kelas. Dia juga yang tanpa sadar mengajarkan kita untuk berpikir 1000 langkah lebih maju dari orang lain, tapi dia suka terkaget-kaget dan kesal kalo anak-anaknya mendadak lebih pintar dari dia.Terakhir, dia juga yang mengenalkan kita pada hal-hal yang berhubungan dengan dunia internasional, tapi baru tahun ini dia sadar bahwa gue bisa bercakap-cakap dengan orang asing dalam bahasa Inggris, dan takjub ketika kakak gue presentasi di kelas FLE nya dalam bahasa perancis.
Tapi dia nggak pernah memuji langsung.
Selama dia tidak menyadari potensi anak-anaknya sendiri, tidak sepeser pun dia keluarkan untuk mendukung keinginan kita untuk belajar di luar negeri. Itulah yang membuat kita menghabiskan waktu bertahun-tahun sampe kribo untuk mencari sejumlah uang itu.
Ternyata, uang bisa di cari. Tapi selalu ada penghalang lain yang tak kalah powerful. Yaitu keikhlasan nyokap. Intangible power yang bisa membuat segala sesuatu yang ‘mungkin’ menjadi ‘tidak mungkin’.
Even seven years ago I had enough money to leave this country. I could pay the tuition fee if I wanted. Tapi tanggapan nyokap selalu dingin. Dan itu membuat gue mati kutu, tidak bisa apply visa pelajar kalo tidak ada support dana pinjaman untuk menunjukan bank account dalam nilai tertentu. Dan dia memanfaatkan sisi itu. Sampe saat ini, gue ga tau kenapa waktu itu nyokap tidak merelakan hatinya untuk melihat gue belajar di luar negeri, padahal secara mental, bahasa dan intelektual gue mampu.
Tapi tahun ini sungguh ajaib. What a tremendous change on them! Kekeras kepalaan mereka luntur. Keraguan mereka luluh. Berbalik jadi mendukung, dan malah kalo bisa cepet2. Aneh!
“Ya udah, cari aja sekolahnya. Udah dapet? Harus siapin apa aja?” kata bokap dan nyokap. Kali lain dia bilang “Jadi gimana hubungan kamu dengan cowok itu?”
Jiah. Sekarang gue disuruh cepet-cepet kawin dan sekolah di luar.
Mereka tau cowok gue bukan orang Indonesia. Mereka juga tau gue pengen sekolah di luar. Mereka mendukung semua itu.
Tapiii….!
Gue jadi bingung. Karena itu artinya gue harus memilih antara married dulu atau sekolah dulu. Karena untuk menikah artinya gue harus ngomong panjang lebar dulu sama si pak bos. Menyesuaikan rencana hidupnya dengan rencana hidup gue. Kalaupun sekolah apakah bisa di negaranya atau boleh di Perancis, tempat kakak gue berada. Sebenernya, karena dia dosen sejarah Perancis, pastinya dia akan oke-oke aja dengan pilihan gue. Tapi kan tetep aja kudu dibicarakan. Terus kalo misalnya di Perancis, mo sekolah yang mana? Certificate atau M1 (master setahun)? Bahasa pengantar Inggris atau Perancis?
Di saat yang lain ada yang berbisik di hati gue, “Beneran mo sekolah lagi? Apa mendingan langsung kerja aja sambil nerusin karir dan memanfaatkan network di luar?”
Ah. bingung.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: