Wakil PM Turki di Tangerang Selatan

11 Des

Nyokap gue waktu hamilin gue ngidam onta, kali ya.

Kok di awal 30-an ini gue udah 3 kali aja ‘terhubung’ dengan politisi Turki. Terhubung artinya ya bisa berdekatan secara fisik atau lewat korespondensi jarak jauh. Dan semuanya gak sengaja. Nggak gue minta.
Pertama waktu ketemu presiden Turki. Kedua, korespondensi dengan si ibu mantan deputi perdana mentri. Ketiga, tiba-tiba dikasih undangan ke acara kedatangan wakil PM Turki, Bulent Arinc.
Memang sih gue pernah ngebatin, “hm.. kayanya seru nih kalo suatu hari gue ketemu sama si Erdogan.” Eh.. bukan Erdogan yang gue temui tapi wakilnya!
Kira-kira hari senin lalu, seorang teman alumni sekolah Turki yang cuma gue kenal lewat dunia maya tiba2 YM gue. “Mau gue kasih undangan dari Bulent Arinc nggak?” katanya, “kapan kita bisa ketemuan?”. Gue bilang “apaan tuh bulet-bulet?”. “Wakil PM Turki,” katanya.
Terus kita ketemuan di Pejaten Village. Ambil undangan.
Jadi, setelah menghadiri Bali Democracy Forum, si wakil PM ini menyempatkan diri ketemu dengan pejabat2 dan pengusaha termasuk SBY. Lalu di hari Sabtu, dia nyempetin lagi mampir di sekolah Turki di Tangerang Selatan.
Berdua seorang teman, gue dateng ke sekolah tersebut. Penyambutannya cukup rapi, standar protokoler lah, pake scanning2 di pintu gitu. Tapi suasananya agak jauh dari kesan formal a-la presidensial. Mungkin karena itu adalah sekolah, dan sekolah dipenuhi dengan anak-anak. Guru-guru yang berkebangsaan Turki tampak sibuk. Mereka semua yang perempuan berjilbab dan ramah. Suasananya terasa ‘down to earth’ alias merakyat.
Sebelum si wakil PM datang, gedung serbaguna di sebelah belakang sekolah masih di steril dan tamu-tamu ga boleh masuk dulu. Kompensasinya, kita dipersilahkan makan dulu di gedung kantin yang disulap jadi ruang makan prasmanan. Gue dan temen gue cengar-cengir liat makanan dan cemilan yang ada di situ. Ha! Saatnya menggila😀
Nasi biryani, daging kebab, semacam roti pratta, salad yogurt. Lalu baklava, puding biskuit + mangga, roti pogaca, dan turkish delights lainnyaaa kita embat semua😀 !
Terus menjelang si wakil PM nyampe, kita diperbolehkan masuk ruangan. Waah… leganya AC di dalem dingin! Di dalam ruangan para orang tua murid duduk di kursi yang udah disediakan. Ada juga para guru, staf, dan anak-anak para guru, bahkan orang tuanya para guru juga ada!🙂
Kita duduk 3 row paling depan, 2 row di belakang kursi yang bakal di duduki si wakil PM🙂 Selama menunggu kedatangannya, kita santai-santai sambil nonton siswa-siswi yang gladi resik tarian saman. Selama nungguin itu, gue perhatiin orang-orang turki yang ada di situ. Selain panitia yang ber-jas, tamu-tamu lain nggak berpakaian layaknya orang mau ke acara formal. Anak-anak mereka berpakaian semaunya. Ada yang rapi pakai rok dan bersepatu. Ada yang kaya mau ke disko. Ada yang pakai kaos dan sendal. Ada anak cowok kecil yang pake baju mirip seragam bartender (atau kostum boyz ii men taon 90-an???) yang ada semacam vest kerlap-kerlipnya gitu dengan kemeja lengan panjang dan celana putih! ARGHK!
Seorang bapak Turki, orang tua dari salah seorang guru di situ, juga cuma berkemeja putih (nggak baru!) dan istrinya polos sekali ga ber make-up. beda banget sama ibu-ibu “sasak” salah seorang orang tua murid di pojokan. Gue pun mahfum. Mereka ini rata-rata dari kota kecil di Turki-nya. Kalau mereka asal Istanbul, Ankara, Izmir atau kota besar lainnya, pasti mereka akan tampil lebih formal dan menyesuaikan diri dengan pihak yang mengundang : wakil perdana menteri.
Ga tau yah, i think it’s just about culture. Di Indonesia, kita mungkin terpengaruh budaya Belanda, yang mengharuskan orang untuk “netjes” alias keren kalo mau ke acara-acara tertentu. Almarhum kakek gue aja, konon waktu beliau masih hidup, makan lemper di sore hari kudu pake garpu and piso kecil, bok! Nenek gue walo kalo lagi kekurangan beras harus nge-gadai kain jarik nya, nonton pelem di Metropole aja dandan dulu, udah kaya mo nonton opera!
Jangankan ketemu wakil perdana menteri. Mo arisan aja ibu-ibu kita pada pake kerudungnya yang paling spektakuler dong. Mana mau mereka kucluk-kucluk ga pake bedak, pake baju seadanya terus dateng ke arisan RT. gengsi, cuy!
Selain guru-guru berkebangsaan Turki, ada juga yang orang Asia tengah. Mereka bertugas jadi panitia lapangan. Berjas hitam. Mereka berbicara bahasa Turki, tapi wajah mereka mongolia banget! Pastilah mereka orang Kyrgistan, Kazakhstan atau Mongol🙂 Maklum, menurut buku yang gue baca, justru merekalah nenek moyang bangsa turki yang sekarang. Bahasa Turki yang digunakan saat ini berasal dari Asia Tengah, bahasa orang2 itu, tapi dengan logat yang lebih kasar.
Jam tiga, dan Bulent Arinc dateng. Semua orang tepuk tangan sampai doi duduk. Aduh gue ngantuk nih, lanjut besok aja yah nulisnya.. hahaha.. sumpah ni mata kriyep banget. To be continued….
Okeh lanjut (ahem udah hari jumat aja! genap seminggu baru ngelanjutin. hihih).
Si Wakil PM masuk ruangan dan semua orang tepuk tangan sampe doi duduk. Acara dimulai sangat seremonial sekali. Pidato walikota Tang-Sel, pidato pihak sekolah, tari-tarian, dan nyanyian Turki yang.. cukup bikin gue pengen bobo. Sungguh aneh, seharusnya lagu-lagu Turki mbok ya menghentak atau joget-joget, ini malah balada. Tapi emang sih, penyanyinya seorang siswi yang bersuara bening. Sebening wajahnya yang pake baju khas wanita Turki. Taelaa…
Sumpah deh!
Dua kali gue dateng di acara beginian, diadakan oleh pihak yang sama, kesannya sama aja: seremonial, tapi kostumnya gebyar-gebyar tralala! Kontras deh pokoknya sama yang dateng.
Satu-satunya suguhan paling seru, dan menurut gue “andalan banget” adalah tari saman. Salah seorang staf kedubes atau pengawal si wakil PM yang duduk dibelakangnya beberapa kali tertakjub-takjub heboh sambil mengarahkan kameranya ke panggung, dan pas tarian berakhir dia menghela nafas “whuuuww!!” sambil berkomentar heboh ke temen disebelahnya. Persis cowo gue yang abis nonton Besiktas lawan Istanbul.
Acara terakhir adalah pidato dari Bulent Arinc. Dari semua pidato yang gue simak, tampaknya Turki ingin mempererat hubungan bilateralnya dengan Indonesia melalui aspek kesamaan budaya Islam. Masuk lewat jalur edukasi, mendirikan sekolah-sekolah di kota-kota kecil yang sedang berkembang. Tangerang Selatan, Banda Aceh, Sragen, D
epok, Bandung, dsb.
Sambil pulang, gue mulai merenung. Kok gue merasakan tongkat Ottoman mulai tertancap di beberapa titik di Indonesia, ya….
Apa yang akan terjadi antara Turki dan Indonesia di 10 tahun mendatang? Akan kemanakah arah strategi luar negeri Turki? We’ll see.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: