Turki 2012: Perjalanan dari Timur ke Barat

Ketika berangkat di Sukarno Hatta, gue udah siap dengan longjohn alias pakaian dalam thermal dan boots serta sweater. Jaket bulu angsa, topi, sarung tangan dan syal dibawa dalam backpack.

Berangkat ke Turki lewat Qatar sendirian, apalagi cewek kaya gue, saat ini mungkin masih mengundang perhatian. Di imigrasi, petugasnya menatap gue curiga. Dia pikir gue TKW kali ya?
“Mbak mau ke Doha? Visa Qatarnya mana?”
Dasar bego ya, nggak liat apa tiket gue tuh tiket transit?
“Visa Qatar? Maaf, saya mau ke Turki!” jawab gue tegas sambil rada melotot.
Tuh mbak-mbak imigrasi (yang gue yakin umurnya juga di bawah gue – senioritas kumat), masih lanjut menginterogasi,
“Visa Turkinya mana?!”
Nggak kalah galak gue jawab dengan tajam, “Sejak tahun 2010 kan agreement pemerintah Turki dan Indonesia adalah mengeluarkan VISA ON ARRIVAL. Saya akan bayar di sana.”
Mungkin karena malu kurang mengupdate berita, tuh petugas mokal dan langsung diem. Lalu men-cap paspor gue dan lolos lah gue dari konter imigrasi.. 🙂
Jam setengah satu dini hari, pesawat menuju Doha, Qatar, lepas landas. Suasana dalam kabin pesawat cenderung tenang, karena orang-orang mulai mengantuk. Setelah late dinner alias hot snack, lampu dimatikan dan semua orang tertidur kecuali gue. Tiba-tiba perasaan gue campur aduk. Jantung berdegup kencang. “Oh my God. What am I doing?! Berangkat sendirian ke negeri orang, am I crazy?”. Kaget, bingung, takut, dan cemas. Dalam hati nggak pernah berhenti membaca An Naas dan ayat Kursi. Tapi dada ini masih aja dagdigdug. Akhirnya detak jantung itu melambat ketika gue memutuskan mengucapkan “Innalillahi wa inna ilaihi rajiun.” Dari Allah lah datangnya segala sesuatu, dan kepada Allah lah segala sesuatu kembali. Gue berangkat dengan izin Allah. Gue kembalikan semua urusan gue pada Nya. Lalu gue tertidur sekitar jam lima pagi.
Ketika bangun, suasana masih gelap. Kok dari tadi masih gelap aja ya? Ternyata, gue baru sadar kalo kita terbang ke arah barat, di mana waktu berjalan di belakang bumi bagian timur. Jadi ya… mundur lagi sekitar empat jam!
Orang-orang belum ada yang bangun. Tapi tenggorokan gue tiba2 tercekat. Wah… bengkak nih. Radang deh. Wadooh. Gawat dah. Mulai batuk-batuk. Oh tidaaakk… gue ga mau sakit di Turki! Otak langsung berpikir cepat. Ah, ini bukan karena virus. Ini pasti alergi perubahan suhu. Mungkin udara dalam kabin pesawat kering, jadi tenggorokan lecet. Harus minum air putih nih. Tapi, kalau ada permen pereda radang sih boleh juga. Sialnya, Lemocyn gue ada di backpack di rak kabin diatas gue dan cukup tinggi.
Gue menunggu sampai pramugari lewat. Seorang pramugari Qatar Airways asal Pakistan atau India pun muncul. Gue bilang dengan suara serak, “Do you have something for sore throat?”. Ternyata pramugarinya baik banget. Dia bilang dia ga punya obat, tapi mungkin bisa bikinin gue minuman pereda tenggorokan. Beberapa menit kemudian dia muncul dengan segelas air hangat.
“Hi,” katanya lembut, “I hope this will help. It’s warm water with honey, lemon, and pepper in it. Get well soon!”
Dan ajaib. Ramuan sederhana itu bikin tenggorokan gue hangat dengan mericanya, segar karena madu dan lemonnya, lega karena air hangatnya. Gue tertidur lagi.
Waktu terbangun…Wow, tenggorokan gue udah sembuh! Thank’s to the kind stewardess:) Lampu kabin sudah menyala dan cabin crew mengumumankan makan pagi. Tapi tetep, jendela masih tertutup dan kalaupun mengintip keluar, langit masih gelap. Sekitar setengah jam setelah selesai makan pagi, kapten pesawat mengumumkan bahwa kita akan segera mendarat di Doha pada waktu subuh. Pantesan dari tadi gelap-gelap aja…
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s