Makan sushi-sushi an di Sushi Miyabi

22 Apr

Alhamdulilah, bulan-bulan ini usaha bakery n pattiserie keluarga lagi peak season. Orderan kue ultah, cookies dan cupcake sejak bulan lalu padat merayap. Seperti graphic designer yang kebanjiran order, konsentrasi dalam menjaga kreativitas pun lumayan melelahkan. Baru selesai mendesain kue ultah bertema A, langsung lanjut ngegarap 300 cupcake tema B. Selesai cupcake tema B, lanjut membuat cupcake tema C. Dalam waktu yang bersamaan, terkadang harus disambi memanggang kue yang lain. Karyawan yang mengerjakan pun kadang ga terhindar dari visual eror. Kalo moodnya udah turun, warna yang dihasilkan jadi nggak matching😀

Sebagai apresiasi dari kerja mereka bulan ini, gue janji untuk ntraktir makan. Nungki, salah seorang baker kita langsung menyebut SUSHI MIYABI. Gue penasaran kenapa dia semangat banget pengen ke situ. Ternyata… ini restoran sushi milik Tenku Ryan dan Shireen Sungkar, dua artis sinetron paporit doi!!! Jiaaaah! Gubrak dah!
Sebagai penikmat sushi roll dan makanan jepang fushion, gue nggak pernah tau tuh restoran bernama Sushi Miyabi. Yang gue kenal paling Sushi Tei, Sushi Groove, Kiyadon Sushi, Takigawa, dan Sushi Ya. Untuk makan sushi biasanya gue ke Sushi Tei dan Sushi Ya, karena dua tempat itu yang paling cocok untuk gue. Sushi Tei karena rasa dan suasananya gue suka, Sushi Ya karena harganya murah tapi rasanya enak dan tempatnya masih nyaman.
Tapi OK lah, demi menyenangkan hati karyawan gue berangkat aja semalem ke daerah Tebet, dimana Sushi Miyabi itu berada. Ternyata letaknya berada di area pertigaan yang penuh distro itu, jalan Tebet Raya deh kalo ga salah. Nggak jauh dari kafe Comic. Dari mulai nyampe aja gue udah ga sreg. Selain ga ada tempat parkir sendiri karena dia cuma satu ruko, tempatnya tidak ber AC tapi interiornya semarak warna merah. Ada yang duduk di dalem, ada juga yang di luar. Kedua, tampak kurang higienis. Lantai kotor, dan kalo ngintip ke arah dapur.. hiiy. Lantainya kotor, agak2 becek, dan rusuh. Plus nggak ada toilet. Kalo mo ketoilet harus make toilet pegawai di lt 2.
Melihat menu nya, sekilas terlihat variatif dan seru. Tapi sayang nggak ada yang spesial. Semua cuma tampak heboh di penampilannya aja, tapi bahan alias ingredients nya nggak banyak. Ini baru terasa ketika pesanan datang dan masuk mulut.
Gue pesan Crunchy Tuna Roll, yang keliatan seperti uler keket terus diatasnya ada semacam kremes gitu. Bagaimana rasanya?
Omaigad. B I A S A. Hambar!
Dan harganya 28 ribu untuk 6 potong. Ukuran roll nya memang lebih gede sedikit dari roll di Sushi Tei, tapi rasanya nggak beda dengan gulungan nasi pake tuna. Dan yang paling mengecewakan adalah mayones nya. NGGAK BERASA. Kalah abis sama Sushi Ya, apalagi disandingin sama Takigawa. Tewassss!!!
Terus gue nyobain Sushi yang dibeli si Nungki, Spicy-Spicy apaan gitu. Yaelah, RASANYA SAMA JUGA!!!
Kecapnya, yang menjadi penentu utama makanan jepang seperti sushi, juga NGGAK ADA RASANYA. Penikmat kuliner pasti tau rasa kecap Jepang yang sebenernya. Dibuat dari fermentasi kedelai murni. Nggak seperti kecap asin biasa yang dibuat dari fermentasi kedelai dicampur garam sehingga menjadi asin.Cabe kering bubuknya juga nggak pedes sama sekali.
Jadi apa dong yang khas dari restoran – eh – warung sushi ini?
Nyokap gue mesen Don Chicken Katsu (nasi dengan lauk ayam katsu diatasnya), dan rasanya cuma seperti nasi biasa pake ayam goreng katsu! Nasinya nggak legit, nggak ada rasanya, nggak seperti nasi-nasi di restoran pada umumnya.
Yang lebih parah, paket yang dipesen Lela, salah satu baker. Dia pesen Tom Yam Seikkoro apaa gitu. Nasi plus daging yang katanya dimasak saus blackpepper dan sup tofu rasa seafood. Itu daging udah potongannya kecil2, sausnya berasa kecap manis doang dan NGGAK ADA BLACKPEPPERNYA PULA. Nyokap gue berseloroh waktu kita beri tahu pelayannya soal hal itu, “nggak papa deh mbak, black pepper nya dibungkus aja!” Hihihihihi…..
Terakhir, kita nyobain eskrim kacang merah bungkus wafer nya yang berbentuk ikan itu. Wafernya melempem, eskrimnya nggak terlalu dingin, singkatnya: tidak istimewa.
Well, cukup sekali aja gue ke Sushi Miyabi. Tenku Ryan dan Shireen Sungkar harus kursus kuliner lebih lama lagi untuk mengembangkan bisnis restoran. Dalam bisnis makanan, rasa nomor satu. Mau dekorasi dan publikasi seheboh apapun, costumer return itu kuncinya adalah kualitas rasa. No wonder kalo gado-gado bang Kodir di pengkolan deket rumah gue tetep dicari dari jaman gue TK sampe sekarang.

Satu Tanggapan to “Makan sushi-sushi an di Sushi Miyabi”

  1. kaferindujurjani Agustus 10, 2012 pada 1:11 am #

    Nasehatin tuh mbak, teuku Ryan sama Serin hahaha

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: