Yakin mau kuliah di situ?

20 Jul

“Kenapa harus METU?”

Sambil melahap quesadilla-nya, dubes Turki itu menatap gua dengan pandangan seolah ingin mengatakan “dude, it’s not a good idea!”.
“Well, karena itu satu-satunya kampus berbahasa pengantar Inggris yang saya temukan di Turki, dan terjangkau untuk saya. Plus, menurut berita yang saya dengar, itu kampus bagus,” jawab gua.
Pak dubes menyeruput coca-cola nya lalu menatap gua serius.
“I am still sure that Bilkent is the best for you. Believe me!”
“Why?” tanya gue. Masih mengunyah sisa-sisa quesadilla terakhir.
“Aaarghh…. they are narcissists!” jawab pak dubes setengah berbisik, setengah berseru. Sumpah ekspresinya lucu banget waktu ngomong gitu, “mereka ngerasa mereka tuh yang paling pinter sedunia, tapi please deh.. kamu pasti kan kepengen sekolah supaya bisa diaplikasikan ke dunia nyata, kan? Kamu nggak mau pusing berkutat dengan teori-teori filsafat, kan?!”
“Ah, masa sih Pak? Katanya itu kampus terbaik?”
“Ya, di satu sisi bagus. Tapi menurut saya masih banyak kok kampus lain yang bagus, lebih open mind dan progresif! Orang-orang lulusan sana tuh suka kege-eran, dikira mereka udah yang paling hebat, padahal di luar negeri orang juga nggak kenal-kenal amat kok sama METU! Dan, please, your English is better than them. Believe me.”
Gue masih nggak percaya, “Lha, tapi kan mereka punya pusat pelatihan bahasa Inggris? Buat mahasiswa-mahasiswa yang English Proficiency nya kurang?”
Pak dubes mengangkat alisnya dengan kelopak mata seperti Garfield dan memandang ke luar jendela. Tangan kanannya masih memegang gelas cola. Lalu menoleh ke arah gua.
“Bahasa Inggris mereka tuh bahasa Inggris matematik! Mereka belajar bahasa Inggris secara matematis, text book. Dulu waktu saya masih bertugas di urusan luar negeri, saya punya kolega lulusan METU. Dia bangga banget dengan kampusnya. Suatu hari dia membuat pidato menteri luar negeri untuk hubungan bilateral, dan ketika teks pidato itu sampai ke saya untuk dikoreksi.. Oh my God! … Dia ngotot menggunakan kata “exploitation” dan bersikeras bahwa itulah kata yang paling cocok menurut kamus! Please deh? Dia nggak ngerti kalau kata eksploitasi itu berkonotasi negatif! Digunakan untuk pidato hubungan bilateral pula! Coba kamu bayangin muka-muka petinggi Uni Eropa yang udah siap menandatangani perjanjian kerjasama bilateral, kalau menteri luar negeri Turki menyebut kata exploitation…”
Kita ketawa. Lucu juga nih dubes. Smart, ramah, dan funky.
“Orang Turki itu baru bisa ngomong Inggris dengan benar kalau dia pernah ke luar negeri, atau sekolah di sekolah yang berbahasa Inggris dan masuk ke dalam budaya lain yang non-Turki. Saya sendiri baru belajar bahasa Inggris di umur 22. Dan waktu pemerintah mengirim saya untuk sekolah di Amerika, disanalah bahasa Inggris saya berkembang. Saya akui, writing dan reading saya lebih bagus dari speaking. Sampai sekarang saya selalu kurang pede dengan speaking saya.
Profesor-profesor di METU itu suka sekali dengan ideologi. Mereka akan berkutat dengan marxism, filsuf-filsuf jaman dulu, pokoknya kalau kamu suka dengan segala keribetan itu dan tenggelam dalam buku-buku teori, METU lah tempatnya!”
Gue manggut-manggut. Sebenernya ga papa sih kalau harus banyak membaca, toh jadi banyak tau. Tapi memang sih, gue lebih suka action daripada teori. Dulu gue banyak bergaul dengan orang-orang semacam itu. Aktivis yang hobi diskusi dan adu argumen sampe pagi hanya seputar “menurut filsuf anu” dan “menurut teori anu” tapi doing nothing for his own life.
“Hmm…baiklah pak, karena saya udah terlanjur apply ke METU, saya jalanin dulu saja interviewnya. Tapi saya akan datangi juga Bilkent, karena sudah janjian. Let’s see what happens.” kata gua.
***
Pulang dari Ankara, gue temukan perbedaan antara dua kampus itu. Profesor di Bilkent lebih santai, progresif dan terbuka dengan ide-ide baru. Dia tertarik dengan project2 yang pernah gue lakukan, bahkan dengan hal-hal nyeleneh yang gue temukan. Nggak seperti profesor di METU yang belum apa-apa sudah bertanya “kamu sudah tau teori-teori apa saja tentang media studies?” dengan pandangan angkuh.
Waktu gue menemui pak dubes di kediamannya dan mengatakan bahwa gue siap-siap aja untuk kuliah di METU walaupun mereka tampak konservatif, beliau agak kecewa. Gue katakan bahwa siapa tahu METU lebih cocok untuk gua karena dia dibawah fakultas ilmu sosial dan ilmu politik, sedangkan Bilkent di bawah fakultas senirupa dan desain. Pak dubes cuma manggut-manggut, tapi kemudian memicingkan matanya sambil tersenyum, “But I still believe that Bilkent is the best for you!”
Tiga hari menjelang pengumuman METU, tiba-tiba gue merasa sangat takut untuk kuliah di sana. Apa jadinya kalau nanti gue harus berkutat dengan teori-teori dan filsafat masa lalu yang bisa jadi “rubbish” untuk kenyataan di lapangan saat ini? Gimana kalau profesor-profesor itu mengintimidasi gue saat sidang tesis, hanya karena teori yang gue pake nggak cocok dengan teori favorit mereka? Oh dear. Jadi jiper nih untuk kuliah lagi!
Tiga hari menjelang pengumuman METU itu juga gue menemukan komik edisi bundel “The Life and Times of Scrooge McDuck” alias “Kisah Hidup Paman Gober”. Biografi Paman Gober yang rada-rada mirip dengan gua (bedanya gue nggak berenang di uang… haha) ini seperti petunjuk dari Allah yang muncul tiba-tiba. Mengingatkan gue pada beberapa hal penting:
1. Proses lebih berharga dari hasil
2. Jatuh bangun itu lama-kelamaan akan jadi hal yang biasa, bahkan menjelma menjadi bahan bakar yang lebih powerful untuk mendapatkan hal yang lebih besar
3. Kegagalan memberikan pengetahuan baru
4. Tidak mendapatkan apa yang kita kejar itu bukan kegagalan, tapi cuma “salah buka pintu”
Dan benar, tanggal 19 kemarin gue tidak melihat nama gue diantara 14 nama-nama kandidat yang lolos seleksi program S2 di website METU. Datang pula e-mail yang mengumumkan bahwa setelah menyeleksi 32 kandidat dengan sangat ketat, gue dan 17 orang lainnya tidak lolos.
Ha😀
Betul juga kata si dubes. Betul juga kata suara kecil yang berbisik di hati gua. Alhamdulilah, gue ditunjukan jalan yang terbaik! Setelah pengumuman itu, kurikulum program tersebut keluar di websitenya. Pas gue baca matakuliah dan daftar buku bacaan yang udah ditentukan… Oh my God😀
Dari bacaannya bisa gue rasakan betapa kuatnya pengaruh komunisme di sini. Bukan bacaannya yang jadi masalah, tapi sikap dan atmosfer riset akademisinya.
Apa jadinya kalau lulus dari sini gue hanya bisa menggaungkan kembali pemikiran-pemikiran masa lalu yang bisa jadi udah nggak relevan, dan bukan membantu masyarakat untuk lebih peka dan kritis terhadap bahaya paparan media massa?
Merdekaa!😀 Bebas dari deg-degan dibantai profesor METU, saat ini gue semangat lagi mengejar kuantitatif GRE gue untuk mencoba apply Spring Term nya Bilkent dan beberapa universitas lain. Selain itu gue juga lupa, ada program internship 6 minggu di dua think-tank terkemuka di Turki. I’m gonna try them too.
Masih di hari yang berdekatan, kabar baik datang dari kakak gue di Perancis. Setelah 2 tahun struggling jadi tukang cuci piring merangkap asisten koki sambil belajar bahasa sampai mendapatkan sertifikat DELF B2, akhirnya dia keterima juga di program S2 di L’Universite de La Rochelle! :)))
Perjuangan dia lebih gila lagi dari gua. Berangkat cuma bawa sekitar 3000 USD (atau Euro ya.. lupa), cari-cari kerjaan sendiri di Nantes sampe akhirnya dia resign karena fed up beberapa bulan lalu, hidup pas-pasan tapi alhamdulil
ah tetep bisa bayar ijin tinggal, beberapa kali ga lolos seleksi S2, ga bisa apply beasiswa karena IP S1 nya di Arsitektur dulu cuma 2,1 dan ga punya pengalaman kerja di perusahaan karena abis lulus dia terus berbisnis kue, akhirnya nemu jurusan yang ternyata cocok (nah ini baru pintu yang bener!) dan nerima dia: Master bidang Perdagangan Eropa-Asia Pasifik!
Siapa lagi inspirator kita kalo bukan Paman Gober??? :)))))
Selamat berpuasa semuanya, semoga semua doa kita bulan ini ijabah!
Semangaaattt!

4 Tanggapan to “Yakin mau kuliah di situ?”

  1. kaferindujurjani Agustus 9, 2012 pada 7:49 pm #

    Mbak…
    Ko saya baru baca…hadoooooooh

    Ah, lambat ni ngasih tau blognya, ah,
    Mbak, di mana mana, orang itu harus ngingetin, setau yg lalu, Jurjani sekali kali ngunjungi blog mbak yg katanya mau gulung tikar atau gulung ampar apalah , hahaha, kalo di ingetin gini kan saya jaÐi melotot ini, (sÀmbil terus baca, dan pengen baca hahaha) meski jam sudah larut,,, mata saya melotot terus ini mbak…..hahahahahaha

    Greaaaaaaaaaaaaat !!!!!

  2. Nora Juli 20, 2014 pada 8:12 pm #

    dari awal bacanya, serius. mbatin, “nambah wawasan nih”, “oh gitu….”, “jadi tau deh”

    Dan dibagian akhir berhasil nyengir lebar dengan jurusan kakaknya “Master perdagangan Eropa – Asia Pasifik”. emang ga sia-sia yah jualan kue😀

    btw, salam kenal. senang baca2 blog nya🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: