Nano-nano Ideologi di Turki

22 Agu

Tarik-menarik ideologi di Turki, menurut pengamatan gue, bener-bener nggak banget. Gimana nggak? Di negara yang katanya sekuler itu, fanatisme buta terhadap ideologi-ideologi tertentu masih banyak. Bayangin, sekuler, demokratis, modern, tapi nggak open mind dan toleran terhadap perbedaan kepercayaan orang lain. Jadi, apanya yang modern? *garukgarukkepala*

Ini yang bikin gue mikir sekali lagi untuk S2 di sana. Apa yang gue cari? Tentu pengembangan pemikiran, wawasan yang bertambah, dan memperkaya sudut pandang. Tapi di negeri yang pernah sekian lama berada di bawah kediktatoran pemimpin-pemimpin sekuler (baca: militer) (loh sekuler kok diktator yah), perbedaan ideologi adalah label yang akan menempel di jidat masing-masing. Gue inget waktu makan malam di rumah seorang Profesor , politisi yang juga mantan pejabat di partai terkuat saat ini, pertanyaan dalam obrolannya adalah, “So, what is your political view, are you left wing, right wing.. or?”. Dan ketika gue terbengong-bengong dengan pertanyaan itu, si Profesor ketawa dan berkata, “OK since you’re working in The Habibie Center I assume that you are in the center :)”.

Ini kok mirip “Apakah kamu Islam atau kafir” ya. Padahal, dalam hukum Islam sendiri aja muslim dan kafir sehari-harinya gak masalah untuk tetap bermuamalah. Tetap berbisnis, tetap bertetangga, dan tolong menolong untuk urusan sosial. Hanya urusan akidah saja yang “lakum diinukum waliyadiin”, “aku tak menyembah apa yang kamu sembah, dan kamu tak menyembah apa yang aku sembah”. Namun di Turki, persoalan bisa muncul kalau kamu seorang pendukung Erdogan atau bukan, pendukung partai komunis atau bukan, liberal atau bukan, bahkan fans Besiktas atau bukan (Besiktas itu klub sepakbola!).

Kalau menurut analisa gue sih, pemecah-belahan manusia seperti ini kelihatannya berawal ketika paham nasionalisme mulai dihembuskan di Turki dan Timur Tengah untuk menghancurkan kekalifahan Usmani. Saat itu daerah kekuasaan kalifah Usmani begitu luas, sampai ke Yerusalem. Sesuatu yang pasti bikin iri dan gerah kelompok-kelompok tertentu. Turki luas, mencakup daerah-daerah kaya minyak, jalur perdagangan yang “basah”, letak geopolitik yang strategis, dan tentunya: pemersatu umat Islam hampir di seluruh dunia.

Nasionalisme dihembuskan untuk memecah ‘ukhuwah Islamiyah’, sistem pemersatu berdasarkan ideologi dalam Islam. Bangsa Turki dihasut untuk membanggakan dirinya lebih hebat dari Arab, bahwa mereka adalah ras yang lebih cerdas (eh tolong ya, lo juga hasil percampuran berbagai bangsa kaleeee!) dan tangguh, nggak seperti bangsa Arab baduy yang bodoh dan terbelakang. Bangsa Arab dihasut untuk menarik diri dari orang Turki yang “sombong” dan “ingin berkuasa”, lalu menjual dirinya kepada Inggris demi kepemilikan minyak (yang dibagi juga untuk negara-negara Barat).

Setelah Turki pecah dan tinggal seperti sekarang, Islam sebagai ideologi pemersatu juga dirubuhkan oleh para penghasut tadi, dan muncullah sekularisme yang kata mereka “modern”. Gue pake tanda kutip, karena tindakan “modern” mereka ini gak beda dengan tindakan bar-bar kaum yang suka memaksakan kehendak. Masjid-masjid di tutup, madrasah di tutup, akses kepada kebutuhan rohaniah ditutup, jilbab dilarang bahkan orang yang berjilbab diejek “kampungan” (helloo… di Indonesia bejibun sosialita dan kalangan intelek berjilbab yang suka mondar-mandir ke luar negeri, di Iran bejibun ilmuwan-ilmuwan berhijab), akses menuju Mekkah dan Madinah dipersulit, dan orang dipaksa untuk meniru kebudayaan Eropa. Pemaksaan = modern? *anomali*

Padahal, terminology “modern” aja mereka belum mampu mendefinisikannya sesuai dengan akar sejarah budaya mereka. Kalau ukurannya hanya sekedar orang-orang bisa baca-tulis, apa bedanya baca tulis huruf Arab dengan huruf Latin? Kalau ukurannya cuma sekedar “pakai jas dan dasi” dan meninggalkan “fez” (topi khas Turki), lalu apanya yang modern? Kayaknya definisi “modern” mereka kehilangan sesuatu deh, yaitu…. “transition gap”.

Bicara sekuler, mungkin jauh lebih mendingan Perancis. Biar bagaimanapun, mereka masih punya “Liberte, Egalite, Fraternite” yang bisa dipakai untuk melindungi hak-hak asasi manusia. Termasuk hak asasi untuk beragama dan menjalankan kepercayaan masing-masing. Walaupun penggunaan simbol-simbol agama di sana dilarang kecuali di perguruan tinggi, at least orang nggak ngurusin kepercayaan lo apa.

Kaum sekuler di Turki juga aneh banget deh. Katanya modern, tapi masih aja nyembah-nyembah orang. Foto bapak sekularisme mereka, Attaturk, di pajang di mana-mana. Ngomong macem-macem tentang Attaturk bisa “dhuess”.. bahaya deh. Di puja-pujaaaa udah kayak Tuhan. Lah, ini sebenernya modern apa prasejarah sih? Kok masih kultus individu :D Tapi, sepertinya, pengkultusan individu juga suatu yang umum di Turki. Yang pendukung Erdogan banggaa banget sama doi. Kalau nggak dukung doi, nggak temenan.

Tercerabutnya masyarakat Turki dari agama (bersyukurlah kita yang masih tinggal di negara yang berdasar atas Ketuhanan YME – walaupun agamanya berbeda tapi masih tetap berusaha terus menyuarakan toleransi!) tampaknya membuat masyarakatnya rentan untuk mengkultuskan individu. Pada dasarnya manusia pasti selalu mencari tuntunan hidup, karena itu tokoh-tokoh seperti filsuf, teolog, ulama (baik yang bener maupun yang palsu), politisi, ramai diikuti oleh mereka yang haus rohaninya.

Bagi mereka yang percaya bahwa agama adalah buatan manusia, Turki mungkin bisa jadi ruang penelitian yang menarik. Di sana banyak sekali pengkultusan terhadap ulama (baik yang bener maupun yang palsu) dan tergabung dalam berbagai macam sekte. Salah satunya sekte si Adnan Oktar (ngetop dengan nama pena Harun Yahya) yang ngaku-ngaku Sayid (keturunan Rasulullah SAW) dan menulis berbagai buku tentang ajaran Islam (yang lebih banyak copy-paste nya daripada analisa sendiri) dan dijual ke seluruh dunia, punya bisnis penerbitan sendiri hingga stasiun tv sendiri (!) dan selalu dikelilingi oleh wanita-wanita cantik nan seksi di setiap program acara TV nya yang “berbau” Islam.

Pengkultusan berbau Islam ini mengingatkan gue pada kelompok Ahmadiyah di Indonesia dan yang lagi “in” saat ini, At Tijaniyah. Saking miskinnya pemahaman tauhid sekelompok umat Islam, bahkan pemimpin agama pun di puja-puja bagaikan nabi. Padahal dalam Islam, “Tiada yang berhak disembah selain Allah” itu udah jelas. Ga perlu kelewat bungkuk-bungkuk lah pada sesama manusia. Allah saja yang berhak membuat kita merasa kecil. Yang kaya gini emang cuma bisa dilakukan oleh orang-orang yang mau berpikir.

Lalu, apa orang-orang di Turki nggak mau berpikir? Nah ini dia yang menggelitik pertanyaan gua. Mereka pada bisa mikir ga sih?! Please. Di kampus negeri nomer satu di sana, seorang Profesor melayangkan pertanyaan berikut pada gue, demi ingin menunjukan bahwa dia lebih hebat dari gue: “Apakah artinya ideologi?”. Sebuah pertanyaan definitif yang sebenernya lebih pantas ditanyakan kepada siswa SMA yang lagi menghafal isi buku sosiologi.

Kampus-kampus di Turki, institusi pendidikan yang seyogyanya membuka kebebasan berpikir sekaligus menekankan aspek etika, saat ini masih bergulat dengan masih bisa-tidaknya ia menjadi basis ideologi kelompok-kelompok tertentu. Ada kampus yang liberal banget, ada yang komunis banget, ada yang sekuler banget, dan ada yang berbasis Islam. Sejak partai AKP berkuasa, segala bentuk intimidasi dan perlakuan diskriminatif terhadap mahasiswa berjilbab ditiadakan. Kebebasan menjalankan agama pun diberikan. Namun, walau secara hukum  hal ini sudah disahkan, masih aja ada beberapa kampus yang dosennya melakukan diskriminasi. Kalau ketahuan pakai jilbab diluar kampus, jangan harap nilai bagus. Jangan harap nilai cepat keluar. Jangan harap tesis cepat selesai. Ini nggak bohong, gue pernah nonton mahasiswa Indonesia yang pakai wig di dalam kampus tapi ketahuan pakai jilbab sama dosennya di luar kampus, menceritakan pengalamannya di program acara “Bukan Jalan-Jalan Biasa” di TV One.

Pengalaman gue waktu interview di kampus nomer satu di Turki pun menguatkan pandangan ini. Profesor nggak perduli pengalaman kerja di lapangan, gak ngerasa perlu melihat perbedaan nilai dan budaya yang sepatutnya jadi bahan pembelajaran yang bisa memperkaya wawasan. Yang penting lo baca buku-buku ideologi gue atau tidak. Lo pemuja Marxisme atau tidak. What a shame.

Di taraf mahasiswa, perbedaan ideologi ini juga cukup keras. Bentrok antar mahasiswa sosialis dengan mahasiswa liberal kerap mewarnai kampus. Suatu hari gue pernah ikutan lari keluar dari Sihiyye, ketika kampus Ankara University dijaga oleh polisi anti huru-hara gara-gara dua demonstran kelompok tersebut saling lempar batu. Ini beda banget dengan mahasiswa di Jakarta yang berantem cuma gara-gara cewek, atau sekedar meneruskan tradisi tawuran.

Tarik-menarik ideologi di Turki sangat kuat, tidak seperti di Indonesia yang cenderung lembek. Jika tarik-menarik ideologi partai politik berbasis Islam di Indonesia dengan partai politik lainnya masih ditaraf saling ejek dan perang opini, di Turki sudah lebih keras. Ketika rezim sekuler militer Turki masih berkuasa, siapapun yang berani menentang masuk penjara atau dihukum mati. Di Turki ada bekas penjara yang sekarang jadi museum, dimana dulu banyak memenjarakan para jurnalis. Ketika partai berbasis Islam, Refah, menang, rezim militer sekuler yang nggak terima melakukan kudeta tak berdarah yang memanfaatkan media massa sebagai penyebar fitnah. Caranya adalah dengan menjebak salah seorang pemimpin sekte Islam (namanya juga sekte, pasti ajarannya palsu lah) yang nggak ada hubungannya dengan partai Refah dengan seorang wanita cantik yang mau tidur dengannya. Lalu rumah tempat berbuat mesum itu digerebek dengan membawa kamera televisi dan disiarkan ke seluruh Turki. Masyarakat Turki yang taraf literasi medianya rendah saat itu pun terhasut, bahwa partai berbau Islam pastilah juga munafik seperti sekte tersebut.

Satu hal yang menarik bagi gua, bahwa di sana siapa saja yang punya modal dapat dengan mudah memiliki stasiun televisi sendiri. Stasiun TV di sana bejibun, dengan ideologinya masing-masing. Mau yang Islami, ada. Mau yang liberal, ada. Mau yang moderat, ada. Mau yang sekuler atau komunis, ada. Bahkan sekte-sekte ngaco macam Adnan Oktar itu pun punya stasiun TV sendiri. Ada websitenya, ada fans club nya, dsb. Saking bebasnya, nggak ada Watchdog nya. Nggak ngerti deh gimana taraf literasi media masyarakat di sana.

Yang pasti, Turki menarik untuk dijadikan ranah penelitian. Tapi, jangan dengan dosen di sana🙂

4 Tanggapan to “Nano-nano Ideologi di Turki”

  1. rahmabalcı Agustus 27, 2012 pada 5:49 am #

    ınget adnan oktar bıkın empet..aye pernah tuh dı tegor sama salah satu suamınya gelın ındonesıa..krn lakınye fans beraaaad nı adnan oktar..ampe dıceramahın dı Fb :gara2 lakı aye sı kepalasuku*yg walo bkn klsnya sı bapak dıplomat ıtu..tp dıa jg ga bego2 amat dan ngıkutın sepakterjangnya sı adnan..ıkutan gemes lalu nebeng komen dı status fbnya dı temen yg bangga2ın sı adnan ını..ealahhh lakınya ngamuk..langsung dah kırım message ke saya: marah2 duehhh..*katanya ngapaın tuh lakı lu komen dı fb ıstrı saya* laahh trus dıa jg ngapaın message fb ıstrı orang coba😛 kasıh berbagaı lınk ttg harun yahya bıar katanya kagak ke makan fıtnah mentah2..ehmmm pas kapan gıtu lakı aye nemu tuh lınk sı adnan malah asyık ındehoy futu2 sm anggota kabınet ısr*** hehhe.. oh ya mengenaı sekulerısme..lebıh empettt lagı noo dı corum-.- apalagı udah nyangkut alevi*alewı sı pengıkut alı katanyaaaa*yg rata2 mereka pemuja sı bapake turkı **pan jaman sekolah..kelıatan banget nı org alevi agak belagu* suamı dulu punya guru..dıa alevı dan pecınta bapak turkı sejatı plus partaınya sı ch* bahh urusan nılaı sekolah aja bısa dıpermaınkan ya buuuu..gara2 lakı aye bkn alevı dan pecınta sekuler..parahhh tenan lah..*ıh jadı pengen curcol** enıweı kalo nı dıtulıs dı kompasıana kayaknya bakal heboh:)) apalgı dı tulıs dlm bhs turkı gıtu..huaaaaaa jgn2 ntar dı blacklıst ga bs masuk turkı:P

    • aryatidewihadin Agustus 27, 2012 pada 8:41 am #

      Hehehe iya emang makan ati lah kalo berurusan dengan ideologi di sono… masih mendingan di Indonesia, walopun kayanya kita juga sering diadudomba, tapi belom separah di turki.

  2. rahmabalcı Agustus 27, 2012 pada 5:51 am #

    but aye suka..jadı ‘pencerahan’ nıceee:))) muuahhh..ıya soalnya empet sama futu2 segede gaban muka seremnya sı bapak ıtu

  3. oenoen Februari 8, 2013 pada 1:45 am #

    ssiippp nih, wawasan baru bagiku boz, like this
    lagi cari2 film2nya harun yahya nemu informasi sangar kayak gini, jadi betah lama2 disini :top deh: ^_^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: