Visa Pelajar ke Perancis

Kalo ada yang pernah baca Asterix, pasti kenal dengan tokoh Capeloyonix. Itu aki-aki tua yang bungkuk, kecil, pendek, pake tongkat, bini nya muda dan bohay, tapi dia sendiri tukang marah-marah. Mukanya kayak gini:

g03bMata kecil naik keatas, tatapan tajam, alis juga naik keatas, idung gede bengkok tapi luas mukanya sempit. Pokoknya ngajak berantem dan naik darah, lah. Nah, seperti itulah petugas visa di konsuler Perancis yang gue temui kemarin.

Gue dateng pagi-pagi, jam 8.30. Bisa dibilang gue tamu bagian visa yang pertama kali datang. Pertama gue serahkan semua dokumen yang diperlukan ke loket disebelah kiri, ke mbak-mbak yang cukup anggun dan lembut. Lalu membayar Rp.1.230.000. Dokumen itu sudah diperiksa di Campusfrance, dan gue juga sudah melewati tahap wawancara di Campusfrance sehari sebelumnya. “Silahkan duduk dulu, nanti dipanggil. Monsieur (dia nyebutin nama petugas yang mirip Capeloyonix itu) nanti mau tanya-tanya sebentar.”

Kemudian muncul si Capeloyonix di balik loket sebelah kanan, dengan gaya arogan seperti penuntut umum, “Anda mau berangkat kapan?” katanya. Gue jawab “18 Januari.” Lalu dia menghilang ke dalam.

Lalu dia keluar lagi dan menunjuk gue. Gitu gayanya petugas visa. Tunjuk, dan ciptakan rasa terintimidasi. Dan gue ditanya-tanya dari mulai kenapa mau ke Perancis, kenapa mau belajar ke Perancis, pokoknya semua pertanyaan seperti waktu di Campusfrance. Lalu dia tanya, gue lulus tahun 2004 tapi kenapa mau belajar lagi, sebelumnya ngapain aja. Gue jawab gue kerja. Sekarang mau kuliah lagi supaya bisa ngembangin karir gue. Selama bertanya dia pasang tampang arogan dan intimidatif. Cukup untuk merangsang perasaan pengen nyentil.

Pertanyaan yang akhirnya bikin gue nyaris meledak adalah “Di Paspor kamu tercantum banyak cap imigrasi Turki! Mana Visanya?!”. Gue jawab “Ga ada visa, karena itu visa on arrival!” . Eh dia ga percaya, “Ga mungkin! Kamu ngapain di sana?”. Gue jawab “Liburan!”. Dan dia mencecar dengan pertanyaan-pertanyaan yang bikin gue pengen marah ketimbang nangis, “Tapi mana visa on arrivalnya? Kamu ke mana waktu itu? Gak mungkin kamu  bisa berkali-kali masuk Turki tanpa visa!”. Gue tetep kekeuh dong dengan jawaban gue “Visa on arrival, Sir! Itu perjanjian antara Turki dan Indonesia!” “Ah tidak! Kami pernah bikin visa untuk orang yang pernah ke Turki, mereka punya visa nya! Iya, kan (dia nengok ke petugas visa orang Indonesia disebelahnya, yang cuma diam)”. Gue ga mau terpancing, tetep aja bilang “No, sir. I said the truth”. Dia tetep keukeuh juga, “Noo!” gue bales lagi “It’s true!” dia bales lagi “No!!!” Gue tetep aja nyerocos “It’s under 30 days! It’s since 2010! You can ask…” dan sebelum gue selesai ngomong dia udah menimpali, “Noo noo! I dont want to ask anybody!!!”

Kayanya ni orang butuh dildo, deh.

Tapi terus dia mengalihkan pembicaraan, dia memeriksa dokumen gue dan mengatakan bahwa referensi keuangan gue harus dilengkapi dengan rekening koran, dan gue ga bisa tinggal dengan kakak gue karena ukuran flat nya terlalu kecil. Gue harus melampirkan dokumen attestation d’hebergement yang lain hari Senin pagi.

Cuma mau ngomong itu doang ngapain juga ngurusin Visa negara oraaaaang??!!!!@#@$#

Keluar dari situ gue langsung hubungi Costumer Relations di Bank gue dan minta rekening koran segera. Lalu menelpon kedutaan Turki, yang alhamdulilah di terima oleh ibu-ibu konsuler yang cukup ramah. Gue ceritain kejadian di konsuler Perancis tadi, dan dia cukup heran. “Sebenarnya itu bukan wilayah otoritas dia. Tapi kalau nanti anda masih ditanya juga, anda print out saja website konsuler Turki di bagian Visa for Foreigners, cari Indonesia, dan kalimat tentang Visa on Arrival di bawah 30 hari nya anda highlite.”

Saran itu tentu gue laksanakan. Bahkan gue cari berita di Internet soal hal itu dan gue print. Lebih lebay lagi gue message pak dubes Turki dan ceritakan hal itu. Tapi doi balesnya baru pas sore, “What? When? Where? Please talk to my Consuler, Huseyin Bey!”. Biarin dah jadi gosip dikalangan kedutaan. Arogan banget sih ngurusin otoritas imigrasi negara orang!

Enaknya punya temen-temen diplomat adalah bisa mengkonfirmasi hal-hal kaya gini. Temen-temen gue yang di KBRI pun mengatakan hal yang sama “Aneh banget deh tu orang.” Harusnya doi tau kalo gak semua negara menerbitkan visa on arrival dalam bentuk stiker.

Tapi temen-temen gue yang udah di Perancis malah menanggapinya dengan santai. “Tenang aja, wii! Di Perancis ada JUTAAAN orang yang kaya gitu!”, kata seorang temen di Paris. Kakak gue bahkan bilang “Lo bakal banyak nemu yang kaya begini pas lo nyampe nanti! Tapi gue udah hafal. Ngadepin orang bitchy harus lebih bitchy lagi.”

Ah, gue akhirnya ga mau menciptakan stereotype. Mungkin aja tu bapak pagi-pagi belon sarapan, atau emang kerjaan nya lagi ribet, kali. Atau dia g*y.

Pasrah aja deh.

Iklan

9 respons untuk ‘Visa Pelajar ke Perancis

  1. AmeL berkata:

    Dooh pengen ditujes tujes banhetvtih orang! Rempong banget ngurusin negara laen..

    Waduh ada jutaan org kaya gitu di prencong?

    Eh apa hubungannya gay sama being bitchy? 🙂

    • aryatidewihadin berkata:

      Nggak semua orang perancis kaya gitu sih. Ini umumnya yang tuwir-tuwir aja, yang chauvinist nya masih kentel. Yang ngerasa negara dia adalah pusat dari dunia. Kalo yang muda-muda sih biasanya udah biasa berurusan dengan bangsa lain, jadi ga gitu-gitu amat.

    • aryatidewihadin berkata:

      Si Hollandais? uhm.. bukannya si Sarkoji ya yang rada gitu? Ah tapi apapun itu gue ngerasa tersinggung berat, seolah penghinaan terhadap orang Indonesia yang mau belajar ke sana. Dia pikir kita mau ngemis-ngemis idup di sana, apa ya? Sori berat deh negara gue lebih kaya dari mereka. Kalo dipikir-pikir, secara ekonomi tuh justru mereka yang sekarang butuh kita. Enak banget mereka kemari bisa dapet visa on arrival, sedangkan kita harus bayar mahal untuk ke negara mereka. Pake di perlakukan kaya gitu, pula! Ngehe kuadrat pangkat tiga…

      • I get it Comics berkata:

        di inggris juga begitu…terutama perangkat, kalau orang-orangnya sih tergantung juga karena disin ada EDL – English DEfence League..neo nazi versi Inggris lah…Ultra nasionalis.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s