Tahun Baru : Menuntut Ilmu itu Wajib Hukumnya

423774_3453441652468_418224531_n 2Duh, seneng deh bulan Desember 2012 sampe hari ini 1 Januari 2013 udara di Jakarta selalu sejuk! Hampir tiap hari turun hujan. Beberapa spot di Jakarta sempat kebanjiran, tapi kayanya sih nggak seheboh tahun-tahun yang lalu. Banjir cepat surut di sekitar daerah rumah gue.

Jadi sodara-sodara, hari ini udah 1 Januari 2013 aja. Setahun yang lalu gue berangkat ke Turki, berlibur sebulan dan merasakan salju. Bertamu ke rumah keluarga Turki dan mencicipi (baca: menghabisi!) semua makanan yang ada. Setahun yang lalu gue menerbitkan buku di Istanbul, kenalan dengan mantan deputi perdana menteri Turki, dapat teman-teman baru di Turki, balik lagi ke Turki di bulan Juni-Juli dan mengunjungi METU serta Bilkent University, bertemu profesor-profesor di kedua tempat itu walaupun akhirnya memutuskan untuk tidak sekolah di sana. Lebih seru lagi adalah di tahun lalu, gue dikenalkan pada duta besar Turki. Teman-teman diplomatik gue pun bertambah. Di penghujung tahun 2012 nyokap gue alhamdulillah berhasil transplantasi kornea, memperoleh kembali penglihatannya yang semula kabur. Dan perubahan plot yang cukup ekstrim adalah; gue memutuskan untuk ke Perancis.

Ya Allah, di minggu pertama tahun 2013 ini katanya gue udah bisa ambil visa. Semoga si Pak Rauch yang (keliatannya) kerjanya overload itu menepati janjinya di telpon minggu lalu. Gue benar-benar ga kebayang apa yang akan terjadi di sana nanti. Asli nggak tau. Gue nggak punya kedekatan emosional apapun dengan Perancis seperti waktu gue mau berangkat ke Turki. Terakhir ke Paris udah berabad yang lalu, tahun 1995. Itupun ga ada yang gue inget selain foto-foto di Eiffel, beli crepe di ketinggian Eiffel sekian dan rok gue terbang-terbang karena angin kencang. Gue nggak inget Montmarte, ga tau Moulin Rouge, karena cuma 2 hari satu malam di Paris dan itupun pake bis turis.

Satu hal yang tetap membuat gue jalan terus adalah hati kecil gue. “Mahluk” tak berbentuk bernama jiwa itu, dari gue kecil, selalu menodongkan “pistol” nya di pelipis gue dan berkata, “Berangkat, Dewi. Lintasi bumi ini dan temukan ilmu itu.”. Gue ga tau ilmu apa itu yang harus gue temukan, dan di mana. Bertahun-tahun gue mencarinya dan belum berhasil. Banyak sekali rintangan, jalan buntu serta jebakan betmen yang gue temui. Bener-bener perjalanan yang melelahkan, seperti game “Prince of Persia” (Eh?! Loh? Ada juga gue ketemunya Prince of Turkey! wkwkwkwkkw! :p).

Tantangan yang gue hadapi dalam menyusuri perjalanan ini salah satunya adalah tekanan-tekanan dari orang-orang yang berkata, “Ngapain sih sekolah terus? Nanti ujung-ujungnya juga ke dapur!”, ada lagi “Perempuan jangan terlalu ‘tinggi’, nanti susah dapat jodoh!”. Ucapan-ucapan seperti itu memang menyakitkan. Selain karena menuntut ilmu adalah hobi gue (dan hobi adalah salah satu HAM! Hore!), ancaman-ancaman seperti “Nanti laki-laki pada minder, ga ada laki-laki yang mau sama kamu” cukup bikin marah dan gundah gulana. Ujung-ujungnya gue mempertanyakan persoalan ini dari segi agama. Apa betul, perempuan yang getol sekolah itu ‘berdosa’ sehingga Allah akan mempersulit jodohnya? Apa betul seperti tuduhan “mereka”, bahwa perempuan yang rajin mengupgrade achievement nya itu akan kesulitan menjadi istri dan ibu yang baik, seperti ga akan mengurus suami, ga bisa masak dan lain sebagainya? Jujur, semakin banyak ilmu gue, justru semakin kepengen gue berhasil menjalani tugas sebagai istri dan ibu nanti. Tanpa pembantu, tanpa baby sitter. Karena gue udah punya dasar-dasar ilmunya dari psikologi, kesehatan dan gizi. Gak seperti orang lain yang ngempanin anaknya dengan makanan jajanan sembarangan lalu merasa udah berhasil ngurus anak karena anaknya berhenti nangis. Atau ngebentak anak sesukanya di muka umum tanpa meratiin perasaan si anak dan pembentukan konsep diri nya di kemudian hari.

Alhamdulillah, Allah tau, udah saatnya gue diberikan jawaban.

Dua hari yang lalu gue ngobrol dengan seorang teman. Girls talk, masalah karir dan jodoh. Kita berdua sama-sama sering mengalami tuduhan-tuduhan tadi. Bahwa kita ambisius, mengejar karir, mengejar gelar, dan sebagainya. Lebih sadis lagi, ditakut-takuti dengan “melanggar fitrah sebagai perempuan”. Teman gue ini kebetulan pernah dapat beasiswa S2 Hukum di Nottingham, UK. Sejak itu semangat nambah wawasan internasionalnya bertambah. Sama seperti dia, gue juga selalu antusias kalau mendapat pengetahuan baru tentang dunia. Tentang apa yang terjadi di belahan dunia lain, hubungannya dengan Indonesia, bagaimana pemerintah bekerja dan bagaimana sebuah kebijakan dibentuk. Kita lakukan ini karena kita perduli dengan persoalan yang dihadapi oleh sesama manusia. Jadi, apanya yang melanggar fitrah?

Teman gue itu kemudian menyampaikan pada gue dua hadis. Yang satu hadis tentang menuntut ilmu, yang satu lagi tentang menikah. Udara sejuk di luar rasanya menyeruak masuk sampai ke dalam kalbu, waktu dia sampaikan hadis Rasulullah yang berbunyi:

“Mencari ilmu itu hukumnya WAJIB bagi muslimin dan muslimat”
(HR. Ibnu Abdil Bari).

Wajib. Berarti berdosa jika tidak dilakukan. Wajib. Berarti Allah bisa murka jika kita malas melaksanakan. Wajib, bagi muslimin dan muslimat. Berarti, perempuan pun dikenakan kewajiban ini. Kenapa orang harus melarang perempuan bersekolah, atau menambah ilmu dengan kursus dan sebagianya? Apa karena mereka lupa hadis ini? Atau karena mereka ingin perempuan melanggar kewajiban ini?

Menurut gue, suatu bangsa bisa tertindas itu salah satunya ya karena bodoh. Karena malas menuntut ilmu. Karena tidak punya motivasi. Terbelakang! Tapi coba deh liat, banyak kelompok tertentu yang hobinya protes sana-sini dengan defensif, bahwa mereka sedang “diserang” oleh kelompok lain, menyebarkan berita-berita sarat stereotip, menyebarkan semangat juang, tapi mereka sendiri nggak cukup melakukan apa-apa untuk menaikan kualitas sumber daya intelektual mereka.

Gue pernah baca di beberapa artikel, bahwa DNA mitokondria ibu lah yang di wariskan ke anak. Mitokondria adalah organel sel yang tugasnya memproses energi yang dibutuhkan manusia. Dia berasal dari sel telur ibu. DNA ibu yang cerdas menurun kepada anak. Jadi besarlah peran seorang perempuan terhadap kualitas intelektual anaknya kelak. Dan ini nyambung dengan hadis Rasulullah SAW yang memuji orang-orang yang memberikan pendidikan yang baik bagi anak-anak perempuannya.

Bagaimana dengan hukum menikah? Pendapat ulama tentang hal ini bermacam-macam. Sebagian mengatakan wajib, tapi sebagian besar menganggapnya sebagai SUNNAH. Hehehe.. gue jadi tenang, karena gue tunaikan dulu yang WAJIB, setelah itu baru yang sunnah ^_^ (Semoga Allah mudahkan, supaya yang wajib dan sunnah bisa berjalan beriringan)..

Iklan

2 respons untuk ‘Tahun Baru : Menuntut Ilmu itu Wajib Hukumnya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s