Paris, Here I Come!

7 Jan

Kata kunci itu bernama SABAR.

Surah Al Baqarah:

(153) Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan dengan sabar dan shalat; sesungguhnya Allah adalah beserta  orang-orang yang sabar. 

(155) Dan sesungguhnya akan Kami beri kamu percobaan dengan se­suatu dari ketakutan dan kelaparan dan kekurangan dari harta­ benda dan jiwa-jiwa dan buah buahan; dan berilah khabar yang menyukakan kepada orang yang sabar.

(156) (Yaitu) orang-orang yang apabila menimpa kepada mereka suatu musibah, mereka berkata: Sesungguhnya kita ini dari Allah, dan sesungguhnya kepadaNya­lah kita semua akan kembali.

(157) Mereka itu, akan dikurniakan atas mereka anugerah-anugerah dari Tuhan mereka dan rahmat, dan mereka itulah orang-orang yang akan mendapat petunjuk.   

Kurang lebih tujuh tahun gue jatuh-bangun dalam usaha mewujudkan cita-cita sekolah di luar negeri. Cobaan nya kurang lebih seperti ayat 155: ketakutan akan masa depan karena situasi hidup yang tidak se”sukses” orang lain, kekurangan harta benda (bokek cuuy! plus beberapa kali musibah kehilangan sejumlah uang padahal udah nabung dengan berdarah-darah), dan jiwa-jiwa (cobaan menghadapi misunderstanding dengan orang tua dan pandangan miring orang).

Selama itu gue beberapa kali mengeluh, dan nggak sabar. Gue ngerasa kok Tuhan nggak adil sama gue, yang udah rontok jiwa raga begini nggak juga dibukakan pintu kemudahan. Malah orang lain yang ga usaha apa-apa lebih mudah ngedapetin yang mereka inginkan. Gue marah sama Allah karena udah mengambil apa yang gue usahakan. Gue jadi lupa ayat 156. Dan gue sempet malas untuk mengerjakan ayat 153, karena udah terlalu ngambek dan apatis.

Padahal, kemenangan adalah milik orang yang sabar dan shalat. Jika kita hanya percaya pada satu otoritas, bergantung sepenuhnya pada-Nya, insyaallah kita menang. Ngga ada yang perlu ditakutkan. Nggak perlu gelisah. Karena Allah Maha Besar, kegelisahan kita cuma hal kecil bagi Nya.

Di ujung ayat 153, Allah menjamin bahwa Dia bersama orang-orang yang sabar. Seharusnya gue yakin hal itu, dan tidak pernah menyerah. Well, gue sih ngga pernah menyerah, cuma kadang ga sabaran aja kalo ada orang yang berusaha mendistract fokus gue itu dengan komentar-komentar yang menjatuhkan semangat. Apalagi kalo komentarnya dateng dari orang tua sendiri. Eh, ternyata, itu juga bagian dari ujian kesabaran🙂

Malam sebelum jadwal ambil visa, gue deg2an dan gelisah. Bagaimana kalo ternyata visa nya belum keluar juga? Bagaimana kalau ternyata visa gue ditolak? Apa yang harus gue lakukan kalo ga jadi berangkat ke Perancis?

Ayat 153 yang disampaikan dari seorang teman tadi malam membuat gue terdiam. Bisa nggak gue sabar barang sehari aja, mengendalikan emosi dan ketenangan, dan menyerahkan sepenuhnya kepada Allah? Kan, selama 7 tahun ini gue udah berusaha? Gue yakinkan diri gue, Laa Ilaaha Ilallah. Ga ada yang perlu ditakutin selain Dia. Dan Dia bersama gue. Ga akan menyia-nyiakan usaha gue selama ini.

Teringat lagi kata-kata temen gue, “Yakinlah mbak, karena yang mbak Dewi lakukan ini adalah jihad. Menuntut ilmu adalah jihad. Allah pasti membantu memudahkan jalan mbak Dewi.” Aduh, langsung terharu mendengar ini. Iya, yah. Gue niat menuntut ilmu kok. Hasilnya pun untuk orang tua. Dan orang banyak, insyaallah.

Lalu pagi tadi gue berangkat ke kedubes Perancis. Sepanjang jalan mengucap dua kalimat syahadat. Menyiapkan diri untuk menghadapi kejutekan petugas visa. Dan ketika baru mau masuk lift… berpapasan lah gue dengan si Capeloyonix!!! Dia melihat temannya, ibu-ibu staf lokal yang juga baru mau masuk lift bersama gue, dan tersenyum lebar dengan sangat ramah sambil berkata kepada temannya itu “Ah! On vous attende!” (Ah! Kita sudah menunggu-nunggu anda!). Yes, gue masuk lift, doi keluar🙂

Masuk ruang loket visa, dengan tenang gue bilang ke mbak-mbak di loket, bahwa gue mau ngambil visa. Doi terus nanya, “tanda terima nya mana?”. Alhamdulillah gue nggak lupa bawa tuh tanda terima pembayaran visa. Setelah gue kasih lihat, dia periksa di komputer, et voila! Dia ambil paspor gue di wadah plastik di rak dibelakangnya, woo-hoo! Visa gue udah jadi doong!🙂

This is it. First ending dari 25 tahun bermimpi, dan 7 tahun berusaha. Awal dari babak selanjutnya!

paspor dewi_VisaFrance

 

5 Tanggapan to “Paris, Here I Come!”

  1. Nurul Rochayati (@kaylanurul) Januari 8, 2013 pada 12:26 am #

    selamaaaaaattttt ^^ all the best ya wi
    dreams do come true yak

    • aryatidewihadin Januari 8, 2013 pada 9:26 am #

      Yes, they do! ^_^ I am one of the lucky ones who’s patient enough following this long game🙂

  2. experiencingistanbul Januari 9, 2013 pada 11:20 pm #

    Congrats jeng! Menghitung hr nihhhhh….
    Fotonya sekilas horror benerrrrrrrrr….logo di kepala loe keliatan sinar apalah itu, jd bayangin pantai selatan😛 *maap lose focus

  3. dini tauriadi September 12, 2013 pada 8:57 am #

    suka dengan gaya bertuturnya…. gak membosankan…..jempol jeng..!

  4. Dania Juni 15, 2016 pada 8:56 am #

    Subhanallah. Terimakasih banyak untuk cerita-cerita dan sharingnya ya Mba. Saya yang lagi down jadi semangat kembali, sampai curambay baca cerita-ceritanya. Bersyukur de nemu web ini. You’re a blessing from God. Keep inspiring ya Mba🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: