Perjalanan Panjaaaaang Menuju La Rochelle (2)

Di hari keberangkatan meninggalkan tanah air, beberapa titik di Jakarta mengalami kemacetan gara-gara bottle neck dan banjir. Jalanan rute bus bandara ternyata macet total, dan tidak ada satupun bis DAMRI yang mangkal di stasiun Gambir. Padahal, air di wilayah Jakarta Pusat sudah surut. Melihat orang-orang yang berkumpul menunggu bis bandara, beberapa omprengan atau taksi gelap memanfaatkan situasi. Dengan mematok tarif 75ribu rupiah, mereka menyatakan sanggup mengangkut kita dengan mobil Fortuner ke bandara lewat rute yang tidak biasa. Awalnya gue males karena nggak suka dengan gaya bicara supirnya yang “maaf” – danau toba banget – dan bikin gue nggak nyaman, tapi bokap memaksa daripada gue ngga jadi berangkat. Ya udah lah, walopun dengan ngomel2 dan saling adu mulut dengan sopir dan kernetnya, gue berangkat juga. Sepanjang jalan si supir ini ga berenti2 membanggakan dirinya yang berhasil mengantarkan banyak orang ke bandara dalam situasi kaya gitu. Rasanya pengen gue timpuk pake toa.

405991_10151269147183759_1523646582_n

Sampai di Tomang, kita dihadang macet. Sebenarnya permasalahannya cuma karena turunan di depan ada air menggenang yang cukup tinggi. Banyak mobil2 yang nggak berani dan mereka dihadang orang-orang yang sok nuntun mobil dengan meminta bayaran receh. Untung sopir gue cuek bebek dan segera menerjang air yang tinggi tersebut sampe bajaj-bajaj di sekitarnya pada terkena gelombang tsunami.. hahaha .. dan melaju lah kita dengan lancar jaya menuju tol Merak! Kira-kira setelah lewat Meruya atau Kedoya, mobil keluar tol dan masuk tol bandara. Rute yang cerdas. Dalam waktu singkat, kita sampai di bandara Soekarno-Hatta.

Hari itu Jumat, gue inget. Karena bokap solat Jumat dulu di musholla bandara. Sementara gue dan nyokap makan di Hokben. Hari itu gue manfaatkan sebaik-baiknya untuk menikmati quality time dengan orang tua. Kita punya banyak waktu untuk duduk-duduk dan makan bareng, tidur-tiduran di musholla tanpa harus terburu-buru berpisah. Sampai akhirnya gue harus check-in, dan saatnya gue berangkat. Pesawat gue take off pukul 18.00 menuju Dubai.

Sesuatu yang memang “udah jalannya”, selalu berlangsung tanpa cela, dan biasa aja rasanya. Ngga ada deg-degan, excited dan sebagainya. Unsurprising. Walau demikian gue sempet deg-degan apa yang akan terjadi kalau gue sampe di Paris, apakah gue akan bisa berkomunikasi dengna bahasa Perancis di bandara, apakah gue akan di-rasis-in orang di sana, apakah gue akan bermasalah di imigrasi, dsb. Bayang-bayang orang Perancis yang arogan dan rasis tetep melayang-layang di kepala gue.

Sampai di Dubai masih dini hari. Tapi bandara Dubai rame banget. Bandaranya lebih besar dari Doha. Gue masih berada di sekitar orang-orang berbahasa Inggris sejak gue turun dari pesawat. Tapi ketika gue tiba di gate penumpang yang menuju Paris, suasana mulai berubah. Orang di kiri-kanan gue semua berpakaian rapi. Nggak ada yang malem-malem dandan serampangan ala turis bule yang biasa gue liat di bandara manapun. Ngga ada yang tidur dipojokan bandara dengan sleeping bag atau duduk sambil ngucek2 belek atau menyelimuti dirinya dengan jaket sporty. Semuanya necis! Dari kepala sampe sepatu, semua orang tampil chic dan fashionable. Syal nya bagus-bagus, warnanya matching dengan jaketnya. Sepatunya bagus dan disemir mengkilat, ngga ada yang pake sepatu keds. Dan ini dia pengalaman pertama gue disambut oleh ke-Perancisan … : semilir wangi parfum vanilla!

Seperti yang gue rencanakan sebelumnya, gue akan turun di Paris sudah berpakaian mendekati style orang lokal, untuk menghindari kesan ‘pendatang’. Gue terlalu parno, mungkin. Dan alhamdulillah imigrasi berhasil dilewati biasa-biasa aja. Mungkin karena kita tiba di pagi hari, dan penerbangan yang tiba pagi itu banyak sekali. Bandara Charles de Gaulle rame kaya stasiun Gambir jam enam pagi. Gue nggak kesulitan menemukan bagasi gue yang beratnya 30 kilo-“POL”, lalu naik bis Roissy ke stasiun Montparnasse.

Paris bersalju. Brr… dingin nya, tapi gue mesmerized 🙂 Bandara CDG yang besar dan sibuk itu ditutup salju yang masih turun. Dari balik kaca jendela bus, gue menatap jalanan lingkar luar Paris sambil senyum-senyum sendiri. Wow, gue di Perancis cuy!

Aeroport Charles de Gaulle, dari bis bandara.

Bis bandara melintasi jalan lingkar luar menuju tengah kota. Menjelang memasuki Paris, muncul sms di hape gue. Ternyata Marvin, temen kakak gue yang lagi kuliah di Paris. Dia memang janji akan jemput gue di Montparnasse, dan nemenin gue selama nungguin TGV ke La Rochelle. “Udah sampai mana kak?”

Masuk Paris, I was mesmerized again. Aduh, Paris pagi! Musim dingin bersalju pula! Sayang gue ga foto gedung-gedungnya. Tapi kalo nonton film Un Monstre a Paris, kira-kira begini lah suasananya…(tapi bayangin bersalju).

791374_un-monstre-a-paris

Sampai di stasiun Montparnasse, ketemu Marvin, lalu dia ngajak jalan-jalan ke Eiffel, Arch de Triomph dan Notre Dame. Padahal waktu gue cuma sekitar tiga jam di Paris, dia memaksa “Tapi sayang mbak kalo nggak foto di Eiffel… mumpung lagi salju, nih! Bagus!”

Bener juga kata doi. Belum tentu minggu depan gue balik lagi ke Paris, secara tiket kereta ke Paris naik-turun mahalnya kaya tiket pesawat. Akhirnya kita naik metro ke Eiffel, dan mengabadikan “pose wajib” itu demi untuk mengabarkan kepada dunia.. “GUE DI PARIS LOH!”

819284_4928117373530_1735190133_o

Iklan

Satu respons untuk “Perjalanan Panjaaaaang Menuju La Rochelle (2)”

  1. andi algis berkata:

    hahahaha,…ceritanya lutu abiiiis,..mbak :D….ohya aku tulis lagi deh,…boleh temenan by facebook dunk mbak ,…sharing biaya kuliah dan info kerja tuk tambahan biaya hidup di perancis….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s