Kuliah di Luar Negeri Tanpa Beasiswa (2)

Kalau ada yang nanya bagaimana kehidupan gue sebagai mahasiswa di Perancis, gue ga bakal nyeritain hal yang sama seperti ‘pejuang-pejuang beasiswa’ di buku-buku macam Laskar Pelangi dan semacamnya. Gue ga mengalami yang namanya keliling Eropa sebagai pemanfaatan visa Schengen saat liburan. Gue nggak mengalami yang namanya foto-foto di berbagai landmark kota Eropa sebagai pembuktian bahwa gue ‘keliling dunia’. Gue nggak begitu leluasa belanja ini-itu karena mumpung lagi di Eropa. Dan sebagainya.

Di awal-awal bulan gue di La Rochelle, gue cuma punya baju-baju yang gue bawa dari Jakarta. Coat bulu angsa yang gue beli di factory outlet di Mall Artha Gading, satu coat wool yang gue beli dari gaji terakhir gue, dan boots yang segera jebol sol nya tak lama setelah gue sampe di La Rochelle. Tapi emang dasar rejeki perantau, kali ya, kejutan yang gue terima di sini adalah mendapat ‘lungsuran’ baju-baju winter dan boot gratis dari temen sekelas, ibu-ibu Thailand yang udah menikah dengan orang Perancis.

Soal belanja makanan, gue hampir ga pernah makan daging merah. Selain lebih mahal, daging halal beli nya harus di quartier yang banyak orang muslimnya, karena daging merah yang tersedia di Carrefour cuma daging giling. Gue lebih sering belanja sayur di Carrefour. Suatu hari, ada temen yang kerjanya jadi pelayan di restoran India, ngebawain tulang-tulang ayam yang masih ditempeli daging satu plastik gede. Lumayan, bisa dicampur dalam capcay! πŸ™‚

Belanja di Carrefour pun gue selalu beli produk “Carrefour discount”, produk nya CF yang dijual lebih murah. Mentega, gula, tepung, beras, sayur, selai, roti, semua gue beli CF discount.

Jalan-jalan ke luar kota pas weekend? Ah, nanti dulu deh. Mendingan jalan2 keliling kota aja dulu. Jalan kaki atau naik sepeda lebih murah. Nikmati aja dulu tiap jengkal kota bersejarah ini, toh pasti banyak kejutannya.

Paling seneng kalo ada teman atau tetangga yang pindahan. Soalnya mereka suka ‘melungsurkan’ barang2 mereka gratisan. Dari mulai sepatu, baju, alat rumah tangga, sampe makanan kering seperti pasta,teh,kopi, gula, minyak goreng dsb. Gue pernah siang-siang didatangi tetangga yang mau berangkat magang ke Kolombia, dapet deh tuh segala minyak goreng sebotol, gula, tepung, sayuran kaleng, bumbu, produk pembersih, sampe sendok garpu.

Tidak seperti teman-teman beasiswa yang lebih beruntung karena punya sumber pembiayaan setiap bulannya, yah rata-rata lebih dari 800 Euro lah sebulan – 1000an Euro deh rata-rata – gue harus super-super ngirit. Nggak tega lah kalau harus membenani orang tua, secara kurs Euro suka naik ga bilang-bilang. I have to find a job.

Mahasiswa di Eropa boleh bekerja dengan durasi jam tertentu per minggu. Ada yang pakai kontrak, ada yang nggak. Yang pakai kontrak misalnya jadi tukang masak, pelayan, atau tukang cuci piring, atau jadi cleaning service di hotel. Atau jadi petugas jaga di perpus kampus. Atau restoran Universitas. Yang nggak pake kontrak biasanya kerja-kerja kasar, dan nggak terjamin hak-haknya. Misalnya jadi cleaning service di restoran/cafe/bar yang juga harus mengeluarkan meja dan kursi serta menata nya di teras, membersihkan rumah orang, atau menjaga anak.

Pekerjaan kasar sebenarnya banyak, dan asal nggak gengsi semua orang bisa menemukannya. Tentu memerlukan kemampuan bangun pagi (karena restoran/cafe/bar kudu siap sebelum pelayannya dateng untuk buka warung), keterampilan nyapu dan ngepel cepat, tangan yang cukup kuat untuk mengangkat/menurunkan meja dan kursi, dan ketidak jijik-an membersihkan toilet. Kerjaan seperti itu rata-rata dibayar 10 Euro per jam, dan sehari rata2 memang dibayar 1 jam. Lama kerja tergantung kecepatan kita.

Alhamdulillah gue dapet kerjaan cleaning di sebuah Irish bar. Bar yang kalau pagi dan sore juga jadi restoran untuk sarapan dan makan siang ini ukurannya cukup besar. Kira-kira 5 x 25 meter… *kalau ga salah yaaa!* . Bangkunya banyak, berat-berat, karena dari kayu dan kayu jati. Toiletnya ada tiga: toilet untuk orang cacat, toilet cewe dan toilet cowo. Tiap pagi (baca: subuh!) sebelum kuliah, gue naik sepeda dari rumah ditengah suhu musim dingin. Kadang disertai angin yang bikin tu sepeda rasanya ga maju-maju. Kadang disertai angin dan hujan. Kalau lagi angin dan hujan kaya gini, lengkap sudah naskah cerita sinetronnya. Karena sebelum nyapu dan ngepel bagian dalam bar, gue harus ngeluarin meja dan kursi dan menata nya di teras depan, which is keujanan lah yaw.

Saat mengatur meja teras atau “neras”, biasanya sambil saling sapa dan ledek-ledekan dengan cleaning service di bar-bar sebelah yang juga lagi neras. Kalau ada yang kesulitan masang tenda, misalnya, kita saling bantu. Saat-saat neras juga jadi saat kita berinteraksi dengan aktivitas pagi kota kecil ini. Karena pas pagi buta itulah tukang sapu jalanan (lengkap dengan mobil sapu nya) membersihkan jalan, tukang roti langganan bar nganterin roti-rotinya, tukang koran nganterin koran dan majalahnya, dan tukang botol mengumpulkan botol-botol bir kosong dari tiap bar secara reguler. Di saat-saat tertentu, misalnya hari Jumat pagi atau di minggu-minggu yang ada pesta musik, acara neras bisa diganggu oleh orang-orang mabuk yang baru pada pulang dugem. Mereka bakal lewat berbondong-bondong atau sendirian, teriak-teriak ga jelas, minta bir padahal bar kita belum buka (atau bahkan nggak jual), atau sekedar iseng ngeledek kita yang lagi kerja. Kalau lagi begini rasanya pengen ngedorong bigot2 itu ke laut, secara bar gue memang pas dipinggir dermaga. Yang paling nyebelin pernah gue alami pas ada pesta musim panas selama seminggu. Orang-orang dari luar La Rochelle berdatangan dan mereka bertingkah overacting kalo abis pulang mabuk. Teras yang udah gue susun, tiba-tiba bisa berantakan lagi kursi-kursinya karena mereka lewat dan duduk-duduk di situ sambil ngelanjutin minumnya, lalu meninggalkan pecahan botol disekitar teras. Nyebelin, tapi yah , “c’est la vie πŸ™‚ ”

La Rochelle-20130616-00493

Di’garuk’ satpol-PP

Yang seru itu pas awal-awal musim panas. Orang-orang mulai pada gak sabaran untuk berenang, kali ya. Jadi beberapa kali selalu ada kasus Β orang mabuk kecemplung, mobil nyebur laut, atau orang mabuk yang buka baju rame-rame telanjang bulet terus nyemplung ke air sementara temen-temennya ‘hore-hore-ria’ di atas dermaga. Kalo udah yang terakhir ini, biasanya temen gue yang heboh. Sementara gue mengutuki diri kenapa juga gue ga bawa binocular supaya bisa ngeliat lebih jelas..hahahahhaa

Berenang (apalagi telanjang bulet) di dermaga Vieux Port di La Rochelle ini dilarang. Akhirnya suatu hari, ketika bocah-bocah mabuk ini lagi pada hore-hore, lewatlah mobil kamtib, dan mereka semua diciduk. Hihihi..kasian, baru mau seneng udah digaruk satpol-pp πŸ˜€ πŸ˜€ πŸ˜€

Selama liburan musim panas kemaren gue ngerjain dua bar yang bersebelahan. Walhasil berat badan gue menyusut, lemak-lemak menghilang, dan tangan gue jadi berotot πŸ™‚

Pemilik Irish bar gue adalah suami-istri Irlandia. Mereka ga punya anak, and they’re such a hard working couple! Irish bar selalu identik dengan olahraga, terutama sepak bola. Mereka berdua ternyata juga maniak bola dan rugby. Interior bar penuh dengan dekorasi sport, foto-foto pemain bola, gambar-gambar khas Irlandia, dan mereka punya kurang lebih enam TV flat besar yang menayangkan siaran olahraga. Irish bar gue ini ternyata cukup terkenal, selain bar disebelahnya yang sekarang jadi tempat kerja gue. Soalnya, tiap Kamis malam suka ada kuis, dan orang-orang paling suka nongkrong di Irish bar ini di musim dingin karena interior nya gede dan kalau mau nonton bola bareng di malam hari, tempat ini satu-satunya yang paling OK πŸ™‚

Gue juga pernah dapet kerjaan ekstra, yaitu ngebersihin rumah si pemilik Irish Bar. Mereka mau kedatangan sodara dari Irlandia, dan belum sempet bersihin rumah karena sibuk di warung terus. Lumayan juga ngebersihin rumah dengan 4 kamar, 2 kamar mandi, 1 ruang tamu sekaligus ruang makan dan 1 ruang barbecue dengan pintu-pintu kaca yang gede, plus lis-lis dinding dan pegangan tangga yang rumit, selama 3 hari, gue dapet duit tambahan. Kalau ada orang yang bilang gue ga becus bersihin rumah, sini gue sikat πŸ˜€

Kerja tiap pagi lama-lama melatih gue untuk berolahraga rutin tanpa sadar. Kalau nurunin berat badan di Jakarta gue kudu bayar untuk jadi member gym, di sini gue malah dibayar untuk menyusutkan berat badan dan membentuk otot dengan cara kerja jadi cleaning service πŸ™‚ Tiap pagi, gue ngayuh sepeda ke centreville kira-kira 15 menit. Masuk kelas biasanya rada-rada pengen tewas sih, hehe, tapi alhamdulillah gue lulus CUFLE dan lulus juga ujian DELF B2 nya.

Ada saat-saat dimana gue cuapppeeeeee banget dan pengen nangis rasanya. Itu pas liburan musim panas kemarin (baca= bulan puasa bok!). Ketika orang-orang berlibur ke luar negeri atau ke kampung halaman, gue tetep kerja tiap pagi dan harus ngadepin orang-orang mabuk yang lewat dan suka iseng. Β Belom lagi pas puasa kemaren, jari manis kaki kanan gue kepentok kaki meja di rumah, dan bengkak nyut-nyutan suakkiiitttt tiada tara. Nggak bisa pake sepatu, ga bisa jalan enak. Tapi HARUS kerja. Bayangin lah gue ngangkat meja dan kursi sambil menyeret kaki kanan, sementara gue harus ngerjain semuanya dengan cepat. Suatu hari, di bawah ujan, karena limbung, gue jatoh nyusruk bareng meja yang lagi gue dorong. Tepok tangan sodara-sodara….

La Rochelle-20140308-01457

Vieux Port saat matahari baru terbit. Pemandangan ini menemani pekerjaan saya tiap pagi.

Tapi untung gue masih ditemani “babu-babu” lainnya di kiri dan kanan gue yang lucu-lucu. Ada dari mereka yang ngerjain 2 bar tiap pagi, lalu lanjut jadi pelayan di restoran lain pas sore hari. Pemandangan didermaga tiap subuh juga sebenernya cukup indah. Apalagi pas malam lailatul qadr kemarin, bulan bersinar penuh dan cahayanya kaya bintang berkelap-kelip di riak air laut.

Pasar La Rochelle

Hiburan lainnya sepulang kerja, terutama pas lagi liburan atau weekend adalah jalan-jalan menyusuri centreville dan melewati toko-toko yang belum buka sambil menikmati arsitektur kota tua yang antik, diselimuti udara sejuk dan cahaya matahari yang anget. Biasanya gue akan jalan kaki sampe ke pasar, dan menikmati keramaian di sana. Orang-orang tua belanja sayur, ikan, udang, roti, selai, madu, dll. Pasarnya ada yang di dalam ada yang di luar. Yang paling seru tentunya pasar lapak di luar. Kadang ada yang jual masakan udah jadi buat makan siang. Ada juga yang jual peralatan rumah tangga atau baju-baju. Di dekat pasar juga ada cafe-cafe. Orang-orang sekitar situ biasanya nongkrong untuk ngopi dan sarapan.

La Rochelle-20130525-00416

Coffeeshop langganan saya, “Columbus”. Harganya bersahabat. Abangnya udah tau kalo saya kerja di bar deket situ. Heheh.

Kedai kopi adalah tempat orang Perancis rata-rata sarapan. Sarapan orang Perancis gak jauh dari kopi dan pastry. Kadang, kalau lagi pengen menghibur diri, gue juga mampir ngopi sepulang kerja. Dengan 2 Euro, gue bisa menikmati secangkir kopi espresso dan sepotong croissant atau pain du chocolat. Paling seru kalau temen-temen ‘babu’ lainnya ternyata juga lagi ngumpul di kedai kopi yang sama. Maka pembicaraan seputar sapu, pel, dan sabun pembersih pun jadi hiburan kita untuk saling ledek πŸ™‚

Anyway, dari hasil kerja seperti ini alhamdulillah gue bisa ngirimin THR buat nyokap, pekerja di rumah yang bantuin nyokap, dan bayar zakat fitrah sendiri pas Lebaran kemarin. Dan bisa beli tiket pesawat untuk mengunjungi kakak gue yang lagi magang di Hamburg selama 10 hari (selama 10 hari ini kerjaan gue digantiin sementara sama temen gue).

Semoga rejeki lancar terus, ya Allah…

Iklan

10 respons untuk β€˜Kuliah di Luar Negeri Tanpa Beasiswa (2)’

  1. kotakamboja berkata:

    Hai kakak jenis visa apa yang kakak pake pertama kali kesana? kebetulan saya sedang di Aussy dan pengen ngelanjutin sekolah dengan biaya sendiri ke daerah Eropa. Mohon pencerahannya. Terimakasih πŸ™‚

  2. Medi berkata:

    Semangat mbak semoga kalian anak anak indonesia yg kuliah di mana pun tampa bea siswa dan hanya dpt uang saku pas pasan dr ortu selalu berbahagia dan semangat menjalankan nya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s