Ilmu Padi

16 Des

Pertama kali gue denger istilah itu waktu gue kecil. Lagi duduk sarapan roti di meja makan bersama almarhum om gue. Dia bilang, kalau gue nanti sekolah, pelajarilah ilmu padi. Batang padi itu semakin banyak biji padinya, semakin dia merunduk. Bulir padinya akan dia berikan untuk orang2 yang lapar. Tapi padi yang kopong biasanya berdiri tegak, ga punya apa apa untuk diberikan.

Seiring umur gue berlalu, gue saksikan fenomena itu. Ada orang yang berpendidikan tinggi tapi ternyata masih kurang ilmunya sehingga dia keliatan ‘chin up’ alias sombong.

Baru-baru ini gue dibikin bete oleh seorang kolumnis terkenal (bukan orang Indonesia), yang pernah jadi sesama penulis untuk sebuah buku yang terbit di Turki. Gue tau latar belakang dia hukum, lagi PhD di Leiden dan paham politik luar negeri. Bapaknya juga pengacara, politisi, dan kolumnis terkenal di Turki. Punya stasiun tv swasta.

Kebetulan gue lagi mau nulis mini thesis tentang hubungan dagang Turki dan Cina, dan pengen ngeliat dari sisi kebijakan ekonominya. Dan gue kirimlah inbox ke fb nya. Gue jelasin, begini2. Jawabannya sungguh bikin ‘jleb’: “if I might ask, have you google it?”

Ebuset! Kalo bukan karena gue butuh masukan dan info mah gue kaga bakal nanya elu, kali!

Gue bilang aja kalo gue udah mendownload beberapa publikasi dari OECD (organisasi internasional yg mendukung pasar bebas), dan pengen tau apa dia tau sumber2 lain yg bisa jadi referensi. Baru deh dia minta maaf, dan bilang dia lurang ngerti persoalan ini. Huh.

Gue jadi inget lagi tahun lalu, waktu gue lagi cari data untuk paper gue, gue bermaksud pengen mewawancarai seorang blogger terkenal nan kondang di Indonesia, yang sering diundang di forum-forum bahkan sampe masup tipi luar negeri, untuk memperoleh informasi ttg sejarah internet di Indonesia. Jawabannya enak banget : “udah nyari belum?” Dan ngga bales2 lagi.

Sementara itu, baru-baru ini gue dibikin surprise oleh seorang asisten profesor, masih muda juga dan cukup oke track record nya di sekitar negara2 Balkan karena sering jadi pembicara di forum2 internasional bahkan sampe parlemen eropa. Dia berasal dari desa di Yunani utara, dimana etnis nya menjadi minoritas dan mendapatkan diskriminasi akses pendidikan. Dia termasuk yg beruntung bisa sekolah keluar negeri sampe jadi PhD. Dan waktu gue kirim pesan berupa permintaan saran bagaimana caranya memulai thesis, dengan berbaik hati dia bilang “kita bisa chat sebentar kalau mau. Tapi saat ini saya lagi ada deadline tulisan. Besok malam jam 7 waktu istanbul, saya akan coba online.’ Dan benar, dia tepati janjinya hanya untuk menjelaskan gue step2 membuat framework tesis, ngasih tips2. Amazing. Padahal kita ngga kenal sama sekali.

Padi yang penuh bulir beras dan berguna untuk orang banyak, memang selalu merunduk…

3 Tanggapan to “Ilmu Padi”

  1. achmadfauzan Februari 2, 2014 pada 9:36 pm #

    mbak dewi banyak yg mau saya tanyain. kebetulan saya udah baca banyak tentang cerita2 mbak dewi di worpress ini. bisa kan ya kita temenan di facebook?

    achmad.fauzan20@rocketmail.com
    Achmaf Fauzan

  2. achmadfauzan Februari 2, 2014 pada 9:39 pm #

    atau email aja mbak: achfauzanooo@gmail.com
    sebelumnya terima kasih mbak

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: